
💥💥💥
Kala sang mentari semakin terik dengan kadar panasnya hanya sejengkal dari atas kepala, sesosok manusia tengah menyendiri di tepi danau hanya seorang diri. sembari melempar-lemparkan kerikil berulang kali ke dalam hamparan danau dihadapannya.
Ia bagaikan tengah frustasi, sudah sesiang ini kabar sang istri belum juga ia ketahui.
"Kamu dimana, Ka? aku belum siap," lirih Andrew, menyeka air matanya yang telah menumpuk di kelopaknya
"Kenapa kau tinggalkan aku??"
"Apa ini yang pantas ku terima setelah menyakitimu selama bersamaku?"
"Maaf." lirihnya, suaranya seakan tercekat karna tak mampu lagi untuk berkata-kata
Bagaikan seorang anak kecil yang kehilangan barang mainannya, Andrew terlihat begitu cengeng karena kehilangan sang berlian yang begitu berharga di kehidupannya.
Pria gagah ini tampak menyedihkan, tak peduli akan pencitraannya yang telah jatuh karena menangisi gadis itu.bahkan ia tak memikirkannya, yang ada didalam memorinya hanyalah Chika dan Chika, tetap selalu Chika Putri, tiada yang lain.
Sedangkan Celine--wanita yang selama sepuluh tahun terakhir ini begitu ia kenal, kini sudah tidak ada lagi di dalam hati dan pikirannya. entah mengapa, mungkin saja karna kehadiran Chika telah berhasil mengubah hati, pikiran dan dunianya.
Disaat lelaki malang ini tengah termenung dibawah teriknya matahari, tiba-tiba ia menjengit karena merasakan sesuatu yang mengaduk-ngaduk perutnya. Andrew mengerang, kedua tangannya tengah menahan rasa gejolak yang ingin mencuat dari tenggorokan.
Hingga rasa itu tidak tertahankan, seketika Andrew memuntahkan segala isi perutnya yang melebur diatas bebatuan.
Hanya cairan putih, dan itu sangat menyiksa dirinya.
"Eeeemh!" Andrew menyeka bibirnya, namun rasa itu kembali datang dan menuntun pria tersebut untuk kembali memuntahkannya hingga berkali-kali.
Andrew pun terduduk lemas setelahnya,
"Aakh!! kenapa lagi ini!" gerutunya dengan suara rendah yang terdengar lelah
__ADS_1
Andrew kemudian bangkit berdiri setelah rasa bergejolak itu tidak lagi menjalar, ia melangkah dengan jalannya yang terseok-seok menuju mobil.
"Pantasan saja, udah jam satu dan perutku keroncongan,"
"Tapi ini aneh sekali, gak seperti biasanya."
"Ah sudahlah! masa bodo!" Andrew kembali menekan pedal gas setelah mesin mobil dinyalakan.
Disisi lain, Celine tengah duduk di kursi kebesaran suaminya. memainkan ponsel sembari menggerutu kesal, mulutnya terus saja bercerocos tidak jelas karena suaminya yang pergi entah kemana.
"Kemana lagi pria ini! pergi kerja tanpa pamit, sekarang entah kemana! di telpon juga gak diangkat, sial!" umpatnya kesal
Celine pun bangkit, bergegas pergi meninggalkan ruangan itu.
Tibalah ia di sebuah Bar yang menyuguhkan ketenangan dengan menikmati minuman memabukkan dan menari mengikuti irama musik yang dilantunkan. membuat penghuni Bar merasa terbuai dan seakan melayang setelah mendapatkan sensasi yang menyenangkan. dan mampu menghilangkan rasa beban yang dipikul.
"Wine satu botol!" pinta Celine kepada Bartender, Bartender tersebut memberikannya sekaligus menuangkan minuman beralkohol rendah itu kedalam gelas.
Celine menerimanya, meneguk minuman keras itu dengan sekali tegukan.
"Akhirnya pekerjaan awal berjalan lancar ya, Lan." Chika menyendoki nasi bersama lauknya ke dalam mulut.
Kedua sahabat itu tengah beristirahat sebentar di ruang makan para pekerja setelah dirasa waktu istirahat untuk keduanya cukup lapang.
"Alhamdulillah, mereka baik-baik sekali sama kita," puji gadis itu
Chika mengangguk, mengunyah makanannya hingga halus
"Bagaimana? apa kamu tidak merasakan mual?" tanya Melani
Chika menggeleng, "Alhamdulillah, enggak. dia tidak rewel," jawab Chika seraya tersenyum, mengelus perutnya
__ADS_1
"Syukurlah, tapi sebaiknya kita periksa aja untuk lebih mengetahui keadaannya. lagi pun kamu belum tau udah berapa usianya,"
"Iya sih, aku juga kepikiran. mungkin libur nanti aku akan memeriksanya,"
"Aku akan temani kamu, tenang aja."
"Terima kasih ya, Lan."
Melani mengangguk sembari tersenyum menatap wanita malang dihadapannya ini. lebih memilih bersama sang buah hati dari pada harus menyerahkannya kepada pria brengs*k itu.
Sebenarnya Chika bisa saja mengenakan alat KB, namun setelah dipikir ia juga ingin memiliki buah hati agar ada sesosok mahkluk yang mampu membuatnya ceria setelah keterpurukan yang ia alami.
Dan Chika tidak ingin Andrew mengetahui keberadaannya, apalagi mengetahui tentang sesosok makhluk kecil di dalam tubuhnya.
"Dia sangat pintar, mau bekerja sama dengan Mama nya agar tidak diambil sama Papa nya," Melani tergelak menunjuk perut datar itu dengan dagunya
"Dia mengerti keadaanku dan mungkin dia tidak mau diasuh sama tangan yang salah." seru Chika cekikikan
"Pasti kamu sering bercerita dengannya, mengeluh tentang hidup yang kamu alami kan," ledek Melani
"Tau aja, hehehe, makanya aku ingin dia ada di dunia supaya ada yang menyemangati hidupku. dan dia sangat pintar dan mengerti,"
"Selain kamu dan dia tidak ada yang ku miliki lagi, Lan." Chika tersenyum kecut
Melani tersenyum miris melihat sahabatnya, sungguh malang sekali. walaupun keluarga tirinya masih ada dan tiba-tiba berperilaku manis padanya, tapi Chika tidak sepenuhnya percaya kepada mereka.
"Kamu tenang aja, aku selalu ada untukmu," ucap Melan
Chika mengangguk paham, mendekati tubuhnya dengan wanita itu lalu memeluknya dengan rasa sayang.
Chika sangat bersyukur memiliki sahabat seperti Melani yang setia kawan dan tidak pernah mengkhianatinya.
__ADS_1
💥💥💥
Wow ... ada anggota baru rupanya 😂