
💥💥💥
Tap Tap Tap
Terdengar derap langkah beberapa orang tengah berlarian di sepanjang koridor dengan menyeret brankar yang diatasnya terdapat sesosok wanita cantik nan manis tengah terlelap tak sadarkan diri. Pelu masih memenuhi dahinya, sama halnya seperti tadi pagi.
Semua orang yang bersamanya tampak cemas, wanita muda ini jatuh pingsan saat ia tengah mulai bekerja di waktu yang sesibuk-sibuknya.
Chika, perempuan yang sedang mengandung ini tidak sadarkan diri didalam dekapan Chef Frans. awalnya Chef Frans mulai curiga pada gadis ini yang tampak sangat kelelahan dan pucat, namun perempuan itu sangat keras kepala dan tetap pada pendiriannya untuk bekerja. Ia pun diam-diam hanya memerhatikan saja dan bersiap jika saja wanita itu pingsan.
Dan benar saja, wanita itu pingsan didalam dekapannya. kondisi dapur kala itu menjadi riuh, Chef Frans, Supervisor yang kala itu tengah mengawasi, membawa Chika ke Rumah Sakit terdekat di Ibukota.
Melani yang melihatnya ingin sekali untuk ikut, namun sang Supervisor mencegahnya agar tetap menemani para Chef untuk bekerja.
Kini Chika sudah berada di ruang UGD, langsung ditangani oleh Dokter dengan gerak cepatnya.
"Harap tunggu diluar dulu ya, Tuan." ucap Dokter, mereka mengangguk
Chef Frans dan atasannya tengah menanti di luar ruangan, selang beberapa saat kemudian pintu ruangan tersebut dibuka dari dalam. menampikkan sosok Dokter wanita yang menatap dua pria itu bersamaan.
"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Chef Frans
Namun saat Dokter ingin menjawab, tiba-tiba seorang pria berparas bule datang menghampiri mereka dengan nafas yang menggebu-gebu
"Bagaimana keadaan Chika, Dokter?" tanya pria asing, yang entah siapa pria ini
Dokter pun menatap mereka bertiga,
"Apa anda suaminya?" Dokter bertanya kepada orang asing yang baru datang tersebut, ia memprediksi bila pria itu pasti suami dari pasiennya.
"Benar, Dok, ada apa dengan istri saya?" ia adalah Andrew
Kedua pria berseragam Chef, Jaket double breasted, hanya diam dan menatap interaksi antara Dokter dan Pria yang mengaku suami dari Chika tersebut.
"Dia hanya kelelahan dan demam saja, sepertinya memang efek tengah mengandung, saya sarankan Tuan membawanya ke Dokter Obgyn yaa, sepertinya Nona memang butuh penanganan dari Dokter tersebut." ujarnya
Andrew tercenung mendengarnya, begitu juga dengan dua pria yang hanya menyimak.
"Mengandung??" Andrew tercengang
"Ya, apa anda tidak tau?"
__ADS_1
"Iya, tentu saja saya tau."
"Baiklah, apa saya boleh masuk?" tanya Andrew
"Silakan, dan setelah siuman, anda bisa membawanya ke Dokter Obgyn." sarannya, Andrew mengangguk paham
Kemudian Dokter itu pun pamit dengan ketiga pria dihadapannya dengan senyum manis yang begitu ramah.
Setelah kepergiannya, Andrew menatap dua pria yang mengenakan seragam putih ini.
"Terima kasih, Tuan, sudah membawa Chika kemari." ucap Andrew dengan sopan
"Sama-sama, Tuan."
"Maaf mengganggu pekerjaan kalian,"
"Tidak masalah, Tuan. kalau begitu kami permisi dulu untuk kembali," pamit pria yang berprofesi sebagai Supervisor tersebut. Andrew mengangguk kepadanya.
Kini Andrew tengah memandang wajah sang istri yang memang terlihat pucat, menyentuh dahinya yang terasa hangat menandakan wanita ini benar-benar dilanda demam.
Andrew menyapu sekujur tubuh Chika yang terbaring mengenakan infus, hingga sorot matanya menatap perut datar wanita ini.
Tangan Andrew pun menuntunnya untuk menyentuh perut perempuan itu, Andrew melakukannya, dan entah kenapa perasaannya begitu hangat saat ia menyentuhnya.
"Papa disini, kita udah sama-sama dengan Mama." lirih Andrew, seolah tengah berbicara dengan janin yang dikandung sang istri.
Setelahnya Andrew teringat akan sesuatu, pria itu kembali menarik tubuhnya dan menduduki bokongnya diatas kursi yang terletak di tepi brankar.
Andrew mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya.
Beberapa alat testpack yang ia temui di dalam kamar mandi, tepatnya terletak di kamar Chika.
Saat itu, setelah mengisi perut di Restaurant, Andrew memerintahkan Assisten Raffa untuk mengantarkannya kembali ke Apartement. setelahnya sang Assisten kembali ke Kantor untuk mengurus pekerjaan.
Andrew berdiam diri di kamar Chika, membaringkan tubuhnya diranjang tersebut seraya menghirup bantal milik sang istri. Karena begitu rindunya, ia pun mencium bekas wangi tubuh sang berlian yang teramat ia cintai. hanya untuk sekedar mencari ketenangan.
Hingga perhatiannya teralihkan tatkala bunyi dering ponsel mengganggu fantasinya.
"Mami?"
"Mami dengar kamu udah cerai dengan Celine, apa iya??"
__ADS_1
"Lah--kok Mami tau?"
"Tentu saja Mami tau, dia mengadu. tapi syukurlah, Mami senang mendengarnya."
"Astaga ... wanita itu benar-benar tidak tau malu."
"So, karena apa kamu menceraikannya??"
"Karena----
Andrew menghentikan kalimatnya tatkala rasa bergejolak di perutnya kembali meradang. Andrew berusaha menahannya, hingga sudah tidak sanggup lagi pria itu cepat-cepat ke kamar mandi untuk mengeluarkan rasa mual yang terus mengusik hidupnya sejak dua hari ini.
"Ndrew, kamu kenapa?" sepertinya Mami mendengar suara orang yang tengah muntah dari seberang sana.
Uwek!
Uwek!!
"Oh, ****!"
Uwek!
Setelah beberapa saat, Andrew mulai merasa lega. namun tubuhnya dirasa sangat lemas karena memuntahkan segalanya benar-benar menguras tenaga pria itu.
"Oh Tuhan, ada apa aku ini?" gumamnya, Andrew terduduk di lantai kamar mandi dengan wajah yang basah sehabis membasuh wajahnya.
Andrew tak kalah pucat dari sang istri yang entah dimana
Hingga tatapannya tanpa sengaja menangkap satu benda yang terletak di lantai, tepatnya di tepi tong sampah.
Andrew mendekat, mengambil benda tersebut.
"Test pack?"
"Garis dua??"
Andrew tercengang, ia pun merogoh tong sampah yang berisi banyak sekali alat test pack.
💥💥💥
Sekali tepuk, dua kena!
__ADS_1
Eh gitu gak sih pribahasanya? 😂
Yuk rutinitasnya jangan lupa 😉🎉