
💥💥💥
"Jadi gimana sama kantor kalau kamu tinggalin? sedangkan Assisten Raffa saja tidak ada kendaraan." Chika mengkhawatirkan perusahaan yang di kelola suaminya, mengingat pria itu tengah berdiam diri bersamanya di tempat yang senyap dari keramaian ini.
Sedangkan sang Assisten yang malang itu, mereka tinggali begitu saja bersama Melani, tanpa adanya kendaraan yang mengantarkan mereka.
"Ada sekretaris ku yang menghandle nya, Sayang, lagi pula jadwal ku sedang kosong." ujar Andrew dengan santainya, memainkan rambut panjang Chika yang tergerai di pahanya.
Posisi Chika tengah berbaring di tikar tersebut, kepalanya bertopang pada paha suaminya.
"Hmm, sungguh malang sekali mereka. apa perlu kita jemput saja? disini nyaman sekali untuk berkumpul." Chika menatap wajah sang suami diatas sana
"Tidak perlu, mereka punya kaki, bukan? dan lagi, bisa hubungi taksi online. di jaman sekarang tidak ada yang sulit."
"Hmmm, baiklah." Chika mengangguk paham
Namun, apa yang diucapkan Andrew tidaklah sepenuhnya benar. nyatanya, di seberang sana sepasang dua insan itu tengah dirundung bingung tatkala tiada satu pun taksi yang berkenan menghentikan kendaraannya untuk mereka.
Posisi keduanya berada di tepi jalan raya, tepatnya di Halte sembari menunggu taksi yang datang menghampiri. namun tidak semudah itu untuk mendapatkannya, beberapa kali berpapasan tiada satu pun yang menggubris sepasang manusia malang ini.
Assisten Raffa berdesah kesal, ia mengacak-acakkan rambutnya sembari menggerutu. ia membalikkan tubuhnya, seorang gadis cantik, sahabat istri bossnya juga tak kalah bingung.
"Gimana? apa ada taksi online yang mau mengantarkan kita?" tanya Raffa
Melani menggeleng, "Enggak. kok aneh yaa?"
"Mana ku tau! anak buah ku juga tak ada yang satu pun mengangkat telpon." gerutunya
"Apa kita kembali saja ke Kafe? terus minta tolong antarin," usul Melani
Namun pria itu menolaknya, "Tidak tidak! bukan tipe ku seperti itu." ia menggeleng
"Huh, payah!"
Tiada taksi yang merespon, anak buah juga tidak bisa dihubungi, membuat Raffa semakin pusing tujuh keliling. sialnya lagi, ia tidak memiliki kontak para pegawai selain sang Sekretaris.
__ADS_1
"Aha! Sekretaris!" seakan lampu pijar tengah menyala di akal pikirannya
Tanpa berlama-lama, pria itu pun menghubungi sekretaris untuk memerintahkan seseorang menjemputnya.
Namun sayang, beberapa kali ia hubungi namun tidak jua di angkat oleh wanita di seberang sana.
"****!" umpatnya
"Gimana? ada respon?" tanya Melani
"Enggak."
"Pintar banget sih mereka ngerjain kita, apa coba maksudnya kayak gini!" Melani memberengut, merasa kesal dengan sahabat dan suaminya.
Tentu saja mereka tahu bila ini adalah ulah sepasang suami istri yang jahil itu.
Melani kembali menoleh menatap Raffa, "Nomor kantor, rumah kamu, enggak punya?"
"Enggak ada yang ngangkat."
"Kak Fandi juga pasti sedang kerja sampai nggak ngangkat telpon ku." gumamnya
Hening, mereka berdua kembali berdiam diri dengan pikiran masing-masing yang tengah berkelana. mencari cara agar bisa pergi dari tempat ini.
"Dari pada berdiam diri disini, mending kita jalan yuk." ajak Raffa
Melani mendongak, "Jalan? yang benar saja, dari sini ke rumah jauh banget tau!"
"Disana ramai, sedangkan disini sepi, aku yakin pasti disana ada yang menunggu busway atau taksi. Kita bisa menyelundup masuk." jelasnya
"Iya juga ya, yasudahlah, ayo!" perempuan itu bangkit berdiri dan mereka kembali melangkah menelusuri jalan raya yang cukup sepi akan kendaraan.
Telah ratusan meter sepasang insan ini berjalan kaki, sesekali Raffa menyeka keringatnya yang membasahi dahi. ia mendongak menatap langit, sang mentari yang begitu terik tiba-tiba di tutupi oleh awan kelabu.
Semilir angin pun mulai dirasakan oleh kedua tubuh itu, menerpa kulit sehingga membuat cuaca menjadi sejuk. Melani bernafas lega, ia sangat merindukan semilir angin yang bertiup kencang.
__ADS_1
Namun, cuaca yang begitu panas saat tadi, kini telah berubah. menurunkan rinai hujan dengan airnya yang teramat deras mengguyuri tubuh dua insan itu.
"Aaakh! hujan!" Melani berteriak, kedua tangannya terangkat ke atas untuk melindungi wajahnya
"Ayo kesana! kita berteduh dulu!" Assisten Raffa menunjuk sebuah bangunan yang kosong.
Melani mengangguk dan berlari dengan cepat untuk melindungi diri dari derasnya hujan.
**
"Apa Melani ada menelpon mu?" tanya Andrew
"Enggak, ponselku lowbat." jawab Chika
"Pasti mereka sedang kesusahan." Andrew tersenyum seringai
Chika mengernyit heran, kemudian menegapkan tubuhnya menatap wajah pria ini. "Maksudnya?"
"Sebenarnya aku udah peringati orang-orang untuk tidak membantu Melani dan Raffa, aku jamin tidak ada taksi yang menghentikan mobilnya."
Chika terkejut mendengarnya, "Kok jahat sih! kasihan mereka tau!" sontak Chika memukul paha suaminya dengan cukup keras, membuat Andrew menggaduh
"Kalau mau comblangi mereka, jangan setengah-setengah, Sayang. setidaknya beberapa waktu mereka saling dekat." Andrew tersenyum simpul
"Is, tapi nggak gitu juga kali!"
"Ayo ah kita pergi, jemput mereka! malah hari udah mendung." Chika berusaha bangkit sembari menahan perutnya yang terasa berat. Andrew membantu perempuan itu untuk berdiri.
"Kita pulang saja, biar anak buahku yang membereskan dua orang itu." ucap Andrew, ia segera menelpon anak buahnya untuk menjemput sang Assisten dan juga Melani
Sungguh malang sekali dua insan yang sedang terkurung akibat hujan lebat yang membasahi tanah Ibukota. harus merasakan lelahnya berjalan, merasakan teriknya mentari yang menyorot wajah mereka, dan kini--sempat basah karena guyuran hujan.
Semua karena ulah Andrew, entah ide gila dari mana ia mendapatkan cara jitu seperti itu.
💥💥💥
__ADS_1
Kasian babang Andrew yang kena getahnya, padahal kan otor yang buat 😂😂