Ruang Rindu

Ruang Rindu
Rasta galau tingkat dewa.


__ADS_3

Di depan halte kampus ...


"Ayo kita masuk ke dalam, aku akan mengantar kemanapun kau pergi," ucap si manisan alias Cahaya.


"Sudah lama kau tidak memanggilku batu," jawab Rasta.


"Haha, aku juga lupa tak memanggilmu Ay. Aku sudah punya kekasih, jadi aku tak bisa memanggilmu dengan nama itu."


Cahaya merasa sangat senang sebab dia sudah memiliki seorang pria yang kini bersamanya, tidak melulu harus meminta tolong kepada sang sahabat.


"Hm, ya, makanya kau lupa memberitahu aku. Apa ini manisan? kau tidak manis seperti biasanya?" cetus Rasta.


Dia merasa bahwa Cahaya tak sama seperti dulu, jadi lebih menjauh dan apapun tidak memberitahu padanya.


"Hehe, maaf ya batu. Aku memiliki seorang kekasih yang sangat sibuk, jadi aku selalu menemaninya," jelas Cahaya mencoba mengatakan apa yang sedang dia lakukan, Cahaya memang tipe gadis setia. Dia jarang memiliki teman yang langsung jadi kekasih.


Seorang Rasta adalah saksi matanya.


"Hm, okelah. Oh, iya, apa yang kau lakukan di sini? Kau juga terlihat lusuh, seperti baru saja bangun tidur? main ke rumahku saja, ayo!" jelas Cahaya.


"Antar aku ke rumah Erin saja, aku ingin bertemu dengan seorang gadis yang sangat aku cintai," ujar sang pria membuat Cahaya tercengang.

__ADS_1


"Hah, kau sudah memiliki seorang gadis juga?" tanya Cahaya yang ikut bahagia dengan semua ini.


Hanya saja dia belum mengenal siapa itu Rindu.


"Ceritakan padaku siapa itu Rindu?"


Cahaya benar-benar kepo, entah mengapa rasanya seperti tahu siapa gadis itu.


"Dia temannya Erin, seorang teman yang sangat aku cintai. Awalnya aku pura-pura menjadi Bagas, lalu jadi Rasta. Dia kesal karena aku berbohong. Ayahnya adalah ayahku juga, jadi kita berdua adalah saudara. Begitulah aku pusing," jelas Rasta mencoba untuk menjelaskan segalanya kepada sang sahabat.


Dia tak kuasa menceritakan semuanya, dia masih dalam kondisi tidak baik-baik saja.


Rasta tak mampu menyembunyikan rasa cintanya yang amat besar.


Cahaya paham dan segera memberikan kesempatan kepada sang sahabat untuk segera ikut bersamanya.


"Erin bahkan tak pernah menceritakan mengenai Rindu," batin seorang Cahaya, dia juga bersahabat dengan Erin namun jarang sekali mengetahui jika Erin juga punya sahabat..


"Masuk ke dalam mobil, aku akan memberikan tumpangan."


Sang gadis tak mau berbasa-basi lagi, dia merasa jika permasalahan yang ada pada seorang Rasta, cukup rumit.

__ADS_1


"Iya, manisan."


Sang pria berjalan menuju mobil yang ada di depannya, berada di depan halte, mendapatkan banyak protes tapi Cahaya cuek.


Kini dua orang itu, sudah berada di dalam mobil, sang gadis langsung tancap gas menuju rumah Erin.


Rasta menceritakan lebih detail, Cahaya iba dan ingin membantu Rasta.


"Oke, aku akan memberimu bantuan, apapun akan aku lakukan untukmu. Kau sudah baik padaku."


"Iya manisan, terima kasih ya? aku hanya bisa merepotkan!" ucap Rasta mulai tak enak hati.


"Haha, aku tak seperti itu, aku bisa menjadi orang yang baik dan tak sembarang orang bisa mendapatkan kebaikanku!"


Cahaya mulai sombong, membuat seorang Rasta tersenyum.


"Hehe, kau masih sama Cahaya."


"Iya, Rasta. Kita teman, tak boleh saling meninggalkan, apa lagi kau adalah teman dan sahabatku. Kita lalui ini bersama!"


*****

__ADS_1


__ADS_2