
💥💥💥
"Maaf, Tuan, ada anjing yang lewat tadi." ujar Raffa, tatapannya menatap arah semak-semak yang bergoyang.
Sepasang anjing liar tengah berlarian menyeberangi jalan hingga membuat Assisten Raffa menekan rem dengan begitu mendadak.
Chika akhirnya bernafas lega, ternyata karena alasan itulah yang membuat Assisten Raffa harus bertindak sebelum sepasang hewan itu terlindas.
"Dengar tuh? hewan liar hampir tertabrak kalau mobil tidak dihentikan." ucap Chika
Andrew hanya diam saja menatap hutan belukar disisi kanannya. kini posisi mereka berada di dalam hutan di setiap sisinya, begitu pintarnya perempuan itu hingga berani membawa sang istri ke dalam tempat yang jauh dari keramaian ini.
Andrew mendengus kesal, sekelebat kejahatan mantan istrinya teringat jelas di memorinya. ia menyaksikan dengan lekat sebelum aksi brutal itu terjadi. dan ia berhasil memerintahkan anak buahnya untuk merekam kejahatan itu dalam diam dan dalam kegelapan. saat itu hanya posisi Chika yang di sorot oleh lampu hingga membuat mereka berhasil merekam wajah dan suara Celine dengan begitu jelas.
"Jalan!" titahnya pada Raffa
Pria itu mengangguk dan mulai melajukan kendaraan roda empatnya.
**
Chika dan Andrew telah tiba di kediaman mereka setelah Assisten Raffa mengantarkannya di depan gedung nan tinggi ini. keduanya berjalan beriringan hingga memasuki kotak persegi yang bergerak dengan kecepatan sedang menuju ke atas.
"Mulai sekarang aku akan memberi kamu pengawal, tidak akan ku izinkan satu orang pun menyentuh kulit kamu, apalagi sampai melukai istri dan anak-anakku." ujar Andrew dengan tatapan sengit menatap bayangannya pada pintu lift
"Tidak perlu seperti itu, kita tidak ada musuh, kecuali Celine. kamu sendiri yang memerintahkan anak buahmu untuk meng-ekstradisi dia. dan kini kami telah aman," ucap Chika, mengelus perutnya
"Tapi tetap saja, Chika, kamu tidak akan ku biarkan hanya seorang diri tanpa diriku. apalagi bekerja diluar dengan membawa anak-anak kita. aku tidak ingin hal ini terjadi lagi,"
Chika hanya diam saja mendengarnya, dibantah pun pria ini tetap menunjukkan sisi keras kepala dan ketegasannya. lagi pula Chika juga merasa tidak enak kalau harus dijemput oleh sang suami hingga mengganggu pekerjaannya.
Mungkin ada baiknya bila ia dan kandungannya akan dilindungi oleh anak buah sang suami.
"Baiklah, terserah kamu saja." Chika mengangguk seraya mengulum senyum.
Pria itu semakin merengkuh tubuh Chika, kembali mengecup keningnya dengan hangat.
Setelahnya pintu lift pun terbuka otomatis, sepasang suami istri ini bergegas melangkah menuju unit tempat tinggalnya.
__ADS_1
"Kebetulan ada Bibi, kita bisa makan ini bertiga," Chika menunjuk kantung kresek yang berisi tiga bungkus mie ayam dan juga rujak.
Pria ini tiba-tiba ingin sekali melahap mie ayam dan juga rujak, terlihat begitu menggoda saat mobil yang membawa dua insan ini melewati gerobak pedagang asongan yang menjajakan buah-buahan segar dengan bumbu rujak yang begitu menggiurkan.
"Iya, Sayang. kamu begitu baik sampai teringat pada Bibi."
"Jangan memujiku seperti itu, tidak mungkin kita makan hanya berdua saja, sedangkan aromanya bakal membuat Bibi menjadi ngiler." Chika tergelak
"Hahaha, Iya iya kamu benar, Sayang."
"Kamu tau? hari ini terlalu banyak makanan yang masuk ke dalam lambung ku. apa ini karena mereka, ya?" Andrew menyentuh perut sang istri, kemudian ia memencet tombol pasword kediamannya setelah tiba di depan unit tersebut.
"Bisa jadi. bahkan aku juga tidak kalah dari mu,"
Andrew mengernyit, "Ohya??"
"Ya," Chika mengangguk. "Bahkan aku dapat ice cream gratis dari Chef, memberiku secara cuma-cuma." tutur Chika, menduduki tubuhnya disofa sembari melepaskan sepatu sneakers yang membaluti kedua kakinya.
Sontak saja mendengar penuturan itu, membuat Andrew kembali meradang.
Chika mengerutkan dahinya, "Siapa?? orang chef nya udah parubaya kok," gerutunya
"Hmmm," Andrew berdehem, ia bergegas ke dapur untuk memberikan makanan ini kepada Bibi
Chika menggeleng-gelengkan kepala menatap suaminya yang terlihat sangat aneh sekali.
Andrew melenggang pergi ke Dapur sembari memanggil Assisten rumah tangga barunya, yaitu Bi Sum, perempuan parubaya berumur 50 tahunan yang Raffa rekomendasikan padanya.
"Bibi!"
"Iya, Tuan?" suara perempuan itu terdengar dari ruang laundry, cepat-cepat Bibi menemui Tuannya yang telah berada di ruang makan.
"Bibi lagi sibuk?" tanya Andrew
"Udah enggak lagi, Tuan. baru saja selesai nyetrika." jawabnya
Andrew mengangguk paham,
__ADS_1
"Ini, saya bawa mie ayam untuk Bibi, makan dulu selagi hangat."
"Punya saya dan Nyonya, nanti di hangat kan yaa,"
"Baik, Tuan."
"Eh, tapi, Tuan ... apa perlu Bibi masak untuk makan malam?" tanya Bibi Sum
"Hmmm," Andrew menatap jam dipergelangan tangannya, telah pukul 5 sore.
"Tidak perlu, Bi."
"Hhh ... baiklah, Tuan. terima kasih banyak atas makanan untuk Bibi."
"Sama-sama, Bi."
Andrew melenggang pergi ke Dapur untuk mengambil dua gelas air mineral dan juga satu mangkok untuk ia tuangkan sebungkus rujak.
Sedangkan Bibi, perempuan itu bergegas membereskan ruang laundry yang penuh dengan setumpuk pakaian majikannya.
Andrew menikmati rujak sembari memandang hamparan kota yang penuh dengan bangunan dari dalam kamarnya. sedangkan sang istri tengah membersihkan diri dari banyaknya pelu yang menempel pada tubuhnya.
Hingga aroma tubuh menguar wangi menusuk indra penciumannya, mengalihkan perhatian Andrew kepada sosok bertubuh chubby dengan perut yang membuncit dan bokong yang semakin montok.
Membuat pria itu menelan salivanya dengan kasar.
"Sayang, mandilah!" titah Chika, wanita itu mengenakan handuk sembari mengusap rambutnya dengan handuk kecil
Andrew hanya diam saja, cepat-cepat ia menghabiskan rujak yang tersisa sedikit lagi.
"Mau mandi lagi?" tawarnya
Chika menggeleng cepat, langsung berlari ke ruang walk in closet dan mengunci pintunya dari dalam. ia seakan tahu apa maksud dari ucapan suaminya.
💥💥💥
Babang cuma menggoda aja kali, Chik ... enggak serius lho .. Udah main kabur aja 😂🙈
__ADS_1