
💥💥💥
Andrew terlihat sangat frustasi, ia berdiam diri di dalam mobil sembari memikirkan dimana Chika berada. hingga ia teringat akan keluarga tiri gadis itu, membuat Andrew kembali bangkit dan bergegas menyalakan mesin mobilnya.
Tibalah di pelataran kediaman sederhana milik sang istri kedua, Andrew bergegas turun tanpa banyak berfikir lagi. ia mengetuk pintu dengan cukup kuat seakan keadaan begitu mendesak dirinya.
Hingga pintu terbuka menghentikan ketukan pria yang dilanda frustasi ini.
"Menantu, ada apa?" tanya Ibu, menatap heran
"Mana Chika, Bu?" tanya Andrew dengan tatapan datar nan dingin
"Lah--bukannya sama kamu?" Ibu semakin heran
Andrew memutar bola matanya, ia sangat anti dengan yang namanya basa basi. Andrew menerobos masuk ke dalam rumah dan berteriak menyebut nama sang berlian.
"Chika!"
"Chika!!"
Andrew memasuki kamar sang istri bagaikan tengah kesurupan, mencari ke kolong tempat tidur, ke dalam lemari pakaian, namun tak jua ia temui. kamar ini benar-benar sudah mati, tidak ada lagi kehidupan didalamnya.
Andrew keluar kamar, membiarkan Ibu dan Aysha terpelongo melihatnya.
"Kenapa dia, Mi?"
"Entahlah, apa Chika kabur? apa yang terjadi?" Ibu tak kalah bingungnya
"Chika!!" suara bariton itu kembali menggema, memekakkan telinga kedua wanita ini
Andrew pun membuka pintu kamar mandi, apa yang dicarinya benar-benar tidak ada.
"Chika tidak kemari, Andrew, ada apa dengan kalian?" Ibu akhirnya mengeluarkan suaranya untuk bertanya perihal putri tiri nya
"Chika kabur, saya tidak tau kenapa," pria itu terduduk lesu di kursi meja makan
"Kalian berantem?" tanya Ibu dengan hati-hati
__ADS_1
"Tidak, aakh! lebih baik saya pergi. maaf mengganggu, Bu. kalau Chika pulang, hubungi saya!" Andrew memberikan kartu namanya yang tertera nomor ponsel pria itu
"Baiklah."
Andrew melenggang pergi meninggalkan kediaman sederhana ini. ia memasuki mobil dan entah harus kemana ia mencarinya.
Andrew mendatangi Kantin, ia teringat bila Chika memiliki sahabat yang bekerja di Kantin perusahaannya. dengan langkah cepat ia terus berjalan menghampiri penjaga kantin tersebut.
"Tuan, ada apa?" tanya Ibu kantin tatkala melihat Tuannya menghampiri
"Melani kerja siang nanti?" tanya Andrew
"Oh, dia sudah resign, Tuan. pengunduran diri udah ia ajukan ke HRD," ujar Ibu penjaga kantin
"****!!" umpatnya kesal
Andrew menatap para pegawai kantin yang juga turut berkumpul menatapnya,
"Ada yang tau kenapa Melani resign?"
Mereka secara serempak menggeleng, "Tidak, Tuan."
"Baiklah, saya pesan makanan yang enak dan mengenyangkan. bawa ke ruangan saya," titah Andrew pada penjaga kantin
"Baik, Tuan."
Andrew melenggang pergi setelahnya, ia melangkah memasuki lobi dengan wajahnya yang tidaklah bersahabat. kini wajah dingin telah mendominasi ketampanannya, tanpa ada seutas senyuman yang kembali terbit di kedua sudut bibirnya.
Di ruang kerja, Andrew tampak tidak bersemangat untuk menjalani rutinitas hari-harinya. seakan kehilangan gadis itu mampu melenyapkan dunianya. Ternyata kepergian Chika lebih berdampak buruk pada suasana hatinya bila dibandingkan dengan kepergian Celine, cinta masa remajanya.
Chika sang berlian yang begitu berharga, sinar kehidupannya, matahari di dunianya. kini telah menghilang bak lenyap di telan bumi yang kini hanya memberi kegelapan pada hari-harinya.
Andrew kemudian meraih gagang telepon di sisi kanan mejanya, menghubungi seseorang untuk memerintahkan hal yang sangat penting.
"Kerahkan semua anak buahmu untuk mencari Chika! sampai dapat!!"
**
__ADS_1
Disisi lain Chika dan Melani baru saja mendapat arahan dari atasannya. kedua sahabat ini sungguh beruntung, bisa bermagang ditempat yang sama pada sebuah Hotel berbintang 5 di Ibukota, menjadi Assisten Chef sebagai permulaan untuk menambah ilmu dan pengalaman.
Pagi ini sebagai awal baru untuk bekerja magang, Chika dan Melani berpisah bersamaan. keduanya menghampiri Chef andal yang tengah bergulat dengan alat masaknya.
"Permisi, Tuan." sapa Chika
Chef itu menghentikan sejenak kegiatannya, menoleh menatap gadis cantik yang menyapanya.
"Iya??"
"Hmm, kenalkan saya Chika, anak magang baru ditugaskan menjadi Assisten Tuan." jelas Chika dengan sopan
"Oh, baiklah. saya Frans, senang berkenalan dengan kamu." pria itu mengulurkan tangannya pada Chika
Chika menyambutnya, "Terima kasih, Tuan."
"Ck! jangan panggil Tuan, Kak Frans aja." tukas pria yang berusia sekisar 30 tahunan. tak kalah tampan dari Andrew
"Hehe, baiklah, Kak."
"Kita bisa mulai sekarang? sebentar lagi makan siang tiba."
"Bisa, Kak."
"Baiklah, kamu iris-iris dulu yang disana, kalau tidak paham beritahu saya."
Chika mengangguk, perempuan itu pun mulai melakukan tugas yang diperintahkan oleh Chef tampan ini.
Chika melakukannya dengan cekatan, seakan pisau dapur dan alat lainnya memang sudah menjadi bagian dalam hidupnya. bagaimana tidak, di Kampus ia mempelajari seluruhnya. taktik jitu dalam memotong yang benar, bahkan mengkreasi makanan dengan mengikuti seni.
Apalagi ia juga bekerja di sebuah kafe, menjadi Assisten koki. hingga kemahirannya tidak perlu diragukan. bahkan Chef tampan tersebut diam-diam memerhatikan cara kerjanya.
Dia kagum pada gadis ini.
💥💥💥
Kagum sama kemahirannya yaa, bukan sama orangnya 😂😂
__ADS_1
Like lagi, koment, vote dan hadiah poinnya 😉