
Semenjak aku dan Mas Pras turun ke lantai dasar, aku seolah mendapatkan tatapan aneh dari Bik Mar dan juga Mbak Siti. Sorot mata mereka kurasa tak lepas memandangiku. Mungkin yang mereka lihat adalah aneh, sebab sejak aku keluar dari kamar tak hentinya tanganku bergelanyut di lengan milik Mas Pras.
"Erghmmm." Aku berdehem lalu tersenyum kikuk kepada mereka, berharap dapat berhenti dari pusat perhatian. "Sarapannya apa sudah siap Bik?" sambungku bertanya.
"Su—sudah Nyonya, langsung saja ke meja makan," sahut Bik Mar yang kemudian beranjak lebih dulu ke meja makan mempersiapkan keperluan makan.
"Aqila mainnya di tunda dulu ya, kita sarapan dulu sama-sama," ucapku yang beralih pada Aqila.
Aqila yang sedang sibuk dengan mainannya nampaknya tak menghiraukan ucapanku hingga membuatku mendengus kesal.
Satu tangan Mas Pras kini berpindah mengelus kepalaku. "Jangan cemberut begitu, harusnya kalau bicara dengan Aqila, kita mendekat," ucap Mas Pras yang kemudian menuju ke arah Aqila.
"Aqila makan dulu yuk," ajak Mas Pras yang sudah duduk berjongkok di depan Aqila.
"Kila lagi main Papa..." sahut Aqila yang masih tak memperhatikan bahwa Mas Pras telah disana.
__ADS_1
"Mainnya ditunda sebentar, Mama sama adik sudah nungguin Kak Aqila."
Aqila mengernyit kemudian berucap, "Adik di pelut Mama, Pa..."
Mas Pras nampak tercengang sebab protes Aqila, sedangkan aku mengulum senyum mengamati interaksi mereka berdua.
"Adik kan perlu sarapan juga, karena adik masih di dalam perut Mama jadi sarapannya melalui Mama. Kasihan adikkan kalau harus nungguin Kak Aqila selesai main?"
Kini Aqila tak lagi berprotes. Dia menegapkan punggungnya lalu meletakkan mainan ke lantai untuk bersiap menerima uluran tangan Mas Pras untuk di gendong.
"Mbak Siti biarkan saja mainannya disitu, kita sarapan sama-sama," ucapku mencegah Siti yang akan membereskan mainan milik Aqila. "Sekalian Bik Mar dan Mang Jono, makan sama-sama," ucapku beralih pada Bik Mar, lalu aku menyusul Mas Pras juga Aqila yang sudah berada di meja makan.
Suasana di ruang makan diisi dengan coletehan Aqila, namun ada satu moment yang membuat sisi hatiku sedikit tersentil. Kala aku melihat sepasang suami istri paruh baya yang tak lain adalah Bik Mar dan Mang Jono. Padahal hanya sederhana yaitu Bik Mar yang begitu telaten menyiapkan nasi dan lauk untuk suaminya, dan saat piring itu disodorkan pada Mang Jono nampak senyum tulus yang terpancar dari raut wajah keduanya.
Berkesan, satu kata itu yang tercetus di benakku. Arah pandangku kini kutujukan pada Mas Pras yang begitu khidmat menikmati sarapannya. Dalam hati aku sungguh mengakui belum banyak hal yang kulakukan padanya untuk mengabdikan diri sebagai istri. Lalu harus kumulai darimana dulu? batinku.
__ADS_1
"Kenapa ngalamun?" ucap Mas Pras dan kubalasi dengan senyum simpul.
Aku menggeleng. "Gak. Cuma Anna sudah merasa kenyang saja," sahutku dengan meletakkan sendok dan garpu secara pelan di atas piring yang masih tersisa sedikit makanan.
"Baru beberapa suap sudah kenyang. Bagaimana kalau Mas yang suapin?" ucap Mas Pras dan aku berusaha menggeleng menolak, lalu memberi kode melirik ke arah kursi sebelah, kalau disini masih ada orang, malu dilihat.
"Mang Jono, Bik Mar dan Mbak Siti gak keberatan kan, kalau saya suapin istri saya?" ucap Mas Pras yang tanpa tedeng aling-aling yang membuat mataku melotot ke arahnya seketika.
"Gak Tuan, kemesraan suami dan istri sah-sah saja. Kan halal," sahut Mang Jono yang memberi dukungan pada Mas Pras, sedang Bik Mar dan Mbak Siti mengulum senyum menanggapi.
Dengan canggung dan wajah bersemu menahan malu aku menerima suapan dari Mas Pras, karena yang sebenarnya kami tak pernah melakukan hal ini secara terang-terangan di depan mereka.
Hingga kini terdengar suara kecil milik Aqila. "Mama sudah besal disuapin Papa, Kila aja isa makan cendili," celetuknya yang seolah membanggakan diri dan langsung menjadi pusat perhatian kami.
Dan tak ayal hal itu mampu memancing gelak tawa dari Mas Pras dan yang lainnya tapi beda halnya padaku sendiri, karena aku sungguh tak menyangka Aqila mampu meledekku.
__ADS_1
To be Continue
Masih yang Manis-manis