
💥💥💥
Di Kantor, Perusahaan Yudha Group, Andrew tengah mengadakan rapat dengan para bawahannya. membahas tentang perencanaan untuk kemajuan Perusahaan ini. namun, pria yang duduk di posisi terdepan dan ditengah-tengah pegawainya, tampak tengah melamun menatap pegawainya yang sedang melakukan presentasi.
Entah apa yang sedang dipikirkannya, mungkin saja perihal tadi subuh saat ia melihat sang istri begitu dekat dengan Chef tampan yang membantunya tempo lalu.
Apakah ia ini cemburu?? padahal mereka hanya berbincang layaknya seseorang menyapa sosok yang dikenalnya.
"Aish!!" Andrew meremas kertas, merasa frustasi
Sontak saja semua karyawan menatap padanya,
"Ada yang salah dengan saya, Tuan?" tanya pegawai yang sedang berdiri di hadapan layar presentasi
"Ah, tidak! lanjutkan,"
Pria itu mengangguk, dan mulai melanjutkan hasil presentasi miliknya
Andrew mengusap wajahnya dengan kasar, ia mencoba kembali fokus memerhatikan pria tersebut.
Hingga beberapa menit kemudian, rapat pun telah selesai dengan berjalan lancar dan sangat baik. Andrew menatap puas pada bawahannya, hasil perencanaan itu akan ia pertimbangan saat nanti. entah kapan itu, yang jelas sekarang ini pikirannya hanya tertuju pada sang istri yang bekerja dalam satu atap bersama pria itu.
"Anda ada masalah, Tuan?" tanya Assisten Raffa sembari menyusun kertas yang berserakan di meja. para pegawai telah berangsur pergi meninggalkan ruangan tersebut
"Tidak." Andrew menggeleng
"Seperti sedang galau." Raffa menerka-nerka
"Hmmm, kamu pernah jatuh cinta?" tanya Andrew
Assisten Raffa mengernyit heran, "Tentu saja pernah, saya kan manusia juga." ketusnya
Andrew menatapnya sinis, "Berani nge-gas kamu sama saya!"
Pria yang diajaknya berbicara hanya cengengesan tidak jelas, membuat Andrew menggeleng-gelengkan kepala.
"Hmmm, kalau wanita yang kamu cinta sedang dihampiri pria, rekan kerjanya, gimana tanggapan kamu?" tanya Andrew
"Dihampiri doang, Tuan? ya enggak masalah selagi pria itu tidak macam-macam dengan wanita saya." jawabnya dengan santai
"Kalau mereka mengobrol, terlihat akrab?"
"Hmmm," Assisten Raffa sedang berfikir, "Saya kurang suka." jawabnya, mengendikkan kedua bahu
"Hhh ... itulah yang saya rasakan," Andrew menggigit pulpen yang masih melekat di antara jarinya
"Jadi anda sedang cemburu??" Raffa mencondongkan tubuhnya menatap wajah galau pria ini
"Is! bukan urusan kamu!" cibir Andrew, memukul cukup kuat jidat sang Assisten dengan pulpen yang ia pegang.
Membuat Assisten Raffa menggaduh merasakan perihnya dahi itu.
__ADS_1
**
"Nona Chika, seseorang meminta anda untuk mengantarkan pesanan di Perusahaan ini, ada alamatnya juga kalau kamu enggak tahu." seorang Chef menyodorkan pesanan seseorang itu pada Chika.
Chika hanya menatapnya dengan enggan,
"Tapi ini--lagi sibuk-sibuknya, pengunjung di depan sedang banyak kan?"
"Iya sih, tapi kepala dapur udah memberi izin buat kamu, pergilah! bawa pesanannya."
"Kok aneh sih, delivery order kan bukan bagian aku," Chika menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"Saya juga enggak tau, hanya menjalankan perintah dari kepala untuk membuat pesanan ini."
"Hhh ... baiklah," Chika mengambil kantung yang berisi dua box makanan tersebut, dan juga alamat di secarik kertas
Chika membacanya, seketika ia terbelalak membaca nama perusahaan beserta alamatnya
"Apa-apaan dia!" gumamnya, tercengang
Chika menggeleng-gelengkan kepala melihatnya, ia bergegas melangkah untuk keluar dari Bakery Kitchen dan kembali ke loker untuk menyimpan seragamnya.
Gadis itu terlebih dahulu ke ruangan bagian kepala dapur (kitchen), ingin berpamitan.
Tiga puluh menit kemudian, gadis itu telah tiba di depan gedung pencakar langit yang menjulang tinggi hingga menembus cakrawala. tidak heran, dari jaman ke jaman perusahaan milik Kakek Yudha benar-benar telah maju dan semakin berkembang di tangan sang cucu.
Chika melangkahkan kakinya memasuki gedung tersebut setelah ia membayar taksi online, berjalan dengan membawa tentengan untuk sang suami yang sengaja memesan makanan ini dan memerintahkan sang istri untuk membawanya.
Chika berjalan dengan penuh hati-hati sembari memegang perutnya yang kini sudah membesar, rok plisket yang ia kenakan sedikit bergoyang saat ia menaiki beberapa anak tangga.
Chika mendorong pintu masuk gedung tersebut, mengedarkan pandangan menatap sekitar yang dalam keadaan sangat lengang.
"Sepi sekali," gumam Chika, ia menunduk menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya
"Jam setengah satu toh, pantasan saja." gumamnya. setiba di depan lift, Chika bergegas masuk ke dalam benda persegi itu
Tok tok
"Masuk!!" sahut seseorang, pemilik ruangan Presdir.
Chika mendorong pintunya, tampaklah sang suami sedang menikmati hamparan kota yang penuh dengan gedung-gedung tinggi diluar sana.
Chika mendengus kesal, menaruh pesanan itu di atas meja.
"Apaan sih, Yang? aku lagi kerja, kamu malah mengganggu," keluh Chika, menjatuhkan tubuhnya di atas sofa
Andrew menoleh menatap sang istri yang tampak kelelahan.
"Setidaknya kamu bisa beristirahat disini dari kegiatan mu bersama lelaki itu."
Chika mengerutkan dahinya, "Maksudnya?"
__ADS_1
Andrew tampak gelagapan, "Tidak ada. hanya saja aku merasa kasihan melihatmu harus bekerja di dapur," tukas Andrew, mengambil box stairofoam lalu membuka penutupnya. semerbak aroma makanan yang begitu wangi seketika merasuki indra penciumannya.
Ini terlihat nikmat sekali
"Hanya beberapa hari lagi, Sayang, tidak mungkin aku meninggalkan tugas magang ku." gerutu Chika
"Lagi pula aku juga udah istirahat kok tadi, udah makan pula." sambungnya, mengelus-elus perutnya
Andrew menoleh menatap perut buncit sang istri, "Apa mereka bandel?"
"Tidak." Chika menggeleng
"Hhh ... syukurlah, mereka anak yang baik." Andrew mengecup perut tersebut
"Makanlah, Sayang. aku mau kembali lagi ke Hotel." pamit Chika, ia bergegas bangkit berdiri.
Namun, niatnya tersebut diurungkan oleh sang suami
"Temani aku, setidaknya satu jam saja temani aku. kamu enggak tau kalau aku merindukanmu, Sayang." Andrew menangkup kedua pipi sang istri, lalu mengecup pipi kanannya
"Ck! tiap hari kita ketemu pun."
"Iya, tapi rasaanya waktu terlalu singkat hingga membuatku terus saja memikirkan dan merindukanmu."
"Gombal!" Chika cekikikan sembari menepuk bahu sang suami, pipinya merah merona
"Enggak ada kata gombal dalam kamus ku, Sayang. ayo kita makan dulu," ajak Andrew
"Tapi aku masih kenyang tau! tadi makan porsi banyak untuk kami bertiga,"
"Sungguh??"
Chika mengangguk
"Yaudah makan lagi aja, dedek pasti senang dikasih mamam terus sama papanya,"
"Is Papa! mama nggak sanggup tau,"
"Hanya dua suap deh," Chika terpaksa mengangguk, mengiyakan si macan ini sebelum meraung.
Chika menerima suapan dari suaminya
"Gitu dong, nggak sia-sia aku membayar mereka dengan jumlah yang besar,"
"Apa??" sontak saja nasi yang ia kunyah seketika melebur keluar mengenai wajah suaminya
💥💥💥
Ini paling terpanjang guys 😅
Ternyata Chika dibayar suaminya, astagah!
__ADS_1