Ruang Rindu

Ruang Rindu
Salah paham.


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju rumah Erin, cukuplah mereka saling bercerita, hanya saja Cahaya tak habis pikir dengan kisah rumit ini.


Bisa-bisanya takdir membuat Rasta dan Rindu bersaudara. Meski tak sedarah, tapi ibu Rasta sangat syok jika tahu ini.


Sang gadis juga paham akan semua ini.


"Ibumu bagaimana?" tanya Cahaya.


"Aku tak bisa menceritakan apapun kepada ibu karena ayah belum siap memberikan info, kami sepakat untuk menyembunyikan ini dulu, agar semua ini tak berimbas pada penyakit ibu. Ibu sudah dalam kondisi 90%. Jadi ayah memutuskan untuk tetap diam. Aku pun sama."


Rasta berbicara seperti orang dewasa, ini sangat menyenangkan sebab selama ini Rasta jarang sekali membuat sebuah situasi sulit menjadi lebih baik.


Pria itu lebih menyukai candaan, tidak suka hal yang serius.


Cahaya yakin, Rindu merupakan seorang gadis yang sangat berbeda dari yang lain.


.


.


.


Beberapa menit kemudian ...


Sampailah di rumah Erin, dia dan Rasta turun. Di sana sudah ada Erin dan Beni.


Cahaya dan Rasta buru-buru menemui dua sejoli itu yang ingin pergi entah kemana.


"Rin? Rindu mana?" tanya Rasta.

__ADS_1


"Dia pergi Ras, kejar dia!" jelas Erin.


"Astaga! kemana Rin? aku harus mencari kemana?"


"Dia baru saja membuat status di medsos saatnya lepas landas! di bandara kan dia, kita harus segera menyusulnya!"


Rasta sangat lemas, dia sebisa mungkin untuk naik lagi ke dalam mobil, lalu mencoba meraih kesadarannya.


"Dia pergi, benar-benar pergi, tapi dia tak cukup pandai menyembunyikannya! bagaimana harus membuat status di sosmed? dasar ceroboh!" batin Rasta.


Dia satu mobil dengan Cahaya, sedangkan Erin dengan Beni.


Dua orang yang berlibur ke pantai, langsung pulang setelah ada status di sosmed milik Rindu.


.


.


.


Dua mobil telah berada di depan bandara, mereka turun dari mobil dan mencoba bertanya pada siapa saja mengenai penerbangan yang baru saja lepas landas.


Sang pemberi informasi mengatakan bahwa pesawat yang baru saja lepas landas akan menuju luar negeri.


Rasta model lemas kamu tidak tahu kemana tujuan sang gadis.


Dia telah kalah, namun Cahaya akan membantu.


Dua sakit yang lain juga tidak marah semangatnya untuk membantu mencari keberadaan Rindu.

__ADS_1


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan banyak hal karena kami pasti akan membantumu!"


Hingga Rasta apa maksud bahwa ini merupakan salah satu tindakan yang terorganisir, dia merasa sang ayah tahu keberadaan Rindu.


"Rin pinjam ponselnya, aku ingin menelepon ayah!" pinta Rasta dengan wajah yang sangat marah.


"Baik Ras."


Sang sahabat menyerahkan ponsel itu kemudian meminta Rasta tak memarahi ayahnya jika benar sang ayah menyembunyikan keberadaan Rindu.


Dia mulai membuat panggilan.


"Yah, apakah ayah mengantar Rindu pergi ke luar negeri?" tanya sang putra.


"Apa maksudmu nak?" jawab sang ayah.


"Jangan berpura-pura sebab aku tahu yah!"


Rasta mengatakan dengan tegas jika ayahnya jangan menyembunyikan apapun.


Dia bisa nekat jika sang ayah tak memberikan informasi mengenai Rindu.


Namun, sang ayah tak akan memberikan informasi apapun mengenai Rindu, tidak ingin anak gadis semata wayangnya mendapatkan kebahagiaan atas pilihannya.


Sang ayah akan tetap bungkam untuk waktu yang tidak bisa ditentukan.


Rasta tak mampu berkata kasar kepada ayahnya sehingga dia mengalah.


"Baiklah! jika ayah tidak mau memberitahukan dimana Rindu berada, sampai ujung dunia pun aku akan mencarinya!"

__ADS_1


Itu janji Rasta pada seorang ayah yang menjadi ayah tirinya, juga ayah kandung Rindu.


*****


__ADS_2