
Melati terus mengacungkan pistolnya, sementara Merry terus berjalan menaiki tangga.
Para penonton seketika terkejut melihat Merry mulai masuk, mereka banyak beranggapan Merry dan Melati tewas terjatuh.
Yang membuat lebih syok lagi, di belakang Merry ada Melati yang mengacungkan pistol ke arahnya, membuat semua penonton berteriak histeris.
Begitu juga dengan Senja yang masih menunggangi punggung Mawar yang tak berdaya.
Melati segera mengacungkan kepada Senja untuk melepaskan Mawar, kakaknya yang sudah kesakitan.
Senja dengan terpaksa melepaskan Mawar yang susah payah Ia tahlukkan, Mawar segera berdiri dengan mengayunkan sedikit lengannya yang terasa kebas dan sakit.
Melati kemudian menyuruh Merry bergabung dengan Senja yang sudah mengangkat kedua tangannya, mereka berdua kemudian saling tatap bingung dan canggung tentunya.
"Maaf ya Senja, maafkan aku banyak salah sama kamu. Setidaknya sebelum aku mati hari ini, kau sudah memaafkan aku." Bisik Merry mendekatkan mulutnya ke telinga Senja dengan suara sepelan mungkin.
Senja setengah jengkel, karena Merry masih bersifat konyol dalam keadaan darurat, tapi entah kenapa hatinya terenyuh dan entah kenapa ingin sekali Ia memeluk Merry sebagai adiknya.
"Lupakan, kita tak punya waktu untuk membahas itu. Aku akan memaafkan kamu kalau aku berhasil selamat."
Merry seketika melotot, tapi tak bisa membantah, kesalahannya terlalu besar. Mungkin dengan selamatnya Senja, setidaknya Ia sudah membuktikan kesungguhannya.
Mawar mengambil alih pistol dari tangan Melati, mengacungkan di sembarang arah kemudian mendekati Senja dan Merry yang pasrah.
"Kali ini, aku tak akan menyia-nyiakan waktu lagi. Aku harus membunuh kalian berdua secepat yang aku bisa, sebelum polisi dan bala bantuan datang!"
Merry menggigil ketakutan, sedangkan Senja melotot tanpa rasa takut.
"Yang pertama kamu!" Mawar menyentuh dahi Senja dengan telunjuknya, tapi langsung ditepis.
"Kamu yang telah mengacaukan rencanaku, sehingga mundur. Tapi tak apa, sekarang kamu sudah ada di tanganku dan beberapa menit lagi kamu akan lenyap."
Mawar kemudian tertawa terbahak-bahak, menggema ke seluruh ruangan.
__ADS_1
Setelah puas tertawa, Mawar menodongkan pistol tepat di kepala bagian kiri Senja, membuat Merry menahan nafas.
"Baik, kita mulai. Hitungan ke 5 ya."
Penonton sudah terkulai lemas, seperti tak ada harapan lagi, tingal menunggu beberapa detik mereka harus menghentikan livenya.
Samar-samar Senja mendengar derap langkah seseorang, langkah itu pelan sekali, Senja mulai bernafas lega meski maut sudah di depan mata.
Suaranya begitu lirih, kalah dengan tawa Nawar yang begitu keras dan membosankan.
"Ayo, hitung!" titah Mawar melirik Merry yang semakin ketakutan.
"Sa-sa-satu... " katanya gagap.
"Bagus," puji Mawar.
"Du-dua..."
"Ti-tiga.... "
"E... e... empat... "
Merry sudah berada di ujung keberaniannya, Ia takut, takut kalau-kalau Senja mati atau dia yang mati duluan.
Tapi entah darimana asalnya, dia seakan tak takut mati. Ia lebih memilih mati duluan untuk menebus kesalahannya pada saudari tirinya.
"Cepat!!" bentak Merry tak sabar setelah Merry sekian lama terdiam.
Merry masih saja diam, tak bersuara, Ia benar-benar mengumpulkan semua keberaniannya saat pistol itu sekarang mengarah padanya.
"Oh.... aku punya ide. Bagaimana kalau dia dulu?" usulnya, kini mengarahkan pada Steven yang masih memejamkan matanya.
"Jangan!!" teriak Senja dan Merry berbarengan.
__ADS_1
"Wow... tak kusangka." Mawar bertepuk tangan dingin.
"Bukankah dia anakmu?" Ujar Senja penuh keberanian, "Mana sifat keibuanmu?"
Merry bahkan melongo tak percaya, saat tahu itu anak Mawar, baru kali ini dia melihat hal sejanggal ini. Ada Ibu yang tega mau membunuh anaknya sendiri.
Mawar mengernyit, menatap dingin Senja.
"Memang benar, dia anakku. Tapi itu bukan keinginanku, aku terpaksa. Aku tak kau punya anak, buang-buang tenaga saja, yang aku inginkan hanya uang dan kekayaan. Tapi gara-gara anak itu lahir, hidupku jadi menderita."
"Istighfar Mawar." Senja mengingatkan, sungguh ini di luar akal sehatnya.
"Untuk apa?"
Merry sudah mau pingsan rasanya, benar-benar sulit di percaya. Begitu juga semua penonton, sama tak percayanya.
"Aku tembak anak itu saja dulu, uang yang aku inginkan terlambat datang. Jadi tak ada pilihan lain, selain melenyapkan sumber kekecewaanku."
"Jangan!!"
Senja maju selangkah, menghadang pistol yang mengarah pada Steven.
"Tembak saja aku, jangan Steven! biarkan dia hidup dan menikmati masa kanak-kanaknya."
"Patut diapresiasi, hebat sekali. Tapi aku tak peduli, minggir!."
"Tidak!" Senja bersikukuh.
"Baiklah jika itu maumu, tapi perlu kamu tau? tak ada yang boleh hidup. Kalian semua harus mati!"
Senja terpejam, walau takut tapi Ia mantap dan pasrah, memohon pertolongan dari Alloh SWT.
Mawar mulai menarik pelatuknya, sebelum akhirnya.
__ADS_1
"Mama!!"