Selir, Gairah Pria Kesepian

Selir, Gairah Pria Kesepian
PENGUMUMAN


__ADS_3

Holla kakak-kakak, emak-emak, abang-abang kalau ada 😁 semoga kita sehat selalu dan dalam perlindungan Tuhan, aamiin ...


InshaAllah extra part-nya akan aku publish awal bulan besok ya ... biar sekarang aku angsur nabung bab dulu 😊


Jangan lupa baca kisah Melani dan Raffa, tak kalah seru dari Selir kok ... aku update 3x sehari kayak minum obat. hehehe


Judul: JONES, Dipaksa Jatuh Cinta


Buka saja profilku, ada beberapa karya yang tertera 😉🙏


(Ini cuplikan novelnya ya)


🌴🌴🌴


Bagaimana perasaanmu jika orang terdekat memaksa kehendak atas dirimu? memaksa dirimu untuk jatuh cinta kepada orang lain, sedangkan hati saja terkadang tidak sejalan dengan pikiran.


Apakah dirimu merasa jengah dengan itu semua? tentu saja, seperti yang dirasakan Melani dan Assisten Raffa.


Walaupun berawal dari kecanggungan, saling dingin dan cuek, namun seiring waktu hubungan mereka sudah mulai ada perkembangan.


Dimana keduanya mulai mengobrol, layaknya seorang teman kepada temannya. terkadang mereka juga bertengkar kecil, hanya sedikit bercekcok mulut.


Hanya sekedar berteman kah? apa tidak bisa untuk naik pangkat sedikit---saja, entah teman tapi mesra gitu?


Tidak semudah itu, fergusso!


**


Hari itu Assisten Raffa bertandang ke sebuah Kafe tongkrongan anak muda, bersama dengan Boss nya yang ingin bertemu sang istri.


Tanpa sengaja pandangannya langsung menjurus kepada sosok itu, Melani, perempuan cantik nan manis tapi menyebalkan. membuat Assisten Raffa memutar bola matanya, malas.


Begitu pula dengan wanita itu, membuang pandangannya ke arah lain. Melani menatap sekilas pria yang dengan santainya mendudukkan tubuh di samping dirinya, menatap sinis, kemudian kembali memerhatikan dua insan yang selalu menebar kemesraan di depan umum.


"Hehehehe, maaf, Sayang, habisnya aku terlalu merindukanmu." goda Andrew, mendudukkan tubuhnya di samping sang istri. mendengarnya saja membuat sepasang JONES itu merasa jengah.


"Cih!" seru Melani dan juga Assisten Raffa secara bersamaan, menyatakan nada tidak suka.


Sontak saja sepasang suami istri itu mengalihkan pandangannya kepada sepasang JONES ini.


"Kenapa kalian seperti itu?" Andrew menatap kedua insan itu dengan tajam


"Nggak ada, biasa aja." jawab Raffa, sesekali ia melirik Melani di sebelahnya


"Iri bilang bos!" ledek Chika, tersenyum seringai lalu menyendoki desert ke mulutnya


"Siapa juga yang iri," gumam Melani


"Makanya buruan jatuh cinta, ups!" Chika menutup mulutnya sembari terkekeh


Kedua orang di depannya secara serempak memutar bola matanya bersamaan


"Hati tidak bisa dipaksa, wahai Nona." tegas Melani


Chika tersenyum seringai menatap sepasang JONES itu, ia mendekatkan tubuhnya kepada sang suami, membisikkan sesuatu. entah apa itu, tapi Melani mulai merasa tidak enak dengan perasaannya. perempuan dihadapannya seperti tengah merencanakan sesuatu.


Dan benar saja feeling Melan, mantan boss nya itu meminta kunci mobil kepada Raffa.


"Raff, kemarikan kunci mobil!" Andrew menengadahkan tangannya ke atas meja


Assisten Raffa menggeleng cepat, ia juga merasakan hal yang sama.


"Hei, ayolah! atau gajimu saya potong?" ancamnya, mata itu melotot dengan tatapan beringas


"Hhh ....." terdengar helaan nafas dari pria di samping Melani ini. Raffa merogoh kunci mobil di saku celananya


"Saya ikut saja kalau gitu, Boss."


"No! saya ingin berdua dengan istri saya, supaya mata kalian yang suci itu tidak ternoda." tolak Andrew


Dan sesaat itu pula Assisten Raffa menaruh kunci itu di telapak tangan Tuannya.


"Nikmatilah waktu kalian berdua, saatnya kalian butuh pendekatan, bukan? jatuh cintalah." ia tergelak, beranjak bangkit dari duduknya bersama dengan Chika hingga sepasang suami istri itu melenggang pergi meninggalkan mereka yang diam termanggu

__ADS_1


Hening, tidak ada percapakan lagi yang mampu menghangatkan suasana itu. tiba-tiba suasananya jadi dingin, seolah keduanya enggan sekali untuk membuka topik percakapan.


Melani menoleh menatap pria disampingnya, bersamaan dengan itu ternyata Assisten Raffa juga menoleh menatapnya. sontak saja sepasang insan itu merasa kaget, keduanya serempak untuk membuang wajah bersamaan.


"Hmm, saya harus ke kantor, bisa antarkan?" dengan lagak dingin nan datar ia berdiri begitu gagahnya


Sedangkan Melani, perempuan itu masih santai menikmati juice miliknya


"Hallo! bisa antarkan saya??" ulangnya lagi dengan tatapan kesal kepada gadis itu


"Pulang aja sendiri pakai taksi." Melani bersikap acuh


Assisten Raffa tergelak, ia mendongak menatap langit yang cerah. ia kembali menunduk menatap gadis itu.


"Beraninya kamu ya! jangan harap kalau ada apa-apa, nebeng sama mobil saya!" ancamnya


Assisten Raffa pun melenggang pergi meninggalkan wanita itu. lagian siapa dia sampai dirinya harus mengemis-ngemis pada gadis itu?


Assisten Raffa berjalan tegap melewati para pengunjung lainnya.


Disisi lain, Melani tertegun melihat punggung pria tampan itu hingga perlahan mulai menghilang dari pandangannya.


**


"Ayo naik!" Melani muncul tepat di depan Raffa yang tengah menanti taksi


Raffa tak kalah acuh, bahkan ia menganggap tidak ada makhluk dihadapannya.


"Woi!" teriak Melani, ia merasa tidak dianggap


Melani menghembuskan nafas dengan kasar, ia beranjak turun dari motornya dan mendekati pria itu.


"Ayo, cepat!!" ia mendorong tubuh tegap pria menyebalkan ini


"Aduh, apaan sih!" ia menyingkir


"Buruan setir!"


"Anggap aku malaikat di siang bolong!"


"Cih!" pria itu berdecak


"Mau nebeng atau kagak???"


"Kalau kagak mah gue capcus ninggalin lo!" geram Melani


Namun, pria ini hanya diam tidak menjawab, bahkan tidak menatapnya sekali pun.


"Oke, baiklah." Melani bergegas naik ke atas motornya


"Bye!!" ucap Melani dengan lantang. namun, tiba-tiba saja kendaraan itu terasa berat, tidak seperti biasanya.


"Lah--katanya nggak mau ikut!" cibir Melani, menoleh ke belakang menatap pria itu mendudukkan tubuhnya di bangku jok belakang


"Aku lapar, ayo kita ke Restoran." ajaknya dengan suara yang lesu


Melani memutar bola matanya, jengah, "Dasar jaim!" gumamnya


Motor matic itu kembali laju membelah jalanan Ibukota yang cukup ramai kala siang itu. jam istirahat memanglah waktunya seluruh pekerja mulai berhamburan untuk mencari tempat makan yang mampu menambahkan stamina tubuh.


Tak terkecuali Raffa, pria itu menahan rasa lapar sedari tadi hingga ia terpaksa untuk menerima tumpangan dari perempuan ini.


Walau--sedikit memikirkan harga diri.


Melani menambahkan kecepatan laju kendaraannya, hampir membuat Assisten Raffa terjengkang ke belakang karena perempuan ini.


"Hai! bisa bawa motor, nggak! kamu sengaja ya!" teriaknya tepat di telinga Melan


Melani menyeringai, ini suatu hal yang cukup menyenangkan baginya.


"Budeg!" Raffa mengetuk helm itu, membuat Melani berdesah frustasi


Tak berapa lama, perempuan itu menghentikan kendaraannya di depan Pondok Makan yang hanya menghidangkan masakan Nusantara. kali ini yang menentukan kemana mereka akan berlabuh, yaitu motor ini. tanpa mendengarkan perintah pria yang bersamanya

__ADS_1


"Disini aja nggak apa-apa kan? motor ku yang setia ini malah membawa kita kemari." ujar Melani dengan wajah yang memelas


"Ya, tapi atas kendali kamu, dasar!" Raffa menjitak kepala gadis itu, melenggang masuk ke dalam rumah makan yang di design seperti pondok dari bambu dan menikmati hidangan diatas lesehan.


"Ish!" Melani mengusap kepalanya yang dijitak cukup kuat oleh pria menyebalkan itu. ia pun turut menyusul


"Pesan apa, Tuan, Nona?" tanya pelayan


"Ikan nila bakar!" jawab serempak sepasang insan itu. sontak saja Melani tertegun mendengarnya, mereka pun saling bertatapan sekilas


"Oh, oke ... ada lagi?"


"Sayur kangkung terasi, dan minumannya es teh." ujar Melani


"Tuan?" pelayan menoleh menatap Raffa


"Sama aja." jawabnya


"Baikah, permisi." pelayan cantik itu pun pamit meninggalkan keduanya


Bagaimana bisa sama--niru-niru! batin Melani sembari menatap sengit pria dihadapannya


Suasana masih terasa sama seperti saat di Kafe tadi, mereka hanya diam tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Raffa terlihat sedang memainkan ponselnya, sedangkan dirinya sendiri hanya diam termanggu menatap rumah makan pondok yang cukup ramai kala itu.


Sembari menunggu pesanan tiba, Melani mengetuk-ngetuk jarinya diatas meja, alih-alih untuk menghilangkan rasa suntuknya.


Apa yang dia lihat? serius sekali, batin Melani


"Ehem!" ia berdehem


"Mas Raffa, nanti ini semua kamu yang bayar 'kan?" tanya gadis ini


Raffa mendongak, menatapnya sekilas


"Tidak, kamu yang bayar." ketusnya


Sontak saja Melani terbelalak kaget, secara refleks ia memukul meja dengan cukup kuat hingga mengundang beberapa pasang mata yang menatap ke arahnya


"Eh, maaf." Melani mengatupkan kedua tangannya kepada orang di sekitar, hingga mereka kembali melanjutkan acara makan siangnya


"Apa-apaan kamu!" geram Raffa


Melani menyedekapkan kedua tangannya di dada, "Aku tidak mau bayar! kamu udah nebeng, jadi kamu yang harus bayar!" tegas Melani


"Cih!" Raffa menatap tidak suka, ia kembali pada ponselnya


"Astaga!" Melani menggeleng-gelengkan kepala


"Santuy kali hidupmu, Tuan!" Melani langsung merampas ponsel milik pria ini, membuat pria itu geram melihatnya


Namun, melihat situasi sekitar yang terlihat ramai, mmembuatnya harus bersabar ekstra dengan perempuan barbar dihadapannya


"Kemari kan!" pinta Raffa


"Nggak mau!" Melani menggelengkan kepalanya, menyimpan ponsel itu ke dalam bajunya


Sungguh membuat Raffa semakin meradang melihat ponselnya disembunyikan didalam tubuh wanita ini


"Astaga! keringat mu itu!" ia menepuk keningnya, memberengut kesal


"Hahaha, ambil saja kalau berani," Melani tersenyum seringai, ia merasa puas


"Melani cantik, ayo kemarikan." Raffa memintanya dengan perkataan yang lembut, selembut sutra


Melani hanya bersikap acuh, ia menatap ke sekitar yang tampak saling mengobrol satu sama lain sembari menikmati hidangan makan siang.


Deg!!


Melani terlonjak kaget tatkala pria ini sudah berada disampingnya. perutnya terasa sedang disentuh, dan benar saja, pria ini dengan tidak tahu malunya malah berusaha mengambil ponsel itu didalam baju perempuan ini


"Permisi!" sapa seseorang


Sontak saja Raffa menjauhkan tangannya dari tubuh Melani

__ADS_1


__ADS_2