Selir, Gairah Pria Kesepian

Selir, Gairah Pria Kesepian
Mengalami Kegundahan


__ADS_3

💥💥💥


"Oh ya, saya lupa, alat itu udah kamu coba??" tanya Andrew, pria itu tengah duduk di sofa kamarnya. sedangkan Chika tengah memasang seprai yang baru di ranjang Andrew. Pria itu yang memintanya.


Seketika saja tangan Chika menghentikan kegiatannya, gadis itu tercenung mendengar ucapan pria tersebut. ia pun teringat akan alat yang dibelikan Andrew tempo lalu.


"Belum." Chika menggeleng, melanjutkan lagi kegiatannya


Entah kenapa perasaannya menjadi sangat sedih bila mengingat perihal bayi, benih dari suami sirinya yang mungkin ia kandung harus berpisah dengannya. bahkan tidak menganggap dirinya sebagai Ibu.


Aku berharap tidak akan mengandung dari benih lelaki ini. sungguh, ku menanti hari itu tiba sampai ku lepas darinya.


Walau--itu berat berpisah dengannya


Batin Chika bermonolog, hatinya bagai teriris-iris bila menyangkut seorang bayi. jika iya suatu hari nanti ia hamil, lebih baik ia memilih membawa bayi itu pergi dari pada mendapatkan kompensasi itu.


Biarlah hidupnya terluntang lantung diluar sana demi mempertahankan bayinya.


Terdengar hembusan kasar nafas Pria ini, Chika tahu Andrew sangat menginginkan keturunan.


"Seharusnya Tuan tegas sama Nyonya Celine! dia itu seorang istri dan mempunyai suami yang kaya, karir bukanlah nomor satu lagi buat seorang istri. tapi suami--dan juga anak." omel Chika di ranjang sana. kini ia beralih memasang seprai bantal


Andrew terdiam mendengarnya,


"Saya sudah mengatakannya berulang kali, tapi dia keras kepala."


"Tuan ini seperti suami takut istri aja," selidik Chika


"Jangan panggil saya Tuan! saya juga gak takut istri," sanggah Andrew


"Oh ya?? tapi lembek banget." cibir Chika


"Saya karena sayang sama dia, membebaskannya meraih cita-cita yang ia inginkan." Andrew menatap ke arah luar jendela, memikirkan istrinya disana


"Emang gak bisa jadi selebriti di Negeri sendiri?"

__ADS_1


"Dia ingin lebih populer, Chika, di dunia Internasional adalah mimpinya."


"Hmmm," Chika bergumam sembari menganggukan kepala


Suasana seketika hening, mereka berdua sudah bergelayut didalam pikiran masing-masing. Andrew yang memikirkan Celine, sedangkan Chika memikirkan tentang hidupnya sendiri.


Sungguh menyedihkan sekali mereka berdua ini


"Kalau gitu aku ke kamar yaa,"


"Eh tapi, apa kamu kembali ke kantor?" tanya Chika


"Ya, sudah banyak kerjaan yang saya tinggalkan di Kantor."


"Baiklah," Chika berjalan ke ruang ganti untuk menyiapkan pakaian suaminya.


Andrew tertegun melihat perempuan itu memasuki ruang ganti, ia sangat mengetahui apa yang ingin dilakukan Chika. hatinya pun terenyuh, entah kenapa perasaannya jadi tidak karuan.


Chika terhenyak merasakan pelukan seseorang dari belakang, ia menoleh kesamping dan ekor matanya menangkap sosok suami yang menenggelamkan wajahnya di pundak Chika.


"Hei, kamu kenapa?" Chika mengendikkan bahunya yang ditompangi Andrew


"Udah jam satu tau! mandi sana," Chika mengingatkan


"Hmmm, rasanya saya malas sekali untuk ke kantor."


"Ih! kasihan Assisten Raffa, dua hari udah ditinggalkan." gerutu Chika, ia terus meronta-ronta


Seketika saja Andrew mendongakkan wajahnya, menelusuri wajah sang istri yang begitu cantik tanpa polesan make-up sedikit pun. mereka terdiam untuk beberapa saat, saling memandang dan menatap sepasang netranya.


Entah perasaan apa, Chika merasakan bila pria ini tengah mengalami kegundahan yang ia tidak tahu apa itu. Sepasang netra milik Andrew seolah tengah berbicara dengan lawannya, mengtransfer apa yang dirasakan Andrew lewat mata Chika. hingga Chika bisa menangkap bila pria ini tengah dilanda kebingungan.


"Eeemh!" Chika kemudian membuang wajahnya ke arah lain. begitu juga dengan Andrew.


"Ayo mandi bersama," ajak Andrew

__ADS_1


Chika terhenyak, "Hah??"


"Mandi bersama," Andrew mengerlingkan mata kepadanya


"Eh, enggak-enggak!!" wanita menggeleng cepat, mencubit lengan pria ini hingga pelukan itu terlepas.


Chika langsung menaruh pakaian kerja suaminya di sofa yang terletak ditengah ruangan. perempuan itu pergi meninggalkan Andrew yang terpaku.


"Chika! tidak ada satu pun mangsaku yang terbebas dari genggaman Macan!" teriak Andrew dengan keras, pria itu mengejarnya, mempercepat langkahnya bagaikan macan.


Bukankah Chika menamainya sebagai Macan?? dan kini ia benar-benar menjadi macan.


Hampir saja wanita itu ingin membuka pintu kamar, Andrew langsung merengkuh tubuh langsing itu ke pelukannya, membawa wanita nakal ini ke kamar mandi untuk melakukan kegiatan mandi bersama.


Mandi bersama? ataukah---ada tambahannya??


Chika terus memberontak, mengayun-ayunkan kedua kakinya dan memukul-mukul dada bidang itu.


"Lepas! aku udah mandi!!" berontaknya


"Mandi lagi biar daki ditubuh mu itu hilang,"


Chika cemberut mendengarnya, "Aku gak ada daki! lepas!!"


Dan Andrew terpaksa menaruh gadisnya di dalam bathup, langsung mengguyurkan tubuh itu dengan air dingin dan disusul oleh air hangat.


"Kyaaaaaaak!!! bajuku basah!" teriak perempuan itu. Andrew tergelak melihat ekspresi wajahnya.


Pria itu pun cepat-cepat membuka seluruh pakaiannya hingga benar-benar polos. Chika terbelalak dan mulutnya menganga lebar melihat pemandangan di depannya.


"Oh Andrew!" Chika menutup kedua matanya. hingga tubuhnya kembali terhenyak merasakan pergerakan di dalam air. ia sedikit mengintip, pria itu udah masuk ke dalam bathup yang sama dengannya.


"Lets make love, Hunny,"


💥💥💥

__ADS_1


Nanti malam dibanyakkin lagi deh 😅😅


Siap-siap Chika meladeni Macan garong 😜


__ADS_2