
💥💥💥
Andrew mengerutkan wajahnya tatkala mendapat semburan maut dari mulut sang istri. bukan berupa cercaan, namun beberapa butiran nasi yang telah bercampur dengan lauknya menyembur mengenai wajah tampan itu.
Chika kaget mendengarnya, bisa-bisanya pria ini membayarnya agar bisa berduaan di luar jam kerja, Apa lagi sedang sibuk-sibuknya disaat jam makan siang.
"Sayang, wajahku kenapa kamu cimprat?"
"Karna ulahmu, pantasan saja aku dibolehkan pergi sama Pak kepala," dengus Chika
"Seharusnya kamu senang bisa cabut. hhh ... aku ke toilet dulu," pamit Andrew, ia bangkit berdiri dan berjalan menuju ke toilet yang terletak di ruangannya pula.
Chika mengangguk, memerhatikan langkah suaminya hingga menghilang di telan pintu toilet tersebut. Chika menggeleng-gelengkan kepala, suaminya ini ada-ada saja kelakuannya hanya demi bisa mendapat perhatian olehnya.
"Dasar pak suami, ada aja kelakuan." gumam Chika
Ia mengambil box miliknya, tampak menggiurkan sekali bila dipandang. belum lagi aroma wanginya yang mampu menghipnotis siapa saja untuk melahapnya tanpa ragu.
Chika menelan air salivanya dengan kasar, ia mulai tergoda dengan makanan tersebut
"Anak-anak mama, kita makan lagi nggak apa yaa?" tanya Chika pada janin yang dikandungnya, mungkin saja mereka mengangguk di dalam sana
Tanpa banyak kata lagi, perempuan yang akan menginjak usia 21 tahun tersebut, bergegas melahap makanan yang berhasil menggoda keimanannya.
Andrew keluar dari kamar mandi, wajahnya sudah cerah dan bersih setelah ia membasuh wajahnya dengan air. Andrew tertegun menatap sang istri melahap makanan milik Chika, Andrew melengkungkan kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman, sembari bersandar diambang pintu kamar mandi dengan kedua tangan yang bersedekap di dada.
"Nolak, tapi iya juga." suara bariton itu membuat Chika mengurungkan kegiatan nya, ia mendongak menatap si pemilik suara
Chika cengengesan,
"Dedek ternyata minta makan lagi, Sayang, jadi aku terpaksa." ucapnya
"Preeet!" Andrew tampak tak percaya
Chika tak menggubrisnya lagi, ia kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.
Begitu pun dengan Pak suami, para cacingnya sudah meronta sedari tadi hingga menuntunnya untuk kembali menikmati hidangan makan siang tersebut.
__ADS_1
Chika menaruh kedua kakinya di atas sofa, duduk berselonjor setengah baring sembari mengelus perutnya yang benar-benar kekenyangan. berdiri rasanya sudah tidak sanggup, ia hanya butuh beberapa menit agar kembali bugar lagi seperti sedia kala.
"Sakit perutmu, Yang?" Andrew memerhatikannya, menutup box tersebut yang isinya telah tandas.
Chika menggeleng, "Hanya kekenyangan," jawab perempuan itu
Andrew merasa iba melihat sang istri telah terkulai lemah karena dirinya.
"Maaf, seharusnya aku pesan satu saja tadi. Tapi kan--gak mungkin aku makan seorang diri." ucap Andrew, ia memijat-mijat kaki istrinya. sontak saja Chika menarik kedua kakinya, namun langsung dicegah oleh pria itu
"Tidak apa, kaki mu ini terlalu banyak berdiri selama bekerja. jadi harus dipijat." ucap Andrew, pengertian sekali
Membuat Chika tersenyum-senyum menatap wajah tampan yang telah berhasil memberikannya dua janin sekaligus. Pria ini benar-benar perhatian sekali, dan juga sayang padanya.
Tapi--apakah Andrew menyayanginya karena ada janin dari benihnya? tidak-tidak, itu hanya pemikiran buruk yang entah syaiton dari mana memengaruhinya.
Tapi--tidak ada salahnya juga untuk bertanya, bukan?? hitung-hitung Chika ingin tahu seperti apa perasaan Andrew untuknya.
"Sayang." panggil Chika
Andrew menoleh sekilas menatap wajah cantik itu, "Iya, Yang?"
Andrew menghentikan sejenak kegiatannya, kembali menatap wajah itu.
"Tentu saja, tidak perlu kamu ragukan." ujarnya
"Benarkah?? apa karena ada mereka, kamu lebih sayang dan perhatian padaku?"
Andrew menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya. ia meringsek tubuhnya mendekati sang istri
"Sama sekali tidak! walaupun tidak ada mereka, aku tetap mencintaimu. sangat-sangat mencintaimu, Chika." Andrew mengelus pipi sang istri
"Beberapa hari setelah kita menikah, aku mulai kagum padamu. kamu memberikan apa yang tidak pernah ku dapat, hingga rasa cinta itu tumbuh dan ku baru menyadari saat kamu benar-benar kabur dari hidupku karena kedatangan Celine."
"Tidak sampai dua minggu pernikahan kita, aku menyadari kalau aku mencintaimu hingga kepergian mu untuk kedua kali benar-benar membuatku gila." lirih Andrew, memeluk tubuh sang istri
"Benarkah?" Chika tertegun mendengarnya, mengelus rambut sang suami yang begitu wangi.
__ADS_1
Andrew mengangguk
"Jadi tidak perlu kamu tanyakan, kehadiran mereka bukanlah alasanku. kamu sudah berhasil mengambil hatiku dalam sekejap waktu." lirihnya, mengelus perut buncit sang istri
Chika terharu sekali mendengar ungkapan perasaan yang keluar dari mulut suaminya, kali ini ia sangat percaya. dan tidak terpengaruh lagi pada bisikan syaiton mana pun.
Andrew kembali mendongak, menatap wajah sang istri yang sepasang netranya berkaca-kaca.
Andrew mengerutkan dahinya,
"Kenapa menangis pula?"
"A-aku terharu." Chika menarik leher sang suami, memeluknya
"Aku juga sangat mencintaimu, Tuan Macan." lirih Chika
Andrew mengulum senyum, kembali menarik tubuhnya dari dekapan Chika
"Sebesar apa?"
Chika berpikir, "Cintaku sedalam samudra dan setinggi langit kepadamu. pokoknya sebesar alam semesta!" serunya, membumbung kedua tangannya ke udara
Andrew terlihat gemas sekali.
"Gombal!" Andrew menyentuh hidung istrinya
"Is, bukanlah! nyata kok, seperti itulah ad------"
Emmmh ....
Andrew langsung menyumpal bibir merah ranum bak cherry itu dengan mulutnya, memberikan rasa gelenyar indah atas perpagutan li*ah mereka didalam sana.
Sangat menyenangkan dan begitu nikmat. kedua insan ini terbawa suasana atas pagutan yang berhasil menghipnotis mereka.
Andrew segera merengkuh tubuh Chika, membiarkan bibir mereka masih menyatu dan membawanya ke ruangan peristirahatan.
💥💥💥
__ADS_1
...Ampun ah, papa mulai nakal lagi nih sama mama 😂...
...Ayo like koment vote dan hadiah poinnya yaa 💃...