Ruang Rindu

Ruang Rindu
Aksi Heroik Merry 2


__ADS_3

Beberapa detik semua terpaku menyaksikan ponsel yang memperlihatkan Senja yang terikat di kursi, tak jauh dari sana Steven masih terlelap di kursi roda.


Semuanya memekik tertahan ketika Mawar muncul dengan pistol kecil mematikan di tangannya, disusul Melati yang tampak asing bagi mereka semua.


Rey sendiri yang tak peduli akan kengerian di wajah Naila, Sifa, Bryan, dan Rio. Dia masih duduk santai bersandar di kursi seakan tak terjadi apa-apa. Satu-satunya alasan adalah sakit hatinya terhadap Senja.


"Lihat!" bentak Rio penuh emosi, menatap kakaknya Bryan yang termangu. Ia seperti tak percaya akan apa yang baru saja dilihatnya.


Bryan hanya diam ketika Rio meluapkan emosinya, karena memang ini terjadi karena kesalahan yang dibuatnya.


"Wanita psikopat, serakah dan jahat ini yang kakak cintai!?", Rio mengacak rambutnya frustasi, jelas Ia sangat kawatir dengan Senja dan Steven.


Bryan hanya diam, sedangkan Rey hanya melirik sebentar keributan antara Rio dan Bryan.


"Tega sekali kakak mengorbankan Senja dan Bryan dalam situasi seperti ini!"


Naila dan Sifa saling pandang, mereka masih fokus sesekali melihat siaran langsung yang sangat mengerikan itu.


"Stop!" teriak Sifa menengahi, membuat Rio segera mengendalikan diri dari emosinya yang mau meledak.


"Gak ada waktu untuk saling menyalahkan, nyawa Senja dan Steven dalam bahaya. Kita harus segera kesana!"


Naila hanya menganguk setuju, setengah kaget dengan ketegasan Sifa kali ini. Biasanya Ia manja dan lembek.


Tanpa ada jawaban, Rio segera mengembalikan ponsel kepada Naila. Menarik nafas dalam-dalam lalu menatap ke depan.


"Kak," bisik Naila setengah takut kepada Rey, karena dia adalah seniornya serta ketua BEM kampusnya.

__ADS_1


"Hem... "


"Pinjem ponselnya buat nyalain google maps, biar gampang dan cepat sampai."


Tanpa banyak kata, Rey segera menyodorkan ponselnya dan memberikannya kepada Rio di kursi kemudi.


Setelah memasang ponsel di posisi yang tepat, mobil mulai melaju dengan kecepatan tinggi.


Semua terdiam, terbenam akan kemungkinan-kemungkinan akan apa yang akan terjadi selanjutnya dan apa yang harus mereka persiapan dan lakukan nanti untuk menyelamatkan Senja dan Steven, juga Merry.


Hening menyelimuti suasana beberapa saat, kemudian Sifa dan Naila membungkam mulut mereka saking paniknya.


Dari layar ponsel terlihat Merry yang baru muncul setelah beberapa saat menghilang dari jangkauan kamera, puluhan ribu komentar masuk silih berganti. Sama paniknya dengan mereka sekarang.


Merry mengendap-endap dari arah belakang, sekilas Senja menatapnya seakan minta tolong.


Senja segera mengambil tindakan, Ia dengan sengaja memancing perhatian keduanya penuh terhadapnya tujuannya untuk memudahkan Merry melancarkan aksinya.


"Lepaskan Steven!" teriak Senja lantang.


Tentu itu akan sangat menarik bagi Mawar yang penuh dendam kepadanya.


"Sudah berani kamu!"


Plak!!


Satu tamparan mendarat di pipi Senja tanpa Ia bisa melawan sedikitpun, Melati langsung mengangkat wajahnya menghadap Mawar yang dikuasai ambisi.

__ADS_1


"Katakan sekali lagi!" tantangnya.


Senja melotot, tak sedikitpun memperlihatkan ketakutan.


Tinggal semeter lagi, Merry bisa memukul Mawar dan menjatuhkan senjatanya.


Tiba-tiba....


BUKK!


"Awh!..." rintih Merry terjatuh dan terpeleset dari genangan air, sepertinya Ia kurang hati-hati.


Ketika mendongak, pinstol sudah menempel di kepalanya.


"Jangan bergerak!, jatuhkan kayunya." Titah Mawar semakin bringas.


Merry yang menyadari tindakan bodohnya yang kurang hati-hati cemberut, menyesali tindakan yang tidak bisa Ia kontrol.


Merry segera membuang kayunya, sekarang Ia ikut jadi sandera.


"Aku tak menyangka, kau senekat ini gadis manja!" cemooh Mawar diiringi tepuk tangan Melati yang tampak begitu antusias.


Merry terpaku menghadap genangan air yang membuat rok indahnya kotor, sebenarnya Ia lebih takut kalau roknya kotor ketimbang pistol yang menodongnya.


Diam-diam, Senja mulai berusaha melepaskan tali yang mengikatnya tanpa disadari oleh Mawar dan Melati yang masih fokus memarahi habis-habisan tindakan heroik Merry yang sok jadi pahlawan.


Senja kini sudah terlepas, Ia mulai bangkit berdiri. Jelas tujuannya adalah diam-diam merebut pistol dari tangan Mawar, walau kakinya terasa kaki dan nyeri di gerakan.

__ADS_1


Kini Senja sudah berada sangat dekat di belakang Mawar, hanya beberapa jengkal sebelum akhirnya.....


__ADS_2