
💥💥💥
Derap langkah terdengar menggema di lantai Restoran yang seseorang pijaki. langkah lebar seseorang berpacu dengan detik waktu yang berdenting cepat.
Andrew, pria tampan itu baru saja bertemu dengan Klien asal Negeri Jiran di sebuah Restoran, ia menatap jam di pergelangan tangannya telah menunjukkan pukul 3 sore. dan dipastikan sang istri telah selesai bekerja pada hari ini.
Pria itu melangkahkan kaki dengan terburu-buru, bersama dengan sang Assisten yang berusaha mensejajari langkahnya.
Raut wajahnya tampak tidak tenang, mengingat sang istri pasti tengah menanti jemputan darinya.
"Anda gelisah, Tuan?" tanya Assisten Raffa, pria itu mampu menangkap raut wajah boss nya
"Enggak, ayo buruan!" desak Andrew
Tibalah keduanya di Parkiran, Assisten Raffa bergegas membuka pintu mobil untuk Tuannya, setelahnya ia pun menyusul masuk ke dalam kendaraan roda empat tersebut.
"Kita langsung ke Hotel ya!" titah Andrew pada sang Assisten. Raffa mengangguk dan mulai menyalakan mesin mobilnya.
Andrew merogoh ponselnya dari dalam saku jas, bermaksud untuk menghubungi sang istri. namun, niatnya terurungkan tatkala sebuah notifikasi undangan masuk di ponselnya dari aplikasi maps.
Andrew mengerutkan dahinya, entah apa maksud notifikasi ini. dan sejurus itu pula pesan dari sang istri memenuhi layar ponselnya di bagian atas.
Ting!
Seseorang mengaku anak buahmu. terima undangan itu dan lacak aku
Andrew terpelongo membaca pesan singkat dari sang istri. ternyata benar, perasaannya sedari tadi benar-benar tidak nyaman dan tidak karuan. ia selalu memikirkan Chika yang ada di seberang sana.
Andrew pun kembali membalas pesan istrinya, namun tidak kunjung di baca, sungguh membuatnya berdecak kesal.
"Raffa, ikuti jalan itu dan perintahkan anak buahmu untuk kesana!"
Andrew menyodorkan ponselnya kepada sang Assisten, memerintahkan pria itu untuk mengikuti jalan yang dituntun oleh aplikasi pelacak lokasi.
"Ada apa sebenarnya ini, Tuan?" Raffa tak kalah cemas dari sang Boss
"Chika dalam bahaya!"
"Oh astaga! baik, Tuan." ia pun menuruti perintah Andrew
__ADS_1
***
Chika mengerjap-ngerjapkan kedua matanya setelah ia berhasil siuman dari pingsannya. sorot lampu dihadapannya mampu memenuhi penglihatannya hingga Chika merasa kesilauan atas sorotan cahaya tersebut.
Chika mengerutkan dahinya, mencoba untuk membiasakan penglihatan menerima cahaya tersebut.
"Emmh!!" ia memberontak, bergeliat diatas bangku yang tengah ia duduki, sedangkan kedua tangannya terikat kuat di belakang tubuhnya.
"Hai, Chika!" suara indah seorang wanita terdengar menggema di ruangan yang gelap ini. Chika terperanjat melihat sosok bayangan hitam menghampiri dirinya.
Dan terlihat jelas sosok itu, Chika terhenyak kaget.
Nyonya Celine? batinnya
"Hai, maduku ... pelakor ... menjelma sebagai upik abu ku!" sapanya dengan nada suara yang begitu lembut padanya, namun terdengar penuh hinaan
"Eeemmmh!!" Chika masih saja mencoba untuk melepaskan ikatan di tangannya
Sorot mata wanita beralih menatap perut Chika yang telah membuncit, membuat mulutnya membulat seolah dirinya kaget untuk pertama kali.
"Wow ... langsung jadi yaa, Andrew junior!" ledeknya
Celine, berjongkok untuk memerhatikan lebih jelas bentuk perut itu, menyentuhnya hingga sedikit menekan perut yang terasa padat.
"Berapa kali sehari kalian melakukannya, hmm? sampai makhluk ini hadir!" tanyanya kepada Chika, menatap dingin pada perempuan itu
"Oh astaga! kau tidak bisa berbicara rupanya!" Celine membuka paksa lakban yang mendekap mulut mantan madunya.
"Emh!!" Chika meringis kesakitan saat area bibirnya merasakan perih
"Sekarang jawab! berapa kali sehari kalian melakukannya hah!" gertak Celine, ia bersandar pada meja sembari mengacungkan sebuah benda tajam
"Bukan urusanmu untuk tau!" teriak Chika
Wanita itu tergelak, menatap tidak percaya pada gadis pemberani ini. ia seperti tengah melawan sosok seorang Celine
Prok! prok! prok!
"Berani juga kamu yaa!" Celine mendekat, menjulurkan benda tajam di perut buncit yang terlihat menggemaskan ini
__ADS_1
Sontak saja Chika terbelalak melihat pisau kecil mengitari perutnya. ia mendongak menatap wanita iblis ini,
"Jangan lukai anakku!" Chika setengah berteriak, memohon padanya
"Hahahaha! takut yaa? makanya, jawab!!"
Chika terlonjak kaget mendengar erangan wanita di hadapannya,
"Kami tidak sering melakukannya." jawab Chika
Namun perempuan itu menatap tak percaya padanya,
"Cuih!" ia meludah ke sisi lain, "Jawaban apa itu!"
"Kehamilan bukan seberapa seringnya melakukan, tapi memang dari kesuburan yang membuat rahimku menerima benih dari Andrew dengan begitu cepat." ujar Chika, ia berusaha bersikap tenang
"Hhh ... baiklah, jawabanmu cerdas sekali!"
"So, ternyata tampangmu yang lugu ini bisa juga yaa menjadi perebut laki orang ... bahkan mengandung anaknya."
"Berani dibayar berapa kau, wahai wanita murahan?" Celine kembali berjongkok, mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Chika sembari menaruh benda tajam itu di pipi chubby mantan madunya
"Aku, dibayar oleh cinta dan kasih sayang dari mantan suamimu, Nyonya Celine yang terhormat. itu lebih berharga untukku dari pada mendapatkan uang hasil menjual tubuh dengan pria yang bukan mahram nya."
"Seperti seorang wanita terkenal di kalangan sebuah negeri, berprofesi bagus tapi masih menjajakan tubuh pada pria lain yang bukan suaminya."
"Dan sungguh malang, suaminya mencari sosok yang baru ... yang berhasil memberikan warna pada hidupnya. mendapatkan hak suami dari wanita lain." tutur Chika panjang lebar sembari menatap pisau yang masih melekat di pipinya.
Chika merasa tidak takut pada ancaman dihadapannya, ia hanya berterus terang akan jawaban untuk pertanyaan yang dilontarkan Celine.
Celine menatap tajam pada wanita muda dihadapannya, berani sekali gadis ini menyindirnya secara halus.
"Ternyata kau tidak takut dengan pisau ini yaa, Chika!! rasakan ini!"
"Aaaakh!!!"
💥💥💥
Deg-degan nih, bagaimana nasib Chika selanjutnya?
__ADS_1
Ayo like koment vote dan hadiah poinnya yaa 💃