
Kini giliran dua juri mencoba nasi goreng buatan Rindu.
Nasi goreng dengan topping jamur kering serta suir ayam. Di sana ada tomat dan kubis, tak lupa pete menghiasi hidangan itu.
"Aku tidak mau berbasa-basi lagi, karena nasi goreng buatan Rindu selalu enak dan sangat mantap," ucap Erin.
"Cih mana ada, nasi goreng aku paling enak," sahut Rasta dengan kesombongannya.
"Hm, belum coba, belum tahu," cetus Rindu.
Rindu melirik ke arah Rasta yang melipatkan tangan di dada.
Rasta terlihat sangat sombong, membuat seorang Rindu mulai angkat bicara.
"Aku yang akan menang, jadi aku tidak mau banyak bicara."
Rindu membuat suasana hati Rasta semakin panas dan kesal. Dia jelas-jelas sudah mendapatkan poin terbanyak, tapi justru akan di kalahkan oleh Rindu.
Erin dan sang adik, sudah mencicipinya dan mendapatkan rasa yang lebih dari biasanya.
"Wah, maaf Kak Bagas, punya Kak Rindu lebih enak," ucap sang adik.
"Hm, punya Rindu lebih gurih dan penampilan tidak acak-acakan. Fix, pemenangnya adalah Rindu!"
Rindu tersenyum bangga, akhirnya dia di nyatakan sebagai seorang pemenang.
.
.
.
Beberapa menit berlalu ...
Setelah perlombaan ini, Rasta menjadi semakin penasaran dan ingin mengalahkan Rindu.
Dia tidak terima dengan kekalahan ini.
__ADS_1
"Heh, aku pasti akan jadi pemenang untuk perlombaan yang lain," ujar Rasta.
"Coba saja nanti!" jawab Rindu.
Setelah selesai memasak nasi goreng, yang mendapatkan juara adalah Rindu.
Dia berhak atas hadiah kehormatan berupa jalan-jalan dengan Rasta.
Ini hadiah terselubung yang di rencanakan oleh Erin.
"Rin, jangan aneh-aneh, masak iya aku sama dia jalan-jalan, ogah amat," celetuk Rindu yang mendapatkan hadiah itu.
"Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat, bukannya kau jalan-jalan?" cetus Erin.
Rasta yang memiliki rencana bagus, dia mengiyakan apa yang dikatakan oleh Erin.
"Oke, aku akan mengantar dia jalan-jalan ke manapun," jawab Rasta dengan senyum liciknya.
"Heh, kau ingin mengerjai aku ya?"
Rindu sudah bisa melihat raut wajah yang sangat licik, gadis itu mencoba untuk tetap tenang meskipun khawatir.
Rasta memang sangat menyakinkan jika menjadi seorang teman, dirinya menyukai travelling serta kuliner, dia cukup percaya diri untuk melakukan semua itu.
"Aku sebenarnya sangat malas untuk jalan-jalan denganmu, kau itu adalah orang yang menyebalkan!" jawab Rindu yang terlihat beranjak dari dapur menuju ruang tamu.
Rindu seperti teringat akan kisah cintanya yang sangat mengenaskan.
Dia kembali murung, duduk di sofa dan menonton televisi.
Rasta mendekati Erin.
"Rin, kenapa dia?" tanya Rasta.
"Bukannya aku sudah mengatakannya? kau bantu aku untuk membuatnya lebih bahagia," jawab Erin.
"Hm, memiliki salah satu cara yang cukup ekstrem untuk membuat pikirannya lebih sehat!"
__ADS_1
"Kau jangan terlalu banyak cara, dia hanya butuh hiburan dan teman yang menemaninya. Aku bisa melakukannya tetapi jangan pernah membuatnya kesal, aku percaya padamu!"
Erin menatap Rasta, dia seolah-olah menginginkan pria itu untuk menjadi salah satu teman yang dipercaya oleh Rindu.
Rasta memahami ini dan mencoba untuk menjadi orang yang lebih perhatian lagi.
Dia sebenarnya adalah seorang yang cuek, tetapi demi seorang Erin, temannya.
Rasta akan melakukan semua itu.
...
Pukul 16.00 ...
Dua orang itu pamit, Erin memberikan hadiah sebuah voucher belanja untuk Restu.
"Sebelum pulang, bawa ini dulu," ucap seorang Erin pada Restu.
"Yey! aku bisa belanja dengan mama!"
Restu jadi sangat bahagia karena satu hal, yaitu voucher belanja.
Rasta terlihat cuek saat Rindu tak mengantarnya pulang.
"Kau jangan tanya dia, dia pemalas!" ujar Erin.
"Siapa yang menanyakan gadis tidak jelas itu? aku hanya merasa dia orang yang terlalu idealis."
"Kau bisa mengajaknya jalan-jalan besok pagi, dia libur kuliah sabtu-minggu."
"Ya, aku akan datang dan memberikan hiburan untuknya."
"Haha, ini pasti seru Ras! tapi jangan terlalu dalam, kau nanti suka."
"Hah, mana bisa suka dengan orang seperti itu!"
Rasta yang awalnya simpati justru tidak memiliki perasaan sama sekali karena melihat rindu yang tak mau menghargai dirinya.
__ADS_1
*****