
Rio mengenal suara itu, dia sangat familiar. Kemudian menoleh dengan penasaran.
"Ais!" Pekiknya kaget sekaligus tak percaya, terlihat jelas pipi gadis itu basah.
Ais hanya nyengir, kemudian Rio memeluknya erat. Tak seperti biasanya yang bersikap formal, Ais terlihat seperti wanita yang penuh perasaan dan kekawatiran.
"Terimakasih," Ucap Rio lirih.
Kamera dengan brutal memotret mereka, tapi Rio sama sekali tak peduli. Entah kenapa Ia begitu senang sekali melihat ais, jauh dari biasanya walau mereka sebenarnya sering bertemu di tempat tinggal Ais untuk membagikan makanan menggantikan Rey.
Kali ini beda, benar-benar beda dan ada sesuatu yang berdegub aneh, rasa-rasa yang belum pernah Ia rasakan dari sekedar rasa.
kemesraan mereka menjadi berkah tersendiri bagi para wartawan yang haus berita dan topik terkini, bisa untuk berita tambahan yang menarik.
Sepertinya orang-orang yang terlibat akan jadi artis, mereka sudah sangat terkenal sekarang. Diliput secara eksklusif.
Rio melepas pelukan dan menarik Ais untuk ikut bersamanya ke rumah sakit, Ais menurut dan pandangannya seketika tertuju pada Rey.
Ketika baru saja menginjak pedal, rombongan Pak polisi mulai muncul, seketika perhatian mereka teralihkan.
__ADS_1
Komandan dengan rambut licin langsung membusungkan dada dan menghadapi wartawan dengan senyum berbinar, sedangkan anak buahnya terabaikan dan mau tak mau mengantarkan ketiga gadis ke rumah sakit, sepertinya mereka juga ingin diliput.
Para wartawan segera mengajukan segala pertanyaan, dan tentu saja di jawab penuh semangat oleh Pak Komandan. Walau ada sedikit alur cerita yang dibuat-buat olehnya, Rio terkikik geli sebelum melajukan mobilnya.
"Untung aku datang tepat waktu, kalau tidak yah... kalian pasti tau hal yang lebih serius akan terjadi kan?" Kata Pak Komandan menyombongkan diri.
Setelah berkutat beberapa menit dengan wartawan yang heboh, akhirnya mereka berhasil juga membawa Merry yang dikerumuni dan di potret sana sini tak ada habisnya. Sepertinya Merry sudah sangatlah terkenal.
Beberapa detik kemudian, Bren, Om Hendra dan Steven yang masih syok karena ketakutan mulai melajukan mobil dan menyusul Rio yang berada jauh di depan.
Akhirnya, tinggalah sang komandan dan dua anak buahnya yang masih di sana. Setelah puas dengan Pertanyaan-pertanyaannya, para wartawan itu kemudian bergegas pergi yang sempat di tahan oleh Pak Komandan yang nampaknya belum puas membuat cerita palsu versi diri-Nya. Mengatakan bahwa dirinya yang paling berjasa, padahal datang sudah telat.
Tapi tak ada yang peduli dan memilih pergi, memburu berita yang lebih up to date.
"Kami harus ke Rumah Sakit untuk melihat kondisi Mbak Senja yang tertembak dan nasib ketiga gadis tadi!" kata salah satu dari wartawan yang berteriak karena riuh.
Pak Komandan baru tersadar, Ia terlena akan ketenaran sehingga lupa mengawal mereka sampai ke Rumah Sakit.
"Gawat!" katanya panik, "Jangan sampai orang pusat datang lebih dahulu dan aku tak ada di sana. Apa kata mereka?"
__ADS_1
Pak Komandan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menatap para wartawan yang mulai pergi dengan sangat frustasi.
"Ayo berangkat!" perintahnya pda dua anak buahnya yang tersisa.
***
Di Rumah Sakit,
"Tolong, tolong! cepat bantu kami!" teriak Rio memanggil siapapun di depan rumah sakit.
Beberapa dokter dan perawat langsung berdatangan, membawa bunker dorong dan berlari ke arah mereka.
Senja langsung di bawa dengan secepat mungkin, kondisinya sangat menghawatirkan.
Rey ikut mendorong bersama para Dokter dan perawat, sedangkan Rio berlari mengiring di belakangnya.
Rio sekilas melihat di layar televisi ada gambarnya, gambar semua orang yang terlibat dalam insiden itu yang terus dibicarakan tiada habisnya. Kemudian, sedetik sebelum dia kembali berlari melihat wajah Mawar dan Melati yang berseragam orange.
Ada salah satu orang di Rumah Sakit yang merekam mereka, sudah dipastikan sebentar lagi Rumah Sakit itu akan kebanjiran wartawan.
__ADS_1
"Aku akan dapat banyak uang dengan vidio ini," desah orang itu penuh senyum, kemudian mengirim vidio itu ke salah satu stasiun TV yang pasti akan membayar mahal vidionya.