
Senja menoleh, begitu juga dengan yang lain. Steven susah sadar, Mawar segera menyembunyikan platuknya di belakang tubuhnya.
Di dekat pintu, Rio dan Sifa mulai mendengar sayup-sayup suara Steven. Dengan hati-hati Rio menjulurkan kepalanya memeriksa, sedangkan Sifa langsung mengontak yang lain agar segera ke atas, yang dicari ada disana.
"Bagaimana?" tanya Rio setelah memastikan keadaan di dalam.
"Sebentar lagi mereka datang." Sahut Sifa dengan suara lirih.
"Bagus, kita tunggu mereka. Senja dan Steven aman saat ini, hanya saja keadaannya bisa berubah kapan saja dan kita harus siap mengambil tindakan."
Sementara di dalam ruangan, Steven tampak bingung matanya menoleh ke sana kemari. Merasa asing dengan tempat itu, Keheranannya juga bertambah tatkala tahu bahwa sekelilingnya adalah kotor dan berantakan.
"Kita di mana?" tanyanya kebingungan menatap ke arah Senja, membuat Mawar panas.
"Di rumah sayang." Jawab Mawar dingin.
"Bukan!" bantahnya, "ini bukan di rumah."
Steven mulai tampak ketakutan, apalagi ada dua orang asing yang tak Ia kenal, Merry dan Melati.
Senja yang rindu, kawatir dan cemas segera menghampiri Steven, air matanya jatuh saat memeluk anak laki-laki itu.
Di luar ruangan, Yang lain sudah berkumpul. Naila menatap bingung kepada Rio.
__ADS_1
"Aku mau liat," Bryan yang tak sabaran langsung menjulurkan kepalanya ke dalam ruangan, matanya seketika marah melihat kelakuan wanita yang selalu Ia puja-puja.
Rio segera menari Kakaknya itu, sebelum menarik perhatian Mawar yang akan membuat rencana mereka gagal dan sulit.
"Sungguh mengharukan."
Terdengar suara Mawar dari dalam yang dibuat-buat sendu, langkah kakinya terdengar mendekati Senja yang terus memeluk erat-erat Steven yang mulai menggigil kedinginan karena sedang dalam keadaan sakit.
Semua orang tampak tegang, apalagi Mawar mengacungkan pistol secara terang-terangan di depan Steven.
"Mama mau ngapain?" tanya Steven polos.
"Membawamu ke syurga Nak." Mawar menyeringai suram.
Steven tampak bingung dan tak mengerti, tapi Ia bisa mengenali ekspresi mengerikan Ibu kandungnya.
"Mama lebih tak suka kau hidup!"
Deg
Bryan terpengarah, terperanjat tak percaya dengan apa yang baru diucapkan Mawar yang penuh kesadisan.
Rio menahan tubuhnya yang sedari tadi ingin lari dan menyelamatkan anaknya.
__ADS_1
"Tahan, belum waktunya."
Naila mulai tak fokus dengan kata-kata Mawar ketika ada suara hentakan kaki beruntun yang mulai memasuki gedung, menyadari itu bahaya jika terdengar Mawar maka Naila memutuskan menarik tangan Sifa turun ke bawah mengarahkan polisi dan ayah Bryan.
Mereka turun terburu-buru, secepat mungkin dengan sandal yang dilepas agar tak membunyikan suara.
Sesampainya di bawah, Naila segera bertemu dengan polisi yang mengacungkan senjatanya.
"Bukan mereka." kata Om Hendra cepat-cepat.
"Mereka ada di lantai tiga, jangan membunyikan suara." Sifa memberitahu.
Rombongan polisi itu segera naik, diikuti Om Hendra yang membawa satu koper besar yang sepertinya isinya uang tunai.
"Terimakasih," ucapnya sebelum berlalu.
Naila kembali menarik Sifa ke pintu keluar gedung, Ia tentu penasaran dengan sesuatu.
"Lihat!" pekik Sifa melihat babi yang sudah tergeletak sembarang di padang rumput.
"Ada sepuluh!" teriak Naila setelah menghitung, yang segera disumpal dengan tangan Sifa.
"Tak kusangka sebanyak itu, untung tadi cuma tiga."
__ADS_1
"Kau benar."
"Sebaiknya kita segera ke atas."