
💥💥💥
"Sayang,"
"Hei, iya sayang?"
"Kamu tau gak, minggu depan hari apa??" tanya wanita diseberang sana
"Hari apa yaa?? hari rabu," Andrew berfikir
Seketika saja wanita itu cemberut, "Is bukanlah! Masa gak tau?"
"Hmmm, anniversary kita ketiga tahun??" tebak Andrew
Sontak saja senyum cerah terbit di bibir wanita itu,
"Yeah!! benar!" soraknya kegirangan
"Baiklah, itu artinya kamu harus pulang untuk merayakan hari itu." ucap Andrew dengan senyum manisnya
"Tentu saja, Sayang, besok pagi aku akan kembali ke Jakarta."
"Ohya??" Andrew terhenyak
"Ya! lagian pekerjaanku sudah selesai, waktunya kita bersama lagi,"
"Ohya, kamu ingat gak saat Papi mengajukan sesuatu kepadaku sebelum kita menikah?" tanya Celine dengan hati-hati
Andrew tampak berfikir, "Ya, tentu saja aku ingat. dan kamu akan mendapatkannya," ujar Andrew tersenyum penuh arti
"Hhh ... aku sudah tidak sabar, Sayang." wanita itu terlihat sangat bahagia sekali, apa yang ingin ia dapatkan akan tercapai sebentar lagi
"Yeah! seminggu lagi kamu akan mendapatkannya."
"Baiklah, sampai bertemu dihari esok, bye-bye!" Celine melambaikan tangan, kemudian memutuskan panggilan telepon nya.
Di kampus, Chika tampak termenung dengan pikirannya yang tengah berkelana. hari itu dosen yang mengajar kelas ini tengah berhalangan hadir hingga suasana di ruang tersebut tampak riuh. sedangkan Melani, gadis itu tengah mengobrol dengan temannya yang duduk dibelakang mereka.
Chika kemudian menatap kalender di ponsel miliknya, seminggu lagi ia akan berpisah dengan Andrew, yang selama ini cukup menghibur dirinya.
Ia akan merindukan macan si tukang terkam dan selalu memberikan serangan mendadak, ia akan merindukan kegalakannya, keromantisannya dan perhatiannya.
Chika meringis, sesuatu tengah menggigit isi perutnya.
Kruk kruk!
__ADS_1
"Aw!" gadis itu menggaduh
Sontak saja Melani langsung bereaksi, menghentikan obrolannya dengan teman dibelakang mereka.
"Kenapa, Chik?"
"Perutku,"
"Sakit? kenapa?"
"Entahlah, tiba-tiba aku merasa lapar." Chika meringis
"Ayo kita ke kantin," ajak Melani, kemudian ia menoleh ke samping
"Ke kantin juga gak? makan,"
"Ayo! aku juga lapar nih,"
Dan mereka berempat pun ke kantin untuk menikmati hidangan yang hampir siang ini. Chika memesan dua menu yang berbeda, bakso dan seblak dengan kuahnya yang sangat merekah. melihatnya saja sudah membuat gadis itu menelan saliva dengan kasar. Tanpa banyak kata, ia melahap makanan yang lagi hits di jaman sekarang dengan penuh antusias.
"Lapar banget ya, Chik, sampai gitu banget." Melan menggelengkan kepala, ***** makan wanita di sampingnya ini begitu lahap dan seakan lebih meningkat.
"Iya, Lan. tadi pagi cuma makan roti, aku telat bangun jadinya buru-buru." ocehnya, melanjutkan lagi santapannya
"Apa lagi makan seblak, makin lahap lah," sahut salah satu dari teman sekelas mereka
"Kalian kalau gak suka ceker, kasih aku aja,.aku siap nampung." sambungnya
"Kebetulan nih, aku gak suka. untuk kamu yaa?"
Chika mengangguk,.dengan senang hati mangkok miliknya menyambut ceker milik temannya.
Chika pun semakin antusias, dalam waktu yang tidak lama gadis ini telah berhasil menghabiskan satu porsi seblak.
Chika menyeruput juice alpukat miliknya, kemudian kembali melanjutkan menikmati satu menu yang ia pesan.
"Ah kenyangnya," gadis itu mengelus-ngelus perutnya, ia merasa puas karena telah menghabiskan dua porsi makanan berkuah yang begitu menggugah selera nafsunya.
"Oh iya, kalian udah ada panggilan belum?" tanya Melani kepada mereka bertiga
"Aku udah, dan besok mulai magang di Restoran xxxx" sahut salah satu temannya
"Ih, cepat yaa ... aku belum, entah kapan sih." gerutu yang lainnya
"Kalau kamu, Chik?"
__ADS_1
"Sama kayak kamu, padahal lima tempat yang ku kirim lamarannya bareng Melan." gerutu Chika sembari mengaduk juice miliknya dengan sedotan
"Sama dong, Chik. aku berharap kita bisa barengan," Melani memeluk sahabat kecilnya dengan penuh rasa sayang
"Aamiin, aku juga pengen bareng," sahut Chika dengan senyum semringahnya
🌸
Keesokan harinya, Chika dan Andrew baru saja menyelesaikan kegiatan pagi mereka dengan begitu syahdu dan penuh kegairahan. keduanya sepakat untuk tidak masuk ke kantor dan ke kampus secara bersamaan. sebab yang Andrew tahu, hari inilah hari terakhir mereka untuk bersama dalam satu kamar melakukan perseteruan ranjang seperti malam-malam sebelumnya.
Andrew menatap langit-langit kamar seraya memeluk Chika yang tengah memainkan bulu-bulu halus di dadanya. keduanya saling terdiam dengan pikiran masing-masing.
Chika mendongak, menatap wajah tampan suami yang tersisa beberapa hari lagi
"Kapan dia sampai?" tanya Chika, sejurus itu ada sesuatu yang menghantam relung hatinya
"Nanti sore, Yang,"
Chika tersenyum miris, matanya mulai berkaca-kaca. "Jangan panggil Yang lagi, panggil saja namaku dan aku memanggil kamu Tuan."
"Hhh ..." Andrew menghembus nafas dengan kasar mendengarnya, ini terasa sesak dan ia tak menyangka telah terjebak dalam dua hati. Andrew semakin mengetatkan pelukan mereka
"Kenapa?" tanya Chika
"Ng ... enggak ada," Andrew menggeleng sembari menatap wajahnya
"Terima kasih ya, Chika," ujar Andrew
"Terima kasih apa??"
"Sudah menemani saya selama tiga bulan ini, dan---menuruti persyaratan konyol itu."
"Oh," Chika hanya membulatkan mulutnya
"Boleh kita bercerai sekarang aja?" tanya Chika, hatinya teriris-iris mengucapkan kata itu
Deg!!
Hati Andrew mencelos mendengar permintaan itu. jujur, ia masih sangat ingin bersama Chika. namun keadaan tidak lagi mendukung, istri pertamanya akan kembali dan perjanjian itu akan berakhir.
Andrew tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali hari itu tiba.
Hari dimana ia akan mengambil keputusan yang seyakin-yakinnya.
💥💥💥
__ADS_1
Keputusan apa yaaa??