
💥💥💥
Lima tahun kemudian
Tepat pada hari ini, Chika dan bocah nakal yaitu Veer dan Giel sedang berulang tahun atas bertambahnya usia. sang Ibu telah berusia 26 tahun, sedangkan si kembar telah menginjak usia 5 tahun. mereka merayakannya dengan penuh suka cita di taman kediaman istana megah keluarga kecil tersebut, dengan diundang Ibu guru TK beserta teman-teman sekelasnya, Kak Aqila dan juga saudara mereka.
Suasana begitu riuh dan heboh, Veer dan Giel yang kompak selalu berbuat usil dengan teman-teman sekelasnya. mengejar teman sebayanya dengan membawa krim vanila di tangan mungil nan nakal itu.
"Habis kau, Gesel, hahahaha!" Veer mengejar teman perempuannya yang sedang berusaha untuk menghindar.
"Giselle! bukan Gesel!" teriak bocah tersebut. Ia berlari terbirit-birit tengah berusaha menghindar dari bocah tengil itu.
"Ya ampun, Veer!" teriak Chika, kemudian perempuan itu mengambil alih anak keempatnya yang bernama Leonly berusia satu tahun dari tangan Andrew.
"Kamu tangkap anak itu, Yang, sebelum lari kejauhan." titah Chika, sang suami menurut dan mengejar anak pertamanya itu.
Disisi lain, Chika menghembuskan nafasnya dengan kasar tatkala melihat Giel yang sedang membaluri krim vanila di pipi anak laki-laki seusianya.
Chika datang menghampiri anak gadisnya tersebut. "Giel, stop it!" Chika menarik tangan putrinya dan memaksa bocah itu untuk berdiri.
"Mama, lain kali panggil aku, Angel! Giel itu sangat jelek!" protesnya
"Terserahlah! ayo ke kamar mandi untuk membersihkan tanganmu itu! jangan nakal terus sama Rizky."
"Mama, kami itu taruhan karena dia kalah jadinya ini hukuman." Jawab bocah tersebut.
"Mom Chika, sudahlah, tidak masalah, namanya juga ini hiburan anak-anak, biarkan saja sesuka hati mereka yang penting semuanya senang. asalkan tidak berlebihan"
"Angel, enggak boleh di baju ya, nanti Aunty susah nyuci bajunya." Mama dari anak lelaki itu pun menasehati Chika dan putrinya, baginya itu tidak masalah, asalkan masih dalam batas wajar.
Virgiella, yang lebih suka dipanggil Angel pun mengangguk paham seolah menuruti perkataan orang tua itu. "Baik, Aunty. Angel nggak buat lebih lebih kok." gadis itu menurut.
"Anak pintar." perempuan di depannya itu mengelus rambut panjang milik Giel. Chika memperhatikan interaksi keduanya, walaupun anak lelaki yang menjadi korban penyiksaan putrinya pun hanya diam saja tanpa perlawanan
"Maaf ya, Bun, Giel memang suka usil orangnya." Chika merasa tidak enak hati
"Tidak apa-apa, Mom, selagi dalam batas wajar."
__ADS_1
Tidak terasa semua tamu telah meninggalkan kediaman megah milik Chika dan Andrew, tatkala hari sudah menunjukkan pukul sembilan malam. hanya tersisa keluarga kecil Melani, Rafa dan juga Fandi, beserta sang pemilik rumah tersebut. seakan tak ada lelahnya, Veer dan Giel terus saja memaksa anaknya Melani untuk bermain. padahal para bocah-bocah itu sudah ingin melalang buana ke alam mimpi.
"Sekarang ayo kita tidur, lihat, Zagita dan Leonly sudah tidur. Kalian harus tidur juga." ucap Chika kepada si kembar sembari menggendong putri ketiganya yang bernama Zagita, sedangkan putra keempatnya, Leonly berada di dekapan Andrew.
"Mama!" rengek Veer
Andrew yang melihat bocah nakal itu menoleh menatap Assisten Raffa, mengendikkan kepalanya mengarah pada bocah yang sedang merengek itu. Seakan mengerti, Assisten Raffa segera bertindak untuk mengangkat kedua tubuh sikembar usil.
"Uncle, lepas! Kami belum ngantuk." Veer dan Giel memukul pundak Raffa secara bersamaan. Beruntung dua pasang tangan itu masih mungil hingga Assisten Raffa tidak merasa sakit akibat pukulan demi pukulan yang diberikan.
"Kalian sudah besar, harus menjadi contoh untuk adik-adik kalian. nurut sama mama dan papa, jangan melawan!" nasihat Assisten Raffa, Giel mencebikkan bibirnya
"Uncle slalu saja menasihati itu terus, nggak pernah berubah." dengusnya
"Supaya kalian selalu ingat pesan Uncle, nggak boleh jadi anak yang nakal dan harus berbakti pada orang tua."
"Iya-iya!" kedua bocah yang berada di sisi kanan dan kiri secara serempak bersorak tepat di telinga Raffa, membuat pria beranak dua itu mengerutkan wajahnya seolah menahan perihnya gendang telinga di dalam sana.
"Berisik!" geram Raffa, pria itu membuka pintu kamar si kembar
"Nah, sekarang kalian harus tidur dengan tenang. atau tidak, singa betina itu akan mengamuk dan memarahi kalian." Raffa menurunkan kedua tubuh bocah tersebut. tangannya terasa pegal menahan beban berat dari tubuh keduanya.
"Singa betina itu--binatang yang ada di TV." jawabnya
"Terus apa hubungannya singa di tv akan memarahi kami?" tanyanya
"Hmmm, kalau masalah itu tanyakan saja sama Mama, Mama pasti tahu. sekarang kalian tidurlah, besok Uncle ajak jalan-jalan ke manapun kalian suka."
Kedua mata bocah itu seketika berbinar, sudut bibirnya mengembang dan menunjukkan wajah antusiasnya.
"Serius, Uncle?"
"Iya, makanya sekarang tidur."
"Ashiaaaap!!" Veer dan Giel berlari kecil menuju ranjang masing-masing.
**
__ADS_1
"Kita balik dulu, ya, Chik. Anak-anak udah pada tidur." pamit Melani sembari mengangkat tubuh anak sulungnya
"Baiklah, hati-hati untuk kalian."
"Ck, ngapain hati-hati, rumah kita berhadapan juga." cibir Melani
"Ya walaupun dekat, juga mesti hati-hati kan? siapa tahu ada anjing tetangga yang lepas lalu menggigit kamu, ih serem!" Chika bergidik ngeri
"Hahahaha, percuma dong anjingnya dirantai kalau gitu. Ah udah ah, suamiku desak terus tuh."
"Ya ya ya, bye!" Chika melambaikan tangan kepada sepasang suami istri itu yang mulai meninggalkan pelataran rumahnya
"Hah, kalau gitu kami juga pamit, Chik." sela Fandi dan istrinya
"Kalian juga? Ah, nggak seru." Gerutu Chika
"Suamimu yang ngusir kita." bisik Fandi, membuat perempuan beranak empat itu menatap tajam suaminya yang sedang berdiri di ambang pintu sembari meneguk minuman kaleng.
"Apaan sih dia! Padahal kita lagi ngobrol seru, lho." Chika menyentuh bahu istri Fandi
"Lain kali kita lanjut ngobrolnya lagi, Mbak, sekarang kita pamit dulu." sahut perempuan tersebut. Chika mengangguk paham dengan senyum yang dipaksa.
Kini keadaan rumah sudah sangat sepi, hanya ada Bibi yang sedang merapikan mainan anak-anak yang berserakan di mana-mana. Chika ingin membantu, apalagi ini sudah waktunya Bibi untuk beristirahat. namun, sang suami mencegah niat istrinya. Ia terus merangkul pundak Chika dan mengajaknya untuk ke kamar. Chika terlonjak kaget tatkala tubuhnya terhuyung ke belakang, matanya membulat dan hampir saja mulutnya ingin berteriak. ternyata suaminya yang hobi melakukan serangan mendadak itu pun menggendong sang pujaan hati ala bridal style. hampir saja jantung wanita itu copot pada tempatnya, apalagi posisi dirinya yang berada di tengah tapak tangga.
"Sayang, aku terkejut tahu!" Chika memukul-mukul dada sang suami
"Kamu terlalu lambat, sayang. sudah saatnya melakukan kewajiban " Andrew mengerlingkan sebelah matanya
"Nggak mau! hampir tiap hari melakukan itu." Chika mencebikkan bibirnya
"Apa salahnya? kan enak, kamu juga dapat pahala. lagi pula setelah Leon lahir, kamu kembali pakai KB. jadi tidak akan nambah lagi." oceh Andrew, kemudian masuk ke dalam kamar setelah Chika membukakan pintu.
"Iya sih, tapi tadi sore pas mandi, udah. sekarang malah lanjut lagi" cibirnya
"Hanya sebentar." Andrew langsung merebahkan tubuh sang istri di atas ranjang. tanpa banyak kata, dirinya menghujam leher itu dan memberikan beberapa kecupan yang memabukkan hingga membuat perempuan tersebut mulai terurai. tangannya yang ligat, membuka resleting baju di bagian punggung. dengan mudahnya Andrew meloroti dress bermotif bunga yang membaluti tubuh sang istri, hingga hanya menyisakan dua kain yang membaluti harta berharga kesukaan pria itu. Chika dibuat melayang olehnya, merasakan sentuhan hangat di sekujur tubuhnya. kecupan, *******, benar-benar membuatnya gila. kini sepasang anaconda tengah berperang di dalam sana, saling memberikan rasa nikmat untuk lawannya. Chika semakin mempererat lingkaran tangan dileher sang suami, sedangkan kedua tangan Andrew tidak pernah lepas meremas dua gundukan kesukaannya. hingga salah satu tangan berotot itu mulai beralih ke bawah, memberikan sensasi luar biasa pada tubuh Chika.
"Aaah..." Chika mendesah, suaminya benar-benar pandai menguasai tubuhnya. Hingga tubuhnya terasa penuh dan sesak, tatkala anaconda raksasa masuk ke dalam tempat persemayaman nya.
__ADS_1
Suasana di ruangan yang masih terang dengan pencahayaan itu disambut oleh gelombang suara erotis yang menghanyutkan. puluhan bintang di langit seakan tak berkedip saat mendengar suara aksi kolaborasi antar anak manusia itu. Sungguh memalukan, bahkan mereka tidak ada henti-hentinya untuk melakukan itu.
💥💥💥