Ruang Rindu

Ruang Rindu
Bab 38


__ADS_3

Rasta terlihat linglung saat mendapatkan pertanyaan yang to the point seperti itu, dia merasa tidak tahu apa-apa.


Hanya saja dia teringat akan sesuatu yang telah berlalu.


"Kau lewat depan kampus waktu itu?" tanya Rasta.


"Iya, aku tahu, kau dan dia memang dekat. Jadi, aku memutuskan untuk pergi. Apalagi, apalah arti aku bagimu, sama sekali tidak ada," ujar Rindu merasa bahwa dia bukan gadis yang harus dipilih.


Rindu mencoba menahan air matanya, hanya saja sang pria, mampu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


"Rin, ada alasan aku berdua seperti itu! tolong kita tidak perlu bertemu lagi!"


Rindu makin sakit hatinya tapi mencoba untuk tersenyum.


"Ya seharusnya aku tidak melakukan itu, seharusnya aku tetap tinggal bersama pria yang mencintaiku! bukan pria yang aku cinta, selamat berbahagia dengan pilihanmu, maaf jika selama kita mengenal aku memiliki banyak kesalahan terhadapmu. Semoga kau bahagia dengan gadis itu!" jawab Rindu sebelum menetaskan air mata lalu pergi dari hadapan Rasta.

__ADS_1


Rasta tidak bisa menahan rasa sedihnya sebab orang yang paling paling ia cintai adalah Rindu.


Hanya saja, ada satu hal yang sangat di sayangkan, Rasta tak mampu mengatakannya sebab gadis yang merupakan sahabat dekatnya baru saja mendapatkan kemalangan.


Dia tidak akan meninggalkan manisan, gadis itu, akan dalam perlindungannya.


Rasta sengaja tidak mencegah kepergian orang yang sangat dicintai, sebab selama ini, dia sedang mempersiapkan diri untuk menemui momen seperti ini.


Sedangkan Beni dan Erin merasa heran dengan Rindu yang ingin pulang ke luar negeri.


"Kau sudah memikirkannya matang-matang?" tanya Beni.


Rindu benar-benar merasa sesak dadanya, dia tidak pernah menyangka akan mendapati momen yang sangat menyedihkan ini.


Rasta masih berada di taman belakang dan merasa frustasi, tetapi dia harus tegar dan tidak boleh menunjukkan bagaimana wajah yang sebenarnya.

__ADS_1


"Aku hanya akan kembali kepada Rindu ketika, sahabatku menemukan kebahagiaannya, Aku tidak akan meninggalkannya di dalam kondisi yang sangat menyedihkan ini karena aku adalah pria yang sangat sedih ketika manisan, benar-benar harus hancur untuk kedua kalinya karena seorang pria!" batin Rasta bertekad kuat untuk menahan perasaannya yang sudah menghubungi itu..


Dia sangat ingin bilang Aku cinta pada Rindu, tapi itu hanya tertahan di kerongkongan saja, ungkapannya sebab batasannya untuk mencintai Rindu sangatlah jauh.


Rasta menelpon Erin, dia memang tak mampu untuk menyampaikan hal ini kepada Rindu secara langsung, jadi mencoba untuk memberikan kode.


"Jangan katakan apapun tentang sahabatku yang harus ditinggalkan oleh calon suaminya dan aku menggantikan sebagai calon suami sahabatku. Rindu pasti semakin sedih dan terpukul. Jadi, katakan saja padanya untuk tetap bersama orang yang mencintainya!"


Pesan itu terkirim tapi tidak langsung dibalas oleh Erin, yang ada justru panggilan telepon dari sang ayah.


"Ada apa ayah?"


"Temanmu pingsan! dia ada di rumah!" ucap sang ayah di panggilan telepon.


"Manisan?"

__ADS_1


"Iya dia! dia baru saja berbincang bersamaku, tapi katanya pusing sekali, dia berpamitan untuk mengambil segelas air minum tetapi tak kunjung kembali. Namun, ketika aku susul, tiba-tiba saja dia sudah berada di lantai. Aku panik, lalu menghubungimu dengan segera."


*****


__ADS_2