Ruang Rindu

Ruang Rindu
Episode 96


__ADS_3

Isakan masih lolos dari bibirku padahal aku cukup lama menangis, dengan makin dalam menenggelamkan kepalaku pada dada bidangnya membuat bajunya sudah basah sebab air mataku.


Tapi lagi-lagi aku harus menelan kekecewaan, karena Mas Pras tetap tak bergerak barang sedikit saja untuk hanya sekedar membalasku.


"Apa Aku harus pergi dulu agar Mas benar-benar mau memaafkan semua kesalahanku?" gumamku dengan suara parau.


Mas Pras menarik diri memberi jarak untuk kami. Aku mengangkat kepalaku memberanikan diri menatapnya. Aku sangat menyadari diriku amat egois. Lima tahun aku tak menganggap penting dirinya, dan sekarang aku memaksanya untuk memberiku kesempatan. Menyodorkan diriku agar untuk bisa menggenggamkan kembali hatiku padanya.


Kugigit bibir bawahku keras karena masih belum ada kata tanggapan darinya. Kupikir Mas Pras memang perlu waktu.


Samar aku pun menggangguk, dan sebisa mungkin aku menahan laju air mataku. Namun tetap tak bisa, lagi-lagi air mata yang tadinya menyurut kali ini kembali mengalir.


Perlahan aku bergerak mundur. "Mungkin benar— Mas memang perlu waktu," ucapku sembari berusaha tersenyum padanya.


Gerakan kakiku kontan berputar, aku sudah tak kuat untuk tetap berdiri tegap di hadapannya karena kondisiku sudah semakin buruk. Dengan sikap dan tatapan dingin Mas Pras saja sudah benar-benar membuatku merasakan nyeri yang cukup mendalam pada batinku. Mengakui penyesalan-penyesalan dan kesalahan di masa laluku.


Dengan melangkah hendak menuju arah pintu, langkahku tiba-tiba terhenti. Lengan besar itu kembali merengkuhku, mendekapku dari belakang. Sangat erat, seolah meremas seluruh persendianku bersamaan dengan jantungku yang mulai menghentak kuat.


"Mas marah padamu. Mas berusaha menekan amarah dengan cara menjauhimu terlebih dahulu. Agar, Mas gak melampiaskan kekesalan dalam hati Mas di hadapan kamu. Tapi, caramu selalu saja membuat Mas mudah luluh untuk cepat bisa memaafkanmu. Dan sekarang kamu bilang mau pergi, itu gak akan pernah terjadi," gumamnya tepat di telingaku, penuh dengan penekanan.


Kalimat yang dia ucapkan rasanya membuat diriku kepayahan menghirup oksigen di sekitaran. Aku tersenyum lamat dengan mata yang terasa pedih akan keharuan. Memang inilah Mas Pras yang kukenal. Dia tak akan pernah lama jika marah, karena aku meyakini bahwa aku lah sisi kelemahannya.


Tanganku pun bergerak meraih lengannya yang masih memelukku erat. "Aku gak akan pergi kemana pun, aku akan tetap bertahan di sisimu, Mas. Aku bersedia menua bersamamu. Mas—aku mencintaimu," ucapku menyuarakan isi hatiku, tulus.


Pelukan Mas Pras mengendur, dia perlahan membalikkan badanku hingga kami saling bersitatap.


Tatapan dalam keharuan kami ini membawa debaran pada hatiku. Dia tersenyum kecil lalu memajukan wajahnya, mendaratkan kecupan hangat di keningku.

__ADS_1


"Mas cemburu," akunya.


Aku menggeleng. "Dia hanya kesalahan di masa laluku. Di antara aku dan dia semua sudah berlalu. Aku sudah menghapus kontak miliknya," jelasku dengan Mas Pras yang mengangguk membuat kelegaan menyeruak ke dalam batinku.


"Mas Percaya kan padaku?" tanyaku dengannya yang menanggapiku dengan semburat senyum tipis pada bibirnya.


Aku mengangguk lalu berjinjit bersamaan dengan tanganku yang mengalung di lehernya. Memberinya satu kecupan pada pipinya.


Terdengar suara pintu tengah di ketuk. Aku yang baru saja memundurkan wajahku kini dengan Mas Pras saling berpandangan, sebelum akhirnya Mas Pras menyahuti kata masuk.


Pintu terbuka menampilkan Mbak Siti dan Aqila yang terlihat mengucek-ucek matanya. Putriku mendekap satu boneka Marsha kesayangannya yang terlihat sudah lecek.


"Maaf Tuan, Nyonya. Non Aqila tadi kebangun. Merengek, katanya mau tidur sama Papa Mama, padahal sudah saya bujuk," ucap Mbak Siti menjelaskan tapi Aqila sudah berjalan melangkah lebih dulu menghampiri Mas Pras, satu tangannya digunakan untuk memeluk kakinya.


"Gak apa-apa Mbak, biar Aqila malam ini tidur disini," sahut Mas Pras.


Mas Pras kemudian membawa Aqila ke dalam gendongan. "Kenapa putri Papa malam-malam kebangun?"


"Mau tidur sama Papa," sahutnya yang kemudian menenggelamkan kepalanya pada ceruk leher Mas Pras.


"Lagian kan sudah lama banget kita gak tidur bareng," sahutku mengelus punggung Aqila.


Mas Pras pun mengangguk, merangkulku menuju ranjang. Kami sama-sama merebah dengan Aqila yang berada di tengah.


Namun aku terkaget saat Aqila bergerak memunggungiku dia nampak memeluk erat tubuh Mas Pras. Bola mataku pun seketika langsung menatap Mas Pras.


Seperti mengetahui maksudku Mas Pras pun mengelus lembut punggung Aqila dan bertanya, "Aqila kenapa?"

__ADS_1


Aku juga ikut bersuara menanyakan hal yang sama dengan tanganku bergerak mengelus kepalanya, namun aku terkejut sebab tangan Aqila bergerak ke belakang menangkis tanganku.


Dalam keterkejutanku Aqila pun bersuara, "Mama malah-malahin Kila."


Mas Pras pun melirikku dengan aku yang memasang wajah ditekuk. "Pasti Mama marahin Aqila ada sebabnya," sahut Mas Pras yang lalu menatap ke arah Aqila.


"Kila main sama adik, tapi Mama malah."


"Gimana gak marah, Aqila bukan ngajak main, tapi mainin adiknya. Tadi waktu aku tinggal sebentar ke kamar mandi dan gak dapat pengawasan dari Mbak karena lagi di tinggal juga, wajah dan tubuh Razka di jadikan alas tempat buat coret-coret spidolnya. Aku yang lihat spontan saja teriak dan marahin Aqila. Ditambah lagi dengan Mas yang ngediemin aku membuat pikiranku kemana-mana," gerutuku mengingat kejadian tadi siang, benar aku memarahi Aqila dan itu pun spontan kulakukan. Tapi setelahnya aku menyadari kalau itu juga kesalahanku sebab kelalaian. Karena harusnya anak sekecil mereka mendapat pengawasan lebih. Aku mendesah dengan menampilkan wajah murung.


Kernyitan di dahi Mas Pras perlahan sirna setelah mendengarkan penjelasanku. Kini giliran dirinya yang berkata pada Aqila, memberi nasehat bahwa apa yang dilakukannya tadi siang bukanlah hal baik.


Tapi aku juga mengakui bahwa emosiku sulit terkendali. Sejauh ini aku berusaha menahan kuat tanganku agar tak terulang seperti kejadian dulu. Aku memarahi Aqila itu terjadi karena spontan dengan apa yang dilakukannya, dan lagi suasana hatiku sedang tak baik.


Kaget kembali menghampiriku ketika Aqila berbalik memeluk tubuhku. Dia berkata, "Maapin Kila, Ma."


Aku menatap Mas Pras yang tersenyum dan mengangguk padaku, dia bergerak merapat dengan mencondongkan wajahnya mensejajarkan kepala kami. Tangannya terulur merapikan anak rambutku. "Kita harus lebih sering bicara, Mas akan bersiap mendengarkanmu, seperti tadi kamu yang menyuarakan keluh kesahmu," ucapnya yang menatapku begitu intens.


Dan aku mengangguk. Membenarkan ucapnya. Kami memang harus bisa saling menyampaikan untuk memberi jawaban atas ketidaktahuan demi membangun sebuah kepercayaan.


Aku pun menarik tangannya untukku genggam. Kemudian mengarahkan punggung tangannya demi untuk mengecupnya. "Izinkan aku untuk berbakti kepadamu. Suamiku, Mas Pras," ucapku tulus.


END


Terimakasih yang sudah setia sampai akhir kisahnya. Jangan lupa Komentar, kritik dan juga saran....


Untuk VOTE TERATAS berhak dapat hadiah spesial dariku dan juga dua komentar unik yang akan aku pilih....

__ADS_1


__ADS_2