
"Kenapa gak diangkat, siapa yang telpon?" sahut Vera yang bertanya padaku.
"Mas Pras," jawabku lalu mengangkat telpon. Memberitahukan bahwa aku dan Aqila masih berada di Mall, sedangkan dirinya mengatakan akan menjemput kami usai makan siang.
"Kenapa An?" Tanya Vera usai panggilan telpon berakhir.
"Mas Pras mau jemput setelah makan siang," ucapku yang kini menerima uluran botol minuman dari Aqila.
"Sudah hampir jam dua belas, kalau gitu langsung saja cari makan yuk," ajak Nisa dan kami pun menyetujui usulnya.
Kami kini sudah berada di restoran, kali ini Aqila memesan menu pizza dengan varian keju juga sosis sebagai topingnya. Dia begitu lahap menikmati tiap potongan pizza, sampai-sampai bibir dan di sekitaran pipi belepotan dengan saus tomat.
"Aqila suka?" tanyaku dan dia hanya mengangguki ucapanku dengan terus mengunyah makanannya. Membuatku geleng kepala lalu mengelus lembut kepalanya.
"Lahap banget?" ucap Nisa mengomentari.
"Pizza termasuk makanan kesukaannya, tapi gak boleh keseringan makan kata Mas Pras," sahutku lalu menyeruput minumanku.
"Pelanggaran dong hari ini?" sahut Vera.
"Sekali-kali dan asal gak makan banyak-banyak," kataku yang kini menoleh pada Aqila. Sedang Aqila masih sibuk makan.
Usai makan aku dan Aqila memutuskan untuk menunggu Mas Pras di kursi umum yang tersedia di Mall. Tadi sempat Vera dan Nisa berniat ingin menemaniku, tapi aku menolaknya dan mengatakan pada mereka barangkali Mas Pras akan segera sampai.
Namun pada kenyataannya setelah setengah jam Vera dan Nisa berpamitan lebih dulu pulang, Mas Pras justru belum juga muncul. Padahal Aqila sudah beberapa kali menguap karena mengantuk.
Aku yang tak membawa stroller miliknya pun kini hanya bisa membawa tubuhnya diatas pangkuanku dan benar saja tak lama Aqila sudah mulai terlelap.
Arah pandangku begitu gelisah, aku menoleh ke sekitaran berharap Mas Pras segera tiba. Hingga satu jam berlalu, wajahku sudah mulai suntuk sebab suasana mulai sedikit ramai, namun dirinya tak juga muncul. Tadi aku sudah mencoba menghubunginya lagi, tapi justru tak ada tanggapan.
Badan yang kurasa sudah mulai begitu pegal, ditambah rasa ingin buang air kecil membuat diriku kian jengkel saja. Hingga beberapa menit kemudian kulihat sosoknya mulai terlihat. Dengan langkah terburu dia mendekat padaku.
__ADS_1
"Lama menunggu?" ucapnya dengan disertai mengambil alih Aqila lalu menggendongnya.
Ya jelas lama, batinku. Hatiku sudah kesal, jengkel juga kecewa bercampur jadi satu. Yang jelas itu terjadi karena aku sudah menunggunya hampir satu setengah jam dan tak lagi bisa aku menutup-nutupi sikapku di hadapannya. Wajahku sudah begitu cemberut dan dengan tanpa sadar air mataku ikut larut menetes tanpa permisi.
"Anna, Mas minta maaf," ucapnya menatapku dengan wajah penuh penyesalan.
Aku memalingkan wajahku menghapus air mataku lalu mencoba untuk bangkit berdiri. Namun aku kini mendesis sebab yang kurasakan adalah rasa kram di sebagian perut juga kaki, mungkin itu disebabkan aku yang kelamaan duduk dengan posisi menopang tubuh Aqila di pangkuanku.
"Anna, apa yang terjadi?" tanya Mas Pras terdengar panik. Satu tangannya kini memegangi lenganku dan aku kembali terduduk.
"Mungkin kram, karena kelamaan duduk," sahutku ketus seraya berusaha meluruskan kakiku. Dan yang terjadi kini adalah Mas Pras berjongkok dengan sambil mengelusi kakiku sementara dirinya masih membawa Aqila dalam gendongan.
Dari menatapnya bisa kulihat dia nampak begitu menyesal juga merasa begitu bersalah, dia pun bergumam menyebutkan kata maaf.
Usai aku merasa enakan kini aku berucap, "Udah merasa lebih baik Mas, lebih baik kita pulang." Karena kulihat dia juga nampak kerepotan membawa Aqila yang tertidur pulas.
Mas Pras mendongak menatapku kemudian mengangguk. Usai berdiri, dengan satu tangannya dia mulai membantuku perlahan untuk bangkit berdiri.
"Mas kenapa memutuskan untuk menjemput kami?" tanyaku saat aku membantu membukakan pintu mobil, sedangkan Mas Pras mulai menidurkan Aqila di jok belakang.
"Karena kondisimu yang masih belum sehat," sahutnya dengan mengambil tas barang bawaan yang ada dalam tangganku lalu menaruhnya di bawah kursi jok mobil.
Aku mengangguk, dengan Mas Pras yang beralih menatapku kemudian berkata, "Kamu duduk di depan, Aqila biar tidur disini."
Usai berucap Mas Pras membantu membukakan sisi pintu mobil tempatku berdiri.
"Memang Mas gak ada kerja?" tanyaku usai mobil berjalan keluar dari area Mall.
"Ijin sebentar," sahutnya dengan sedikit melirik ke arahku.
Aku mengangguk dan kembali menyandarkan punggungku pada jok mobil. Kupikir memang Mas Pras tak akan bercerita lebih tentang pekerjaannya, apalagi mendengar alasannya tadi yang mengatakan dirinya meminta ijin sebentar. Rasanya aku ingin tertawa saja, dia kan bosnya. Ngapain juga pakai ijin segala, batinku.
__ADS_1
Lagian baginya tak penting juga bila aku tahu dirinya siapa. Toh kupikir, akulah yang harusnya sadar diri akan posisiku dalam kehidupannya. Bila bukan karena Papa, aku tak akan ada disini. Dan untuk memikirkan itu kenapa hatiku jadi sakit, sekarang justru aku menjadi merasa tak lagi percaya diri.
Ahh, dan aku benci dengan air mata ini yang lagi-lagi menetes tanpa permisi. Dengan cepat aku memalingkan muka, berharap Mas Pras tak tahu jika aku tengah menangis.
"Anna kamu kenapa. Mas minta maaf dengan apa yang terjadi tadi, Mas gak berniat buat kamu dan Aqila menunggu. Hanya saja tadi terkendala ada pekerjaan yang butuh penanganan cepat. Mas minta maaf," katanya menatap padaku dengan satu tangannya memegangi pundakku.
"Gak kok. Mas gak salah, mungkin memang karena Mas lagi sibuk dan banyak perkerjaan," sahutku dengan berusaha tak lagi menangis.
Mas Pras kemudian menarik tangannya dan kulihat di wajahnya masih nampak kekhawatiran. Dia lalu menarik beberapa lembar tisu menyodorkannya padaku. Dan mobil pun kini berhenti sebab kami tengah berada di lampu merah.
"Mas sendiri sudah makan?" tanyaku yang mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Belum, nanti saja kalau sudah sampai rumah," sahutnya lalu kembali menjalankan mobil.
Sementara kulihat jam di pergelangan tanganku sudah hampir menunjukkan pukul setengah tiga siang.
"Aku juga belum makan," celetukku asal dan serta merta Mas Pras membelokan mobilnya berhenti di bahu jalan lalu menatapku tajam.
"Ini sudah jam berapa?" tanyanya tegas. "Berapa kali Mas bilang sama kamu buat jaga kondisi. Kamu sedang hamil, anak dalam kandunganmu juga butuh makan," ucapnya yang mulai mengomeliku.
"Lalu, Mas sendiri kenapa juga belum makan?" sahutku merasa tak terima.
"Anna, kenapa malah mengalihkan pembicaraan?"
"Sama saja, aku belum makan begitu pula dengan Mas yang belum makan," kataku mencari pembenaran.
Yang kudengar Mas Pras berdecak kemudian menghela napas. "Kalau gitu kita cari makan dulu," ucapnya mengalah.
Sementara aku mengangguk dengan sedikit menarik sudut bibirku. Padahal yang terjadi sebenarnya adalah aku sudah makan, tapi mendengar Mas Pras yang mengatakan akan makan bila sampai rumah membuatku terpaksa berkata bohong.
Masih lanjut gak di part ini??
__ADS_1
Komentar dibawah, jangan lupa jempol juga Votenya agar aku makin semangat buat nulis kelanjutannya.