
💥💥💥
Hiruk piruk Ibukota masih terlihat lengang, tidak terlalu banyaknya kendaraan yang menguasai jalanan Kota. semua orang yang memiliki kegiatan diluar rumah masih sibuk dengan urusan masing-masing. dan sebentar lagi, jalanan harus menampung beban ratusan kendaraan hingga tak ayal kadang di sore hari juga mengalami kemacetan.
Chika meminta Andrew untuk menghentikan mobil di sebuah Taman, banyak pasangan muda yang tengah bersantai ria, duduk di rerumputan dengan kegiatan mereka masing-masing.
Ada yang tengah belajar, ada yang berpacaran, dan ada pula-sepertinya seorang pengamen yang tengah menghitung uang hasil jerih payahnya.
"Yakin disini?" tanya Andrew
Chika mengangguk, "Iya, kadang aku sama Melani suka nongkrong disini sambil menikmati jajanan didekat sini. lihat tuh, ada yang jual siomay, bakso, roti bakar, dan ice cream. jadi pengen, hehehe." Gadis itu cengengesan sembari menunjuk empat pedagang dengan dagangannya masing-masing.
"Dasar modus! bilang aja kalau kamu mau menikmati semua jajanan disini kan?" tebak Andrew, Chika mengangguk dengan memasang wajah imutnya
"Baiklah, sore ini kita makan sepuasnya!"
"Seriously??" Chika menatap Andrew dengan mata yang berbinar-binar, membuat pria itu terus tersenyum melihat wajah antusiasnya.
"Ya! dan sepertinya, menarik juga kalau kita neraktirin mereka semua. hitung-hitung juga membantu pedagang 'kan?" ujar Anndrew, menatap lima onggok sekumpulan anak muda.
"Kamu baik banget sih, Tuan, boleh peluk gak?" tanya Chika
"Tidak boleh memelukku kalau mulutmu itu masih manggilku Tuan!" tegas Andrew
"Hmmm," Chika memutar bola matanya. "Boleh peluk gak, Sayang?"
Andrew tersenyum semringah, merentangkan kedua tangannya dihadapan Chika. tanpa banyak berkata apapun, Chika berhamburan memeluk tubuh maskulin itu dengan erat.
Chika terus mengulum senyum, menghirup aroma tubuh suaminya dalam-dalam sembari memejamkan mata. setelah puas memeluknya, Chika melepaskan pelukan tersebut.
"Terima kasih, aku mau itu, boleh??" Chika menunjuk pedagang bakso
"Tentu saja, ayo kita kesana." Andrew menggenggam tangan istrinya, menarik gadis itu ke pedagang tersebut
Setelah memesan dua mangkok bakso, Andrew meninggalkan Chika yang tengah menanti pesanannya. melangkah ke salah satu kelompok pelajar yang sibuk dengan laptop.
Andrew memanggil salah seorangnya.
"Permisi." ucap Andrew, mereka bertiga menoleh bersamaan menatap pria tampan ini.
__ADS_1
Andrew pun menyuruh si pria berbaju biru untuk mengumumkan kepada semua orang di Taman ini untuk memesan jajanan apa saja yang mereka suka. sontak saja sekumpulan anak muda ini terbelalak kaget mendengarnya, mereka dapat makanan gratis, dan tentu saja mereka sangat senang.
Andrew pun tersenyum, ia kembali menyusuli Chika yang sedari tadi memerhatikan interaksi suaminya.
Tanpa menunggu lama, si pria yang menjadi perantara Andrew bergegas melakukan tugasnya.
Chika mengulum senyum menatap anak-anak muda itu berhamburan menghampiri para pedagang sembari menunduk hormat pada Andrew yang juga memerhatikan mereka.
"Mereka senang sekali." seru Chika, setiba sang suami berada di dekatnya
"Tentu saja, dapat yang gratis." sahut Andrew, menduduki tubuhnya disamping sang istri dan mengambil mangkok miliknya yang diberikan Chika
"Hooh, dan aku juga dapat yang gratisan." Chika tersenyum sumringah, meniup kuah bakso yang dirasa sangat panas
"Kamu harus membayar gratisan ini, Sayang, jangan senang dulu." bisik Andrew, tersenyum licik
Chika mengernyit, mengurungkan niatnya yang ingin melahap bakso. "Maksudnya??"
"Pulang nanti kamu harus bayar semuanya, dengan cara---" Andrew melirik tubuh Chika dari bawah hingga ke atas, menatapnya sensual sembari menggigit kecil bibirnya itu.
Seakan tahu maksud kode ini, Chika menatap prianya dengan tatapan yang sinis. "Mesum!!" cibirnya, ia kembali melahap bakso
Chika tak menanggapinya lagi, ia sibuk melahap baksonya yang telah cukup lama dianggurin karna guyonan pria disampingnya ini.
Puas menikmati bakso, Chika kembali memesan banyak makanan yang ada disana. Siomay, Burger KW atau yang disebut dengan Roti bakar, dan tak lupa juga Ice Cream, jajanan wajib yang Chika beli.
Dan kini gadis itu tengah menikmati makanannya di rerumputan, bersama dengan Andrew.
"Apa gak kenyang perutmu itu?" tanya Andrew, pria ini menyendoki ice cream ke mulutnya
"Belum kenyang, kalau gratis mah gak pakai kenyang-kenyang. rasanya itu pengen disikat semuanya." ujar Chika
"Kau ini! rakus," cibir Andrew
"Gak apa-apa, makanan itu adalah hidupnya wanita. tidak ada makanan, wanita akan lebih galau daripada putus cinta."
"Masa?" Andrew mendelik
"Iya lho, coba aja jadi wanita kalau gak percaya." ketusnya
__ADS_1
"Gak lucu! yang benar saja aku setampan ini disuruh jadi wanita." gerutu Andrew
Chika menatapnya lucu, perempuan ini pun tertawa terbahak-bahak atas kekonyolan yang dibuatnya.
"Aku gak bisa membayangkan kalau kamu berubah jadi wanita." ledeknya, kembali tergelak
"Emangnya saya bencong! berhentilah tertawa!" geram Andrew
"Baiklah-baiklah," Chika menurut
"Awas kau dirumah nanti!" gumam Andrew
***
Telah cukup lama kedua insan ini menghabiskan waktu duduk di Taman sembari menikmati jajanannya, Andrew yang mulai jengah pun mengajak sang istri untuk kembali pulang.
Chika memberengut, padahal baru jam lima sore dan pria ini malah ingin pulang. namun ia terpaksa harus menuruti kemauan suaminya.
Dan kini keduanya telah tiba di Apartement setelah melewati padatnya kendaraan kala sore itu. Andrew menarik cepat tangan sang istri hingga membuat Chika kesulitan menyetarakan langkahnya dengan langkah lebar pria ini.
"Ngapain sih buru-buru?" gerutu gadis ini
Andrew tak menyahut, setiba di depan unit miliknya, ia langsung menekan tombol pasword lalu membuka pintu.
"Aaakkh!" Andrew menarik Chika hingga tubuh wanita itu terhempas di tembok.
💥💥💥
Apa yang terjadi sama Chika?
Babang jangan kasar atuh 😒
Rutinitas paginya yaaa ... nyapu, cupir,
eh salah!
__ADS_1
maksudnya Like, Koment, Vote, Hadiah 😘🎉