
💥💥💥
"Hhh ... akhirnya sampai juga! badanku sudah sangat lelah, Sayang." Celine merenggangkan ototnya yang terasa kaku setiba di Apartement mereka.
Hingga tatapannya menangkap sesosok wanita muda yang tengah tersenyum padanya.
"Selamat datang, Nyonya," Chika menunduk hormat seraya mengulum senyum, kemudian perempuan itu menghampiri Andrew untuk mengambil alih kopernya.
Celine hanya diam saja, menatapnya dengan tatapan tak suka.
Perempuan itu kemudian menaiki tangga mendahului dua orang itu, lelahnya perjalanan panjang membuatnya harus beristirahat sejenak.
Hingga Celine sayup-sayup mendengar perselisihan yang sedikit riuh dipendengarannya. Celine menoleh ke belakang, pandangannya menatap ke bawah dimana sang suami tampak mulai mengangkat koper miliknya setelah sedikit bercekcok dengan pembantu itu
"Apa-apaan mereka," gumam Celine, menatap sinis kepada dua orang itu
"Hei kamu!" Celine menunjuk Chika dengan jarinya
Chika yang merasa dipanggil langsung menyahut, "Iya, Nyonya?"
"Kemarilah!" titahnya, Chika menurut dan menyusul Andrew menaiki tangga
Setibanya Chika di lantai atas, "Pijat badan saya, bisa kan???"
"Bisa, Nyonya." Chika mengangguk. Andrew hanya bisa melihat mereka tanpa melerainya, seperti yang disampaikan Chika bila ia ingin sepenuhnya seperti pembantu yang menjalani tugasnya dengan baik dan menurut.
Celine pun memasuki kamar, diikuti pula dengan Chika hingga Chika pun harus memijat pundak wanita itu yang dirasa sangat pegal.
"Pijatan mu enak juga," pujinya, wanita itu hampir merem melek merasakan sensasi nyaman yang dirasakan tubuhnya.
"Kamu gak mandi, Cel? aku udah siapin air buatmu,"
__ADS_1
"Benarkah? hmmm, aku sampai terbuai sama pijatannya." Celine menghentikan kegiatan Chika padanya, kemudian ia turun dari ranjang.
"Kamu udah mandi, Sayang? apa mau mandi bersama?" Celine mengerlingkan mata pada Andrew, menggodanya.
Andrew terhenyak mendengarnya, bisa-bisanya wanita ini seloroh begitu disaat ada orang lain diantara mereka. Andrew menatap sekilas wajah Chika yang merona malu, sedikit menunduk sembari menatap suaminya.
"Tidak perlu, Yang, aku udah mandi."
"Mandi lagi," rengek Celine
"Aku lagi kurang enak badan, Celine, jadi gak boleh mandi terus." keluh Andrew sembari mengelus tengkuk lehernya.
Celine menghembuskan nafas dengan kasar, merasa sangat kecewa mendapat penolakan dari suaminya. wanita itu melenggang pergi meninggalkan mereka ke kamar mandi, menutup pintu dengan kencang hingga membuat kedua orang tersebut begitu terkejut.
"Astaghfirullah," gumam Chika, mengelus dadanya
Andrew menggeleng-gelengkan kepala melihat istri pertamanya itu. kemudian tatapannya beralih kepada Chika yang ingin keluar dari kamar tersebut.
Namun baru selangkah, pria ini menghentikan langkah wanita itu.
"A-ada apa?" tanya Chika, sesekali menoleh menatap pintu kamar mandi.
"Kamu yang sabar yaa, Celine memang begitu." ucap Andrew, mengelus pipi sang istri
Chika mengangguk seraya mengulum senyum terpaksa, "Tidak masalah, tapi lebih bagus lagi kalau Tuan menceraikan saya sekarang."
Andrew menghela nafas dengan panjang, ia benar-benar tidak suka bila kata itu terus tercuat dari mulut istri keduanya.
"Sesuai surat perjanjian," sambung Chika
"Surat perjanjian itu harus genap tiga bulan, Chika, sedangkan ini kurang lima hari lagi." ucap Andrew, memang seperti itulah nyatanya
__ADS_1
Andai tidak ada sesuatu rasa yang terpatri dihatinya untuk Chika, mungkin hari ini juga Andrew akan memutuskan hubungan mereka dengan memberi kompensasi tersebut. Namun, semuanya hanya tinggal wacana, Andrew seakan tidak rela bila Chika harus meninggalkan kehidupannya.
Wanita ini sangat berharga, bukan hanya untuk memuaskan tapi Chika mampu memberikan ia hak atas seorang suami.
Dan--Andrew akan mengambil keputusan tepat tiga bulan perjanjian itu, entah menceraikannya ataukah tetap menjadikan Chika sebagai istrinya.
"Baiklah kalau begitu, saya permisi." Chika menunduk hormat, ia melenggang pergi meninggalkan pria ini. atau tidak--Nyonya singa tersebut akan melihat interaksi keduanya dan mengamuk sekeras-kerasnya.
Chika membuka laptop miliknya setiba di dalam kamar, alih-alih ingin memeriksa apakah ada email masuk dari pihak Hotel atau Restorant untuk pelaksanaan magang nya atau tidak.
Chika menghembus nafas dengan kasar, lagi-lagi belum ada kepastian dari pihak sana. sudah dua bulan ia menanti, namun belum juga ada lampu hijau untuknya.
"Kenapa lama sekali? apa mereka gak terima anak magang? Melani juga belum ada, aaaakh! memang senasib." Chika menggerutu
Chika merasa frustasi, ia mencebikkan bibir sembari menutup laptop miliknya. kemudian tatapannya kembali beralih menatap pintu kamar, ia memutar bola matanya merasa sangat malas tinggal disini lagi.
"Entah kenapa, lima hari begitu lama untukku,"
"Apa aku harus makan hati setiap melihat mereka yang mungkin--menunjukkan keromantisan padaku??"
"Menyebalkan!! ternyata perpisahan itu tidak lah indah, walau pertemuannya sangat mengesalkan!"
Chika mengerang, menutup wajahnya dengan bantal. entah kenapa hidupnya sepahit ini dan terjebak pada pria itu.
Pria macan, suami orang, suami siri, dan---Chika tidak tau lagi sebutan apa untuk lelaki itu.
💥💥💥
Suami kesepian, suami malang, suami stupid, apa lagi? 😂😂
Yuk di like, koment, vote sebanyaknya, hadiah bunga dan kopi seikhlas wae 😉🎉
__ADS_1