
Rindu menangis lagi, dia sudah menemukan pria yang sangat mencintainya dan juga dia memberikan rasa yang sama, tetapi mengapa takdir selalu membuatnya harus kecewa dan kecewa berlebihan.
Rindu tak mampu menahan perasaan itu hingga harus terduduk dan menangis meratapi nasib yang cukup pilu, dia harus kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya yang terbagi dengan pasangan masing-masing.
Gadis itu mencoba untuk tidak memikirkan nasib kehidupannya di masa depan tetapi bagaimana juga pun juga, dia tak boleh menyepelekan urusan jodoh ataupun pria yang akan mendampinginya kelak.
Rasta, satu-satunya pria yang bisa menembus dalamnya palung hati seorang Rindu.
Rasa sesak semakin nyata ketika cinta itu juga merupakan cinta yang mendalam, sebuah perasaan yang tak bisa dibohongi sama sekali tetapi dia sangat kecewa.
Begitu kecewanya dia hingga air mata itu tak mampu untuk terhenti meskipun hanya sedetik saja.
Rindu, kembali dalam situasi bergabung setelah memiliki dua ibu dan dua ayah.
Erin, dia hanya ingin bertemu Erin tetapi tak mau mengganggu kehidupannya, sebab Erin sudah memiliki seorang pria yang menjadi tambatan hatinya.
.
.
__ADS_1
.
Sepuluh menit dia menangis, Rasta mencoba menjelaskan sesuai dengan versinya yang benar-benar jujur dan tidak berbohong.
Namun, pada kenyataannya seorang gadis tidak semudah itu memberikan kata maaf ataupun mendengarkan seorang pria ketika dia memiliki rasa sakit hati terhadap pria itu.
"Rin, aku akan membuktikan bahwa perasaanku begitu tulus kepadamu dan tidak ada lagi kebohongan, kau harus memberikan ku kesempatan kedua!" pinta Rasta.
Dia hanya ingin membuktikan bukan untuk merencanakan hal buruk lagi, dia sangat memohon kepada rindu agar memberikan kesempatan kedua itu.
"Aku, tak pernah memberikanmu kesempatan pertama atau kesempatan kedua tetapi kau justru menghancurkan setiap momen yang kita lewati meskipun hanya beberapa jam saja tetapi itu sangat berkesan bagiku, Rasta adalah orang yang paling peduli terhadapku selain Erin, aku tidak bisa berkata-kata lagi karena kau sudah membuat hatiku hancur!"
Rasta menolong Rindu, dia memaksa untuk memeluk gadis itu meskipun mendapatkan penolakan.
Rasta tak peduli akan semua itu hingga dia benar-benar bisa menguasai keadaan.
Dia perlahan membujuk sang kadis untuk masuk ke dalam mobil karena dia akan mengantar pulang ke rumah.
"Aku ingin pulang ke rumah Erin."
__ADS_1
"Ya. Aku akan menuruti apapun yang kau katakan sebab dirimu adalah yang utama bagiku."
"Kau tidak perlu mengatakan banyak hal jika itu hanya sebuah kebohongan!"
"Aku akan berkata banyak hal karena aku akan menunjukkan bahwa itu sebuah kejujuran!"
Dua orang yang dalam posisi berlawanan saling berdebat meskipun dalam kata-kata yang sungguh menyedihkan.
Rasta memilih untuk segera tancap gas menuju rumah Erin agar sang gadis bisa beristirahat dengan tenang, lalu merenungi semua yang sudah terjadi hari ini.
Rasta berharap bahwa rindu mau menerimanya sebagai seorang kekasih Bukan hanya teman untuk curhat semata.
Di dalam mobil, kedua orang itu tak saling berbicara sebab masih memendam rasa di dada terutama bagi seorang gadis yang baru saja dikecewakan oleh pria yang begitu ia cintai.
Rasta sesekali melirik ke arah sang gadis yang tak mau menatapnya sama sekali.
"Aku harus berjuang mendapatkan cintanya jika tidak pasti akan ada orang lain yang memberikan perasaan lebih nyaman kepadanya," batin sang pria.
*****
__ADS_1