
💥💥💥
"Kamu marah?? kok diam aja sih?" tanya Chika, perempuan itu dan juga Melani tengah duduk di Kantin kampus setelah menyerahkan laporan ke Dosen
Melani membuang wajahnya ke arah lain, enggan menatap sahabatnya.
Chika tahu, sahabatnya pasti marah karena kemarin saat mereka mengerjai sepasang insan itu. Chika mengambil tangan Melani, mengelusnya dengan lembut.
"Maaf, itu semua rencana Andrew, awalnya memang iya rencana kami ingin mencomblangi kamu sama Assisten Raffa ... tapi ternyata Andrew punya rencana yang lebih gila lagi sampai kalian nggak bisa balik." jelas Chika
Melani hanya diam saja menyimak
"Is jangan marah dong, Lan ... aku harus apa coba, biar kamu nggak marah?" Chika menggigit kecil bibirnya menatap perempuan itu yang hanya diam membisu
"Melani??"
"Apa!" dia menyahut, secercah senyum terbit juga di bibir Chika
"Maaf." Chika memeluknya dengan erat
"Iya lah kalau gitu." ucapnya santai
Chika mengangkat kepalanya, "Iyalah apa?"
"Iya aku maafin, asalkan jangan diulangi lagi." peringatnya
"Oh, Melani ... aku janji nggak akan gitu lagi." Chika kembali memeluknya
Melani meringsek menghadapkan tubuhnya pada perempuan hamil di sampingnya ini. "Apa-apaan comblangi! kurang kerjaan kalian." gerutunya
"Biar kalian nggak ngelajang mulu. emangnya kamu nggak mau punya dedek?" Chika menunjuk perutnya
"Setiap wanita pasti ingin untuk punya anak, Chik, tapi aku belum kepikiran kearah sana."
"Hmmm," Chika mengangguk paham
"Nggak tertarik gitu sama Asisten Raffa?" tanya Chika
__ADS_1
"Apaan sih, enggaklah." ketusnya
Aih susahnya mendekati mereka ... batin Chika
🌴
Hari telah berganti hari, Chika selalu saja ingin terus berada di dekapan suaminya setelah pergumulan panas yang baru saja mereka lakukan. Andrew memeluk istrinya, sesekali mengecup kening basah wanita itu.
Tiada pergerakan atau pun dengkuran halus, Andrew menatap lekat wajah wanita yang ia cintai, ternyata telah terlelap di dalam pelukannya.
Andrew menggeleng-gelengkan kepala, beberapa hari ini istrinya selalu manja padanya. ia pun beralih menyentuh perut buncit itu, sepasang janin dari hasil benihnya tengah bertumbuh kembang dengan baik.
"Papa nggak sabar mau lihat kalian lagi, pasti kalian udah besar di perut Mama ... kira-kira kalian jagoan Mama atau Papa yaa?" Andrew berbicara kepada janin yang di kandung istrinya.
Merasa tidak sabar untuk mengetahui jenis kelamin bayi itu.
Hingga dirinya langsung mendapat respon dari sepasang janin itu, ada pergerakan didalam sana yang dapat Andrew rasakan. Andrew kegirangan, bayi-bayinya kembali menendang dan menyentuh telapak tangannya.
"Oh, anakku ... apa kalian mendengar ucapan Papa, hm?" bisik Andrew
"Eemh!" Chika menggaduh didalam tidurnya, sontak saja Andrew kembali menegakkan tubuhnya dan beralih menatap sang istri yang tengah meringis sembari memegang pinggulnya. namun itu hanya berselang sebentar, Chika kembali tenang dan terlelap.
Hingga pergerakan itu tidak muncul lagi, Andrew tersenyum lega melihatnya.
"Bobo lah, lain waktu Papa kunjungi kalian lagi yaa." ujar Andrew sembari mengulum senyum menatap perut itu. setelahnya Andrew mengecup perut istrinya
Andrew menatap jam digital yang melekat di dinding, telah menunjukkan pukul 10 pagi. sedangkan pukul 2 nanti ia dan Chika harus melakukan kontrol ke Rumah Sakit untuk memeriksa keadaan buah hatinya didalam sana.
**
"Rasanya badanku pegal semua, padahal udah puas tidur lho ..." Chika merenggangkan otot-ototnya yang kaku, mereka berdua baru saja memasuki mobil untuk bertandang ke Rumah Sakit.
"Apa kamu sakit, Yang? beberapa hari ini lesu saja." Andrew bergegas menyalakan mesin mobilnya
"Mungkin karena dedek makin besar, jadi pinggul dan punggung ku pada sakit. jalan pun juga udah mulai susah, bawaannya malas. hehehe" ujar Chika
"Aku banyak membaca, katanya hal itu lumrah kok di rasakan Ibu hamil." sambungnya
__ADS_1
"Setelah ini nggak ada kuliah lagi, lagi pula udah magang 'kan ... fokus sama kandunganmu. usia enam bulan udah sangat rentan, apalagi mengandung bayi kembar." oceh Andrew
Chika mengangguk, mengiyakan ucapan suaminya.
Beberapa menit kemudian, sepasang suami istri ini telah tiba di Rumah Sakit yang Andrew rekomendasikan untuk istrinya.
Chika mengernyitkan dahi, tempat ini adalah sebuah bangunan yang pernah ia singgahi saat menemani suaminya untuk memeriksa lokasi pembangunan tempo lalu.
"Dreka Hospital? ini kan--"
"Ini Rumah Sakit yang kemarin kita datangi, sudah jadi dan telah beroperasi." sela Andrew, ia bergegas memarkirkan mobilnya
"Wah, cepat banget yaa, pasti di dalam udah keren." Chika bertepuk tangan
"Tentu saja."
"Kamu tau kenapa aku memberi nama Dreka?" tanya Andrew
Chika menggeleng, ia tidak mengetahui apa maksud nama tersebut.
"Andrew dan Chika." ujarnya, memperlihatkan deretan giginya yang teramat rapi
"Ada-ada saja. kok itu sih namanya? biasanya orang kasih nama yang lebih gaul gitu loh,"
"Aku memberi nama itu pada rumah sakit ini, sebagai bukti kalau nama kamu sudah ada di hatiku, Chika."
"Sudah ku katakan, aku mencintaimu sejak jauh hari." sambungnya
Chika terharu mendengar ungkapan itu, ia bergegas melepaskan seatbelt yang membaluti tubuhnya, kemudian meringsek memeluk tubuh kekar suaminya dengan memasang wajah yang imut.
"Ah, aku terharu mendengarnya..." ujar Chika
"Kamu wanita yang paling istimewa, kalau bisa seluruh tempat akan ku beri nama, nama kamu." ucapnya,menangkup pipi sang istri lalu membenamkan bibirnya di bibir wanita itu.
"Gombal!" ia tergelak
💥💥💥
__ADS_1
Bisa ae bang 😅