
💥💥💥
"Jadi Tuan dan Nona ingin mengesahkan pernikahan kalian secara Negara?" tanya seorang pria berparas tampan yang memiliki usia sekisar 30 tahunan, lebih tua dari Andrew
"Ya, tentu saja. makanya aku memanggilmu kemari,"
"Baiklah, apa sudah dipersiapkan segala berkas-berkasnya? surat permohonan, Ktp dan Kk,"
Andrew melirik ke arah Assisten Raffa, pria itu dengan cekatan menyodorkan beberapa berkas penting yang telah ia persiapkan kepada sang Pengacara.
"Baiklah, saya akan kirim ini ke Pengadilan, semoga secepatnya Tuan dan Nona melakukan sidang isbat."
"Ya, segerakanlah! saya tidak butuh waktu lama."
"Semua ada proses hukum, ohya, ini tolong di isi formulir pemohon dulu, Tuan." Pengacara menyodorkan dua lembar kertas untuk kedua pihak pemohon. Chika dan Andrew pun meraihnya, kemudian segera mengisi formulir tersebut dengan baik dan benar.
Tidak butuh waktu lama, dua lembar kertas itu dikembalikan setelah mereka mengisinya.
"Baiklah kalau begitu, saya permisi." pamitnya, menyalami anggota keluarga tersebut dan berpamit pergi.
Langkah pertama telah selesai, mengisi formulir dan menyerahkan segala persyaratan untuk mengajukan isbat nikah yang akan dilaksanakan oleh Andrew dan Chika kepada Pengacara.
Kedua insan ini hanya tinggal menunggu keputusan untuk melaksanakan sidang nantinya ke Pengadilan, dan kali ini Chika benar-benar merasa berdebar bila hari itu tiba.
Mereka berharap bila pihak Pengadilan akan mengesahkan pernikahan mereka secara resmi dengan keadaan lancar dan tanpa hambatan.
"Raffa, terima kasih yaa, kamu sudah berkenan membantu untuk mendapatkan surat permohonan dari KUA itu," Papi menepuk pundak Assisten putranya
"Sudah tugas saya, Tuan, tidak masalah kok," ujarnya, sembari mengulum senyum
"Assisten Raffa memang baik, seharusnya kan ini tugas Mas Andrew, ya kan, Mi?" seru Chika kepada Maminya, sekilas ia melirik suaminya yang tengah menatap tajam padanya.
"Kamu betul, Menantuku! dia terus saja menempel padamu, Mami heran." perempuan parubaya itu menggelengkan kepalanya, meledek putranya.
Seolah-olah kedua wanita berbeda generasi itu tengah merendahkan seorang Andrew yang tampan ini secara halus, memuji-muji Assistennya hingga membuat Andrew menatap kesal.
__ADS_1
Chika cekikikan menatap raut wajah suaminya, ia tahu sekali kalau suaminya sangat tidak menyukai bila Chika memuji pria lain.
"Mami, Macannya merengut." bisik Chika, diangguki oleh Mami keturunan bule asli ini.
"Raffa, pergilah! tugasmu udah selesai," usir Andrew
"Baik, Tuan. saya permisi Nona, Tuan, Nyonya." pamit Raffa, kemudian menyalimi anggota keluarga ini
"Hati-hati, Raffa." pesan Mami, pria itu mengangguk.
**
Di belahan bumi bagian lain, Mantan istri Andrew, yaitu Celine, wanita itu baru saja tiba di Amerika saat malam sudah sangat larut. kini perempuan itu telah menginjakkan kaki di lantai Apartement milik kekasih gelapnya.
Ia tampak merengut, tiada senyum cerah sedikit pun yang terpatri di kedua sudut bibirnya. Celine menekan tombol di panel pintu, tombol pasword yang memang telah diketahui oleh wanita ini.
Namun, Celine mengernyit heran, entah kenapa tombol itu tidak berfungsi sama sekali. padahal ia sudah menekan tombol sesuai pasword yang di miliki Victor, kekasih gelapnya.
"Sial! kenapa gak bisa? apa dia menggantinya?" gumam Celine
Ting tong! Ting tong!
"Oh Tuhan, kemana pria ini? apa dia ke Bar? telfon juga gak diangkat!" gerutunya
Celine terus saja memencet tombol bell, hingga ia tersentak kaget mendengar suara pintu yang dibuka secara kasar dari dalam.
"Celine," pria itu terpaku menatap wanita ini sudah ada di depan Apartemennya
"Victor, kenapa lama sekali kamu membuka pintu," cerca wanita ini, berhambur memeluk tubuh basah pria itu
Victor merengkuh kedua pundak Celine dengan kuat, kemudian mendorongnya, alih-alih ingin dijauhi.
Celine mengernyit heran, "Ada apa denganmu?"
"Jangan pernah kesini lagi, Celine! kita putus!" tegas Victor, pria itu langsung menutup pintunya kembali.
__ADS_1
"Victor!! apa maksudmu!!" Celine tercengang, perempuan itu terus mengedor-ngedor daun pintu Apartement tersebut dengan cukup kuat, tidak mempedulikan keadaan sekitarnya.
Di dalam sana, kekasih gelap bernama Victor, tidak lagi mempedulikan Celine. pria ini kembali ke kamar dengan perasaan acuh pada wanita diluar sana, ia sangat kesal pada Celine, entah apa masalahnya.
"Siapa, Sayang?" tanya wanita yang berbaring di ranjang pria itu dengan tubuh polosnya
"Aktris jal*ng itu," jawabnya
"Celine??" ia terduduk, pria itu langsung membaringkannya kembali dan mengukung wanita itu di bawah tubuhnya
"Tenang saja, dia tidak akan mengusik kita lagi." ucapnya dengan nada sensual, kemudian memasuki tongkat saktinya ke dalam sangkar milik wanita itu.
Sedangkan Celine, perempuan itu semakin kesal. ia melenggang pergi dengan menyeret kopernya sembari mengumpat semua orang yang sudah mencampakkannya.
"Ini semua gara-gara kau, Andrew!!l"
**
"Papi, kedua wanita itu benar-benar memperdayaiku." keluh Andrew, anak dan Ayah itu tengah menenteng barang belanjaan Chika dan Mami Chaterine
Papi menenteng paperbag yang berisi beberapa pakaian, tas dan sepatu. Sedangkan putranya mengangkut barang belanjaan bahan pangan.
"Sudah ... telfon saja anak buahmu buat ngambil barang-barang kita," usul Papi
"Papi kan udah dengar kalau Chika gak mau kalau ini semua diambil alih sama anak buahku."
"Nasibmu lah, Nak." Papi menepuk pundaknya
"Aha! itu ada stroller, pakai itu aja, Pi." mata Andrew berbinar-binar tatkala ia melihat stroller yang lagi nganggur. ia bisa mengenakannya kemana saja saat berada dimana pun.
💥💥💥
Dasar suami takut istri 😂
Ayo Like koment vote dan hadiah poinnya yaa 🎉
__ADS_1