
Tubuh Senja terasa lemas disertai gemetar, Pak Ben yang menyadari gelagat aneh Senja mencoba menerka-nerka.
"Apa kau baik-baik saja?"
"A-aku baik Pak Ben," jawab Senja tergagap, ada nada ketakutan dalam bicaranya.
Pak Ben seketika menempelkan punggung tangannya di kening Senja,
"Apa kau tak enak badan?"
Senja sudah tak mampu menjawab, ketakutan akan hal yang akan terjadi begitu besar, Ia hanya mengangguk pelan.
"Mari kuantar," Pak Ben beranjak dan diikuti Senja yang tatapannya kosong.
Senja bahkan hanya menurut ketika tangannya di gandeng Pak Ben, Ia seperti orang linglung yang tak tahu arah.
Dalam hati Pak Ben hanya bisa bertanya-tanya tanpa ada jawaban mengapa tiba-tiba Senja seperti orang ketakutan?.
Kebetulan Pak Ben tadi membawa mobil, jadi tak perlu repot-repot naik taksi.
Pak Ben mengemudikan mobilnya, sesekali menoleh kearah samping memastikan Senja baik-baik saja, memperhatikan dengan seksama.
***
Di Kantor Polisi,
Pak Hendra, Rio dan Bryan menanyakan tentang perkembangan kasus yang menimpa Steven kecil.
Pak Hendra duduk di sebuah meja, berhadapan dengan seorang polisi. Sedangkan Rio dan Bryan berdiri di belakangnya, karena memang hanya ada satu kursi.
"Jadi bagaimana Pak, apa sudah ditemukan pelakunya?" tanya Rio tak sabaran.
Pak Polisi dengan seragam dinasnya menatap Rio dengan tampang serius, lalu menyodorkan sebuah kertas print.
"Sejauh ini masih belum ada perkembangan yang signifikan, tapi pihak kepolisian sudah mengantongi beberapa nama yang dicurigai." Kata Pak Polisi menjelaskan.
__ADS_1
Rio mengamati tulisan di sebuah kertas yang di sodorkan oleh Pak Polisi, membaca beberapa nama dengan dugaan-dugaannya.
"Jadi, masih belum pasti siapa pelakunya?" Bryan mengembalikan kertas itu di meja.
"Betul sekali, karena CCTV yang menjadi barang bukti yang kuat semuanya hilang." Nada bicara polisi itu terdengar marah.
"Bagaimana bisa terjadi?" giliran Pak Hendra yang bertanya.
"Kami juga tidak tahu, sepertinya ini disengaja dan direncakan secara matang. Sehingga kami kesulitan dalam menganalisa kasus ini, mereka sengaja menghilangkan semua barang bukti.
Bryan menghela nafas, kekecewaan terlihat jelas di wajahnya.
Di Rumah sakit,
Mawar dan Mama Ningsih masih membujuk Steven untuk makan.
"Ayo Sayang, buka mulutnya?" ucap Mawar lembut.
"Gak mau!" teriak Steven, "Steven maunya Mama Senja yang menyuapi, titik!"
"Kan ada Mama Mawar, sama aja sayang."
"Gak mau!" tolak Steven.
Tak lama kemudian, Papa Hendra, Mama Ningsih, Rio dan Bryan datang.
"Kenapa Ma?" tanya Rio ketika melihat ekspresi sedih sang Mama.
"Steven gak mau makan, maunya sama Senja."
"Sini!" Bryan merebut mangkuk berisi sup ayam dari tangan Mawar.
"Steven makan ya, yuk buka mulutnya." Bujuknya.
"Gak mau!" Steven menutup mulutnya dengan tangan.
__ADS_1
Steven tiba-tiba menangis, entah karena apa?
"Mama Senja mana Pa?" tanya Steven di sela tangisnya.
Bryan seketika bingung, tak tahu harus menjawab apa. Bryan memilih diam.
Semua orang saling lempar pandang, mencari jawaban atas pertanyaan Steven. Tak mungkin mereka mengatakan kalau Senja susah diusir
Rio mendekat, meraih mangkuk Sup dari tangan Kakaknya, Bryan.
"Steven makan ya, biar cepet sembuh." ucap Rio membujuk.
"Gak mau paman." Nada bicara Steven bahkan terdengar melembut, berbeda saat berbicara dengan Bryan dan Mawar, yang notabenenya sebagai orang tua Steven.
"Makan ya?" bujuk Rio.
"Gak mau, maunya Mama Senja." Balas Steven kesal.
"akan dulu ya?" bujuk Rio.
"Maunya Mama Senja!"
***
Sesampainya di kontrakan, Senja langsung masuk tanpa menawarkan apapun untuk Pak Ben. Malah Ibu Susi yang datang menyambut.
"Masuk..."
"Terimakasih Buk, lain kali. Masih ada urusan."
Senja sudah terbaring di ranjangnya, ketika ponselnya kembali menertawakan notif pesan masuk.
Senja segera meraihnya,
3 hari dari sekarang!
__ADS_1