Selir, Gairah Pria Kesepian

Selir, Gairah Pria Kesepian
Kolaborasi Yuk!


__ADS_3

💥💥💥


"Bagaimana hasilnya?" Andrew memberondonginya dengan pertanyaan perihal alat tes itu setiba memasuki kamar Chika.


Chika duduk terdiam di ranjang sembari memegang alat tersebut. perempuan itu menyodorkannya ke hadapan Andrew.


Andrew mengambilnya, memandangnya dengan lekat hingga kening itu berkerut.


"Garis satu? artinya negatif??" tanya pria tersebut


Chika mengangguk dengan wajahnya yang datar. Tidak tahu harus menunjukkan ekspresi bagaimana dihadapan suaminya, walau didalam hati ia merasa sangat senang.


"Hhh ... tidak masalah, mungkin belum diizinin sama Tuhan." ucap pria itu seraya mengulum senyum pada sang istri. mengembalikan lagi alat tes itu kepada istri keduanya


"Maaf yaa," Chika berpura-pura merasa tidak enak


Andrew mendekati sang istri, merangkul pundak wanita itu.


"Gak apa-apa, toh baru dua minggu kita menikah 'kan, kemungkinan sangat kecil untuk dikasih langsung." hibur pria ini


Chika mengangguk seraya mengulum senyum.


"Yaudah, ayo kita berangkat! aku juga harus kuliah 'kan?" perempuan itu bangkit, menarik tangan Andrew


Chika menatap rute jalanan melewati pepohonan pinus di sisi kiri dan kanannya, jalan pintas agar mereka berdua lebih cepat tiba hingga ke tempat tujuan.


Dan benar saja, dalam waktu yang tidak terlalu lama mobil yang dikendarai Assisten Raffa telah tiba di Kampus yang Chika tempati.


Chika menoleh menatap suaminya, mengambil tangan Andrew lalu mencium punggung tangannya dengan takhzim.


"Aku turun dulu yaa,"


"Iya, belajar yang pintar."


"Siap boss! byeee," Chika segera turun dari mobil yang pintunya telah ia buka, melambaikan tangannya seraya mengulum senyum.


Andrew memperhatikannya dengan lekat, gadis itu perlahan masuk ke pelataran Kampus hingga wujudnya mulai menghilang dari pandangan. Raffa memerhatikan Tuannya secara diam-diam dari pantulan spion mobilnya, ia tersenyum tipis dan menggeleng-gelengkan kepala.


"Ehem!" pria itu berdehem dengan sengaja, sontak saja pria dibelakangnya tersadar dari perhatiannya ke yang lain.


"Udah mulai ada nih," ledek pria itu

__ADS_1


Andrew mengernyit, "Mulai apa??"


"Percikan-percikan sesuatu," ujar lelaki tersebut


"Percikan apa? aneh sekali kau!" cibir Andrew


Raffa memutar bola matanya, jengah, membuka kaca jendela dan membuangkan sesuatu dari mulutnya.


"Cih! kebiasaan!" Andrew yang melihatnya seketika menatap sinis, Asistennya itu hobby sekali mengunyah permen karet.


"Ini lebih baik, Tuan, dari pada saya hisap tembakau mulu." ucapnya, memang benar juga seperti itu.


Andrew pun tak menggubris kan lagi apa yang dikatakan Assistennya.


"Jalanlah! apa jadwal saya hari ini?" tanya Andrew dengan tatapan datar menatap para Mahasiswa yang melewati kendaraannya


"Hmmm, bertemu dengan Klien, memeriksa pembangunan yang ada di kawasan xxx, dan juga ada beberapa berkas yang harus Tuan tanda tangani." jelasnya


"Baiklah."


Selama di perjalanan ke Kantor, banyak sekali pembahasan yang mereka bicarakan. sangat penting, dan rahasia tentunya. hanya Andrew dan Assisten Raffa yang tahu. wajah keduanya juga tampak sangat serius.


**


Chika dan Melani tengah membuat lamaran magang kepada beberapa Hotel dan Restoran di laptopnya


"Tau, Kak, kenapa?" tanya Melani


"Jadi gini, kalian kan pandai bernyanyi, gimana kalau kita bergabung?" Fandi dengan senyum cerianya


Chika menjengit, menghentikan kegiatannya dan menatap wajah semringah Fandi.


"Maksud kakak, kalau kita jadi vokalisnya didalam band kalian?" tanya Chika


"Tepat sekali!"


"Hah???" Melani terpelongo, menatap Chika dan Fandi secara bergantian


"A-aku gak bisa, Kak. pasti bakal banyak latihannya, kalian kan tau aku kerja." tolak Melani, sebab pukul sebelas siang ia harus tiba di Kantin


"Iya juga yaa," gumam Chika, Fandi berfikir, ia ingin sekali dua gadis ini ikut bergabung dengan band mereka

__ADS_1


Setelah berfikir keras, Fandi tersenyum semringah seolah baru saja dapat penerangan. ekspresi pria itu seakan membuat gadis ini semakin kebingungan.


"Kita latihan malam, di markas kami." ujarnya, mengulas senyum dan sepasang alis yang ia naikkan secara bergantian


"Malam????" dua gadis ini kembali terkejut. pria itu mengangguk


"Oke, gak masalah! asal aku dijemput sama Melani." seru Chika dengan senyum cengirnya, ia membayangkan malamnya bersama Andrew pasti tidak akan terjadi lagi pertempuran sengit itu.


"Melan gimana?" tanya Fandi


"Its oke! aku ikut!" seru gadis itu


"Yes!! kita mulai malam besok yaa, aku cabut dulu." pamit Fandi


"Mau kemana, Kak?" tanya Chika


"Biasa, pacaran dulu sama ayang baru." ia mengerlingkan mata, kemudian bergegas pergi meninggalkan dua gadis itu


Chika tertegun mendengarnya,


"Emang dia udah punya pacar? sejak kapan?" tanya Chika kepada Melani


"Udah tiga hari, masih seumur jagung. jangan terlalu harap dengannya, fokuskan sama babang Andrew mu! kalau perlu, rebut dia dari istri pertamanya." Melani tersenyum seringai, menodai pikiran Chika


"Ada-ada saja," Chika menggeleng-gelengkan kepalanya, kembali fokus pada laptop gadis ini.


"Hhh ... entar malam deh lanjutin! aku harus balik kerja," Melani menatap jam di pergelangan tangannya.


Sepuluh menit lagi ia harus tiba di Kantin tersebut


"Yasudah, yuk! kebetulan Andrew nge-chat pengen di bawain bekal lagi." Chika menyusun barang-barangnya


"Pengen masakan mu?"


Chika mengangguk


"Dasar bucin! sampai masakan istrinya pun dia ketagihan." ledek Melani, merujuk pada pria datar nan dingin itu


💥💥💥


Kira-kira Chika boleh keluar malam gak yaa, sama babang tamvan??

__ADS_1


Jangan lupa like, koment, vote dan hadiah poinnya lagi yaaaa 😉🎉


__ADS_2