Selir, Gairah Pria Kesepian

Selir, Gairah Pria Kesepian
Tujuh Bulanan


__ADS_3

💥💥💥


Hari ini chika dan Andrew akan melaksanakan tujuh bulanan di kediaman barunya. mengundang beberapa tetangga dan juga anak yatim piatu dari panti asuhan.


Chika menduduki tubuhnya di antara Ibu tiri dan juga Mami, sang mertua. mendengar pengajian yang dibawa oleh seorang ustadz dengan suara merdu nan menentramkan jiwa.


Chika menundukkan wajahnya menatap sang janin, mengelus perut yang dibaluti pakaian gamis itu dengan penuh rasa kasih sayang. hingga saatnya berdo'a kepada sang pencipta, semua orang menengadahkan tangan di depan dada.


Setelah selesai acara inti, saatnya para tamu akan mencicipi hidangan lezat yang disuguhkan oleh Tuan rumah.


**


"Terima kasih ya, sudah datang ke rumah Tante." Chika menyodorkan beberapa amplop yang berisi sedikit rejeki kepada masing-masing anak yatim pintu tersebut, mereka menyambutnya dengan suka cita, tak lupa menyalimi tangan orang dewasa itu dengan takhzim


"Terima kasih kembali, Tante." balas anak-anak tersebut, Chika juga memeluknya satu persatu


Chika begitu bahagia, telah memberikan sedikit rejeki kepada anak-anak manis ini yang telah turut mendoakan kedua janinnya dalam acara tujuh bulanan. ia berharap, anak-anaknya kelak akan memiliki perilaku seperti mereka, baik pekerti dan paham agama.


Chika terus saja mengulum senyum, memeluk mereka layaknya anak sendiri, menyalurkan rasa kasih sayang kepada mereka semua dengan perasaan yang begitu hangat.


Chika terharu melihat wajah mereka yang berseri-seri, mengingat dirinya sederajat dengan mereka yang tidak memiliki ayah dan ibu kandung lagi. namun, mereka tetap menunjukkan wajah ceria, bagaikan tak ada beban yang tengah dipikul. anak-anak polos nan mampu hidup berdampingan dengan anak-anak lainnya.


"Hallo, Nona Chika, Tuan Andrew, selamat ya ... semoga debay nya sehat selalu." para tetangga menghampiri kedua insan itu, yang baru saja selesai memberikan rejeki pada anak-anak


Chika membalas pelukan tetangga terdekatnya, walau hanya berjarak puluhan meter. dihampiri pula oleh gadis kecil yang bernama Aqilla.

__ADS_1


"Terima kasih, Nyonya, udah nyempatkan waktu untuk kemari." Chika mengulum senyum


"Itu harus dong, apalagi kamu dekat sama Aqilla. karena adanya kamu, putri saya tidak kesepian lagi. bagaimana ya---terkadang ada pekerjaan yang menuntut saya." ucap sendu seorang wanita yang berusia sekitar 30 tahunan, ia mengelus rambut putrinya


Chika hanya mengangguk sembari mengulum senyum, ia kembali memeluk Aqilla yang sedari tadi ingin dipeluk


"Tante, semoga adeknya sehat-sehat ya, Qilla nggak sabar pengen lihat." serunya


"Sabar ... dua bulan lagi dedek akan lahir." ucap Chika, gadis itu mengangguk seraya mengelus perut wanita muda itu


"Kalau gitu, kita pulang dulu ya ... kamu hanya banyak istirahat," pesannya


"Baik, terima kasih." sahut Chika, mengulum senyum


Setelah para tamu telah pergi meninggalkan kediamannya, keluarga itu berkumpul di ruang keluarga. berbincang-bincang banyak hal, bercanda tawa, membuat suasana rumah yang ramai menjadi hangat.


"Jadi Nyonya akan tinggal disini untuk beberapa bulan ke depan?" tanya Ibu tiri Chika kepada sang besan


"Iya, Jeng, Chika harus ada yang bantuin, bukan? apalagi ini kelahiran pertama, dia masih butuh bimbingan." ujar Mami


"Seharusnya saya ya, yang merawat Chika, bagaimana pun dia putri saya juga." Ibu menatap gadis itu yang tengah mengobrol bersama Melani dan juga kakaknya, walau di antara mereka masih terlihat canggung.


Sedangkan Andrew, Raffa dan Papi Setya, tengah berada di ruang kerja untuk membahas beberapa hal perihal pekerjaan yang tidak ada habis-habisnya.


"Datang bila sempat saja, lagi pula kamu juga sedang bekerja 'kan?"

__ADS_1


Ibu mengangguk, "Ya, begitulah, Nyonya." ia terkekeh


**


Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan komplek yang disetiap sisi kiri dan kanannya menyuguhkan pemandangan indah yang begitu memanjakan mata. ketiga perempuan yang bersama Assisten Raffa, begitu asyiik menyaksikan setiap perumahan dan pemandanganya yang mereka lewati.


Melani membuka sedikit kaca jendelanya, berniat ingin menghirup udara itu sedalam-dalamnya. menguar masuk ke indra penciumannya hingga terasa begitu menyegarkan.


Raffa menoleh sekilas ke arah gadis itu, "Cuacanya dingin, nanti masuk angin lho ... apalagi baru selesai hujan." ujar pria itu


"Aku udah kebal sama angin, toh hari-hari berkendara motor. lebih banyak angin yang menerjangku dari pada ini." tukas Melani


Pria itu menggeleng-gelengkan kepala


"Seru tau! kalau ruangan kayak gini nggak ada anginnya terasa pengap. cuma bau parfum kamu saja yang tercium." cibir gadis itu


Assisten Raffa dan keluarga tiri Chika hanya diam menyimak


"Dasar gadis keras kepala." gumamnya


💥💥💥


Segini dulu, nanti lanjut. pengen bobo cantik 😅😉. hoaaaam!!


Jangan lupa rutinitas wajibnya ya 😍

__ADS_1


__ADS_2