Ruang Rindu

Ruang Rindu
Episode 69


__ADS_3

"Jadi tujuan kita kemana nih?" ucap Nisa yang menoleh ke belakang menatapku.


"Kalau aku sih ikut kalian aja," sahutku.


Sejenak Nisa nampak berpikir. "Panas-panas gini mending jangan main di out door, mending kita ngemall aja, gimana?" ucapnya memberi usul.


"Ok, ide yang bagus," sahut Vera kemudian membelokkan stir mobilnya untuk putar arah.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas siang saat kami tiba di mall. Suasana tak begitu ramai sebab hari ini adalah hari biasa, meski terlihat ada beberapa pelajar yang berada di sebagian tempat ini. Dan sudah kuyakini mereka sedang membolos.


"An, malah ngalamun!" tegur Vera yang menepuk bahuku.


Aku tersenyum tipis lalu menoleh menatapnya. "Gak, aku hanya lihat beberapa anak SMA yang ada disana. Persis seperti kita dulu. Dan aku yakin mereka pasti bolos sekolah," ucapku dan kini Vera mengalihkan pandangannya pada tiga remaja berpakaian putih abu-abu yang tengah berdiri melihat-lihat di stand penjual pernak-pernik aksesoris.


Vera berdecak. "Ya, dan itu pun kita bolos karena ajakanmu," serunya kembali menatapku.


Aku mengangguk menanggapinya dengan setengah tersenyum. "Tapi kupikir masa-masa itu adalah yang paling menyenangkan. Have fun, tanpa beban dan yang pasti tak ada sekelumit permasalahan yang musti di hadapi dari hari ke hari."


"Setiap manusia akan mengalami tahapan-tahapan dalam hidup. Coba lihat Aqila," ucap Vera yang memengalihkan pandangannya begitu pula denganku menatap Aqila yang sedang bermain di dampingi oleh Nisa.


"Dulu kita juga sepertinya. Masih kecil, begitu ceria tak kenal dengan apa itu permasalahan dunia. Semakin tumbuh hingga memasuki usia remaja, biasanya akan mengenali suatu rasa. Dan lewat rasa itulah ketika seseorang semakin bertambah usia, dia akan melewati tiap tahapan dengan di hadirkannya suatu masalah. Dan kamu tahu kenapa harus ada masalah?" ucap Vera menatapku.


"Masalah yang datang mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Karena masalah menuntut kita untuk selalu berpikir bagaimana menyikapinya, serta kita dituntut mencari solusi agar masalah itu selesai," kata Vera memberi penjelasan padaku.


Tangan Vera kini terulur menggenggam kedua tanganku. "An, walau permasalahan yang kamu hadapi terasa begitu berat, kamu pasti bisa untuk melewatinya. Pikirkan orang-orang disekitarmu yang mereka menyayangimu. Kamu lihat, ada Aqila juga bayi yang tengah kamu kandung. Redam egomu, ada dua buah hatimu yang bergantung padamu. Belajar menerima suamimu—"


Aku menggeleng memotong ucapan Vera.

__ADS_1


"Kenapa? Apa karena sampai sekarang kamu masih belum mencintainya. An—" Ucapan Vera meninggi, dengan cepat aku berujar lagi memotong ucapnya.


"Bukan itu Ver!"


"Lalu apa?" tegasnya bertanya.


"Yang terjadi sekarang adalah Mas Pras gak mau mengakui anak yang kukandung ini anaknya," ucapku yang kini terisak.


Vera tercengang membulatkan matanya. "Maksudmu?" tanyanya dengan suara lirih.


"Aku dinyatakan hamil setelah resign, dan saat memeriksakan ke dokter baru diketahui kalau aku dinyatakan hamil tiga bulan. Mas Pras gak terima dan meragukan kalau ini anaknya."


"Apa dia mencurigai kandunganmu milik Adrian?" ucap Vera yang membuatku semakin tercekat.


Aku meremas tangan Vera. "Aku sudah bilang sama kamu, kalau hubunganku dengan Kak Adrian gak sedekat itu. Kami gak pernah melakukan hal lebih," tegasku.


Vera menghela napas panjang, memutar bola matanya lalu berucap, "Pantas. Meski kamu gak berbuat hal yang lebih, tapi asal kamu tahu malam itu saat aku memergoki kalian yang hampir berciuman di restoran, sebenarnya ada suamimu disana."


"Sebenarnya aku bekerja di perusahaan milik suamimu dan itu kuketahui beberapa bulan yang lalu. Suamimu dan beberapa karyawan lain termasuk aku sedang mengadakan meeting dengan klien. Bertepatan selesainya meeting aku menemukanmu dengan lelaki itu dan kuyakin suamimu sudah pasti tahu," jelas Vera.


Aku sudah tak bisa berucap apa-apa. Dalam ingatan samar pada waktu malam itu dan pertama kalinya Mas Pras berperilaku kasar padaku. Dan itukah wujud dari kekesalan dan kemarahannya yang di lampiaskan padaku?


Aku terisak. "Lalu sekarang apa yang bisa aku lakukan? Kamu tahu, Mas Pras bahkan sekarang menjauh dariku dan lagi aku pikir—aku tak akan bisa bertahan karena pada dasarnya pernikahan kami dari awal sudah rapuh," gumamku.


"Tanyakan hatimu. Dan kupikir bila anak yang kamu kandung telah lahir semua akan terjawab," sahut Vera.


"Mama....." pekik Aqila yang berlari ke arahku dan disusul oleh Nisa. Membuatku menarik tanganku dari genggaman Vera lalu kugunakan untuk menyeka air mataku.

__ADS_1


"Iya sayang," sahutku saat Nisa mendudukannya di kursi tepat di sampingku.


"Mama angis?" ucap Aqila menarik lenganku.


"Ngak Mama cuma kelilipan," sahutku yang kembali mengelap sudut mataku. "Ini cuma bulu mata Mama yang tadi masuk ke mata," sambungku menjelaskan.


"Aqila seneng gak main sama Tante hari ini?" sahut Vera yang bertanya pada putriku.


"Kila seneng banget Ante," ucap putriku dengan senyum mengembang.


Akupun kini mengambil beberapa lembar tisu mengelap keringat juga tangan Aqila dengan tisu basah, kemudian menyodorkan botol minuman miliknya. "Aqila minum dulu, pasti haus kan. Istirahat sebentar habis ini kita makan siang ya?" kataku dan diangguki oleh Aqila.


Kulihat Vera geleng kepala menatap interaksiku dengan putriku barusan. "Kamu tahu gak An, hidup yang kamu jalani bisa jadi adalah kehidupan yang diimpikan oleh orang lain," ucapnya membuat keningku berkerut.


Nisa berdecak. "Yaa, kalau cuma ngelihat kehidupan orang itu memang rasanya paling nikmat, terlihat enak dan juga indah. Padahal yang dilihat itu belum tentu seindah, seenak dan senikmat yang kita bayangkan," kata Nisa menampik ucapan Vera.


Vera pun kini mengangguk dengan sudut bibir terangkat. "Ya sih. Dengan dikaruniai anak yang penurut, suami baik dan harta yang berkecukupan nyatanya berbanding terbalik dengan yang dirasakan oleh Anna," ucap Vera.


"Hidup itu pilihan kok, tinggal bagaimana Anna menyikapi," sahut Nisa yang beralih menatapku. "Asal jangan sampai kamu salah pilih dalam mengambil keputusan. Kalau benar kamu mencintai Adrian mantan dosen kita dulu seperti apa yang diceritakan Vera padaku. Jangan pernah menyesal kalau diluaran sana banyak wanita yang akan mengincar suamimu bila sudah berstatus duda," sambungnya.


Vera pun kini hanya mengangguk menanggapi.


Kini ponsel di dalam tas milikku terdengar berdering, setelah kulihat aku sedikit terkejut lalu menatap Vera dan Nisa bergantian.


"Kenapa gak diangkat, siapa yang telpon?" sahut Vera yang kini bertanya padaku.


To be Continue

__ADS_1


Hayo siapa yang telpon Anna???


Jangan lupa Jempol, komentar juga jangan lupa di Vote yaaaa, agar aku semakin semangat buat update nya....


__ADS_2