
💥💥💥
Aysha bangkit, ia bergegas berjalan cepat menuju dapur untuk mengambil sapu. berjalan sembari mengumpat kesal pada kedua orang itu yang juga menyuruhnya untuk harus melakukan hal yang sama.
Ibu merapikan kamar Chika, sedangkan ia membersihkan seluruh rumah ini. sungguh menyebalkan, namun ia tetap tidak bisa berkutik ataupun membantah.
"Mami! mereka menyuruhku bersihin rumah!" rengeknya dengan suara yang pelan.
"Lakukan saja, Aysha! siapa tau setelah ini kita dikasih imbalan." titah Ibu
"Aaaakh!!" ia berdecak kesal, meninggalkan Ibunya yang masih sibuk dengan kegiatan
Disisi lain, setelah memperhatikan kakaknya pergi, Chika menoleh menatap suaminya dengan beragam banyak pertanyaan yang menghiasi pikirannya.
"Kenapa Tuan menyuruh Aysha membersihkan rumah malam-malam begini?" tanya Chika
"Saya sangat tidak suka dengan keadaan rumah yang sangat kotor. mungkin dengan cara begini, kita bisa melihat mereka bekerja. bukankah mereka pemalas? dan menanggung semuanya hanya padamu!" ujarnya dengan nada dingin
"Tau darimana? perasaan aku gak pernah beritahu soal keluargaku," Chika mengingat-ngingat
"Siapa lagi kalau bukan Assisten ku. dia yang selalu ku tugaskan untuk sesekali memerhatikan rumah ini. dan mereka hanya tau berfoya-foya dan menghabiskan uang."
Chika terhenyak mendengarnya,
"Asal kamu tau, Ibumu minjam uang pada rentenir!"
"Apa!!" Chika menjengit, terbelalak kaget mendengarnya
"Ya, makanya saya mengajak kamu tinggal disini, sekaligus melihat mereka apakah mau menuruti perintah saya atau tidak."
Chika hanya diam mendengarnya.
Ddddrrrrrt ....
Ponsel milik Andrew berdering dengan cukup nyaring, ia merogoh ponselnya di saku celana dan menatap siapa yang menelpon. begitu pun dengan Chika, gadis itu turut penasaran.
"Nyonya Celine?"
__ADS_1
"Ya, saya keluar dulu, dari pada mereka dengar." pamit Andrew, diangguki oleh Chika.
Andrew melangkahkan kaki keluar rumah, sedikit menjauh dan mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo, Sayang?"
"Kamu kenapa gak pulang!"
"Maaf, Yang, aku harus keluar kota ... ada masalah sedikit disana, mungkin besok pagi aku akan kembali." Andrew berucap dengan suara yang sendu
"Astaga! malah besok siang aku harus kembali ke Paris,"
"Aku janji jam 9 pagi udah sampai di Jakarta, aku akan mengantarkan mu dan membelikan sesuatu yang kamu suka."
"Benarkah??" terdengar suara Celine yang mulai melunak
"Iya, Sayang."
"Baiklah, pokoknya jam 9 harus udah pulang!"
"Iya isteriku yang bawel, sudah dulu yaa, badanku terasa remuk karna masalah disini yang memprihatinkan."
Andrew memandang ponselnya dengan cukup lama, kemudian menghembus nafas panjang seraya menatap langit-langit yang memancarkan ratusan bintang.
"Maafkan aku, Celine, aku merasa lebih nyaman bersama istri keduaku. walaupun ini pernikahan sementara, tapi rasanya Chika lebih berharga." Andrew berkata sendu, kini hatinya tengah tak karuan merasakan sesak mengingat pernikahan ini hanya berjalan tiga bulan.
Dan entah kenapa Andrew merasa tidak rela melepaskan istri keduanya ini. sungguh, hatinya tengah berperang didalam sini. dan menuntun jiwa dan akalnya untuk terus bersama Chika.
"Ada apa ini!" gumamnya, berdesah frustasi memikirkan perasaannya yang bergejolak.
Di dalam rumah, Chika berdesah frustasi menatap kulkas yang terlihat memprihatinkan. sayuran yang sudah layu, ayam fillet yang sepertinya sudah tidak segar lagi, hanya tersisa beberapa telur yang dirasa tidak mungkin untuk ia olah. mengingat suaminya ada disini, rasanya mustahil kalau ia hanya mengolah telur.
Chika kembali menutup pintu kulkas, dan berangsur meninggalkan dapur tersebut.
"Kakak." panggil Chika, menghampiri kakak tirinya yang sedang membersihkan perabotan yang cukup berdebu dengan kemoceng. sebelah kirinya memegang gagang sapu.
"Apa!"
__ADS_1
"Apa kakak gak pernah masak? isi kulkas gak ada dan sayuran pun udah layu."
"Tinggal beli aja, apa susahnya." gerutu Aysha
Chika menghembus nafas dengan kasar, bisa-bisanya jawaban wanita ini segampang itu.
"Mentang-mentang udah jadi bini orang kaya jadi sombong sekali kamu- yaa!" Ibu datang, ikut menyela ucapan putrinya. kemudian menjitak kepala itu dengan jari telunjuk miliknya
"Hentikan!!" Andrew datang menghampiri, bagaikan malaikat penolong untuk Chika yang sedang diserang oleh dua iblis itu.
"Ada apa ini!" ia menatap tajam pada Mertua dan Kakak iparnya
"Eh, hmmm---" Ibu tampak gelagapan
"Gak apa-apa, Yang, isi kulkas kosong jadi aku gak bisa masak." sela Chika
Mendengar penuturan istrinya, seketika Andrew menatap tajam dengan lekat wajah wanita parubaya ini yang hanya bisa menunduk kala ada dirinya.
"Apa tugas Ibu udah siap?" tanya Andrew, wanita itu mengangguk
"Kalau begitu, belikan makan malam untuk kita berempat. apa saja, yang penting enak dan mengenyangkan," titah Andrew
"Eh??" Ibu menjengit
Andrew memutar bola matanya, merogoh dompet didalam saku celana dan mengambil beberapa lembar uang merah, memberikannya pada Ibu.
"Pergilah, dan juga singgah ke Supermarket untuk beli kebutuhan masakan sama buah-buahan." ucapnya dengan penuh penekanan, menyodorkan uang itu pada sang mertua.
Ingin rasanya melawan, ingin rasanya membantah, namun ia merasa segan mengingat pria ini sangat tajir dan juga menantu yang diharapkannya. walaupun benci, entah kenapa Ibu hanya bisa membungkam dan tak berani membantah apa yang diperintahnya.
Ibu mengambil uang itu, kemudian menatap tajam anak tirinya lalu berlalu pergi.
"Yang, kenapa gak kita aja yang belanja? kasihan Ibu," gerutu Chika
"Biarkan saja, mereka perlu diberi pelajaran." bisik Andrew
Aysha yang berada didekat mereka, hanya bisa diam dan sedikit menguping percakapan itu.
__ADS_1
💥💥💥
Ayo, masih pilih hotel, rumah baru, atau sarang laba-laba?? 😂