Ruang Rindu

Ruang Rindu
Episode 88


__ADS_3

Razka Tirta Prasetyo, nama dengan artian anak lelaki setia yang membawa kelancaran rezeki layaknya air mengalir. Itulah nama yang diberikan oleh Mas Pras untuk putra kami.


Dini hari bayiku terlahir dengan selamat dan normal tak kurang suatu apapun. Usai aku melakukan inisiasi menyusui dini, dokter menyarankan aku untuk beristirahat terlebih dahulu.


Dan pagi ini aku terbangun, di tempatku sudah ada keluargaku yang telah berkumpul. Orangtuaku dan juga Kak Andri telah datang beserta Aqila dalam gendongannya. Tentunya ada Mas Pras yang selalu ada di sampingku, tapi kali ini pandanganku teralihkan pada boxs bayi di sebelah kananku.


Kulihat Aqila juga nampak antusias melihat adiknya dan tak lama terdengar suara tangisan bayiku namun hal itu membuat Aqila tersentak dan cepat berujar sambil jarinya menunjuk ke arah boks. "Adik angis."


Mas Pras dengan sigap segera mengambil bayiku dalam boks seraya berucap, "Kamu pasti haus kan sayang?"


Dengan perlahan dan bantuan Mama, aku beranjak dari posisi berbaringku. Menyanderkan punggungku untuk duduk dan bersiap menerima bayiku untuk segera menyusuinya.


Keadaanku yang sekarang memang jauh berbeda dengan yang dulu. Jika dulu aku membutuhkan waktu yang lama untuk berbaring pasca operasi sesar, kini setelah melahirkan normal aku bisa menggerakkan tubuhku meski dengan sangat hati-hati.


Kini di ruangan inapku hanya ada Mas Pras, Aqila, aku dan juga bayiku karena kondisiku yang tengah menyusui. Aku memandangi lekat bayiku, Mama dan Papa tadi mengatakan bayiku sangat mirip dengan Mas Pras dan aku hanya kebagian bulu matanya.


"Kak Aqila mau cium adik?" tanyaku yang sesaat mengalihkan pandangan menatap Aqila yang berada di pangkuan Mas Pras. Dia tampak mengerjap kemudian mengangguk dan dengan senang hati mendekat lalu mencium adiknya dengan Mas Pras yang tetap memegangi Aqila, mengantisipasi jika Aqila bergerak lebih banyak.


"Aqila sekarang sudah dipanggil Kakak. Senang gak?" tanya Mas Pras usai Aqila mencium ke dua pipi adiknya.


"Adik panggil Kila, Kakak?" ucap Aqila yang justru bertanya.


"Iya adik nanti akan panggil Aqila dengan sebutan Kakak," sahutku dengan mengusap lembut pipi Razka dengan jemariku.


"Seneng gak?" Tanya Mas Pras memastikan pada Aqila dan kulihat Aqila nampak tersenyum riang hingga tertawa cekikikan sebab Mas Pras tengah menggodanya.

__ADS_1


***


Lebih dari seminggu aku keluar dari rumah sakit, dan Mas Pras masih memperpanjang masa cutinya. Hanya sehari dia meninggalkanku karena di kantor ada pekerjaan yang mendesak. Tapi meski begitu dia tetap memberi pengawasan mempercayakan kepada Bik Mar.


Di rumah kini Mas Pras telah menambah satu orang asisten rumah tangga, untuk membantu mengerjakan tugas rumah.


Jika malam hari Mas Pras selalu siaga, membangunkanku kala tiba waktunya Razka merengek minta untuk disusui. Namun kalau rewel hanya untuk menggantinya popok, Mas Pras tak membangunkanku walaupun itu sampai pagi. Kadang bila aku terbangun yang kutemui adalah Mas Pras sedang menimang-nimang Razka kala tak kunjung tidur.


"Mas kenapa gak bangunkan Anna?" tanyaku yang berusaha beranjak dari kasur.


"Sebentar lagi Razka juga kembali tidur. Sudah, kamu berbaring saja," sahut Mas Pras yang tak mengijinkanku bangkit dari ranjang.


Padahal kupikir kondisiku sudah mulai membaik, tapi dia masih melarangku untuk tak banyak bergerak. Dan bahkan selama satu minggu penuh dia mengantarkan aku untuk hanya sekedar pergi ke kamar mandi. Walau pun aku tolak dia akan tetap memaksa.


Dari sini aku menatapnya yang telah bergerak berpindah meletakkan Razka dalam boksnya. Dia begitu telaten mengurus putra kami, padahal harusnya tugas-tugas itu yang ku kerjakan tapi semua seolah diambil alih oleh Mas Pras.


Mas Pras yang telah berbalik badan menatapku heran dengan alis berkerut.


"Mas pasti capek kan?" ucapku menggerakkan tanganku agar Mas Pras mendekat dan lalu kusambut dengan memeluknya erat.


"Aku beruntung memilikimu, Mas," ucapku berbisik ke telinganya sebab kali ini Mas Pras membungkuk hingga bisa aku mengelus kepalanya.


"Kamu baru menyadarinya?" sahutnya bergumam.


Aku tersenyum haru. "Iya karena aku bodoh jadi gak menyadarinya," ucapku dengan suara bergetar. Serta merta Mas Pras menarik diri kemudian menatapku. "Bukankah harusnya dari dulu. Bahkan aku baru menyadari bahwa Mas memang lah lelaki pilihan Papa yang terbaik untukku," sambungku yang justru kian menangis.

__ADS_1


"Dan yang Mas yakini saat pertama kali melihatmu, kamulah wanita yang tepat mendampingi hidup Mas," ucapnya dengan menangkup wajahku.


"Tapi Anna terlalu banyak kekurangan."


"Mas yakin setiap kekurangan bisa disempurnakan," sahutnya menyakinkan. "Mas butuh kamu untuk berdiri disamping Mas. Jadi pendamping hidup Mas. Kamu tahu, dengan kehadiranmu dan anak-anak kita, hidup Mas menjadi memiliki warna juga kalian lah masa depanku."


Aku pun mendongakkan kepalaku menatap manik matanya. Dan Mas Pras kembali berucap, "Akulah yang beruntung memilikimu." Kemudian mendaratkan bibirnya menciumku lembut.


Dan aku mencintaimu, batinku menyeru.


To be Continue


JANGAN LUPA DIKOMEN, DIVOTE JUGA KASIH KOMENTAR


jangan lupa baca cerita yang sedang on going, SENANDUNG IMPIAN


----+-------------+-----------+--


TAQABBALLAHU MINNA WA MINKUM


MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN


MOHON MAAF APABILA AUTHOR ADA SALAH KATA, BAIK UCAPAN MAUPUN TULISAN YANG KURANG BERKENAN DI HATI TEMAN-TEMAN SEMUA


SELAMAT HARI LEBARAN DAN SELAMAT BERKUMPUL DENGAN KELUARGA TERCINTA

__ADS_1


ARyanna


__ADS_2