
💥💥💥
"Beres! sekarang kita bisa santai berdua," ucap Chika, mengibaskan kedua tangannya sembari memerhatikan mobil milik Raffa yang mulai menjauh dari pandangannya
"Walaupun tidak ada senyuman di wajah mereka, setidaknya tugas kita selesai, Sayang." seru Andrew yang tengah merangkul pundak sang istri
Mereka tersenyum ceria, merasa puas akan rencana yang telah dibuat
"Hhh ... aku berharap mereka bisa saling mencintai, asalkan Assisten Raffa memang layak untuk sahabatku." lirih Chika
"Jangan ragukan Assisten ku itu, dia orang yang sangat baik, sudah lama bekerja dengan kakekku."
Chika mengangguk paham
"Ya, begitu pula dengan Melani. jadi mereka cocok, bukan?" Chika mendongak menatap wajah suaminya yang teramat manis bak gulali yang dijual di sekolahan
"Tentu saja, tidak mungkin Melani cocok denganku." ketus Andrew,.sontak saja ia langsung mendapat cubitan pada perutnya
"Nakal!!"
"Tanganmu lebih nakal, Sayang, mencubit tidak kira-kira."
"Mulutmu yang lebih parah!" Chika melenggang pergi meninggalkan suaminya, ia masuk melalui pintu utama kediamannya
Kini keduanya kembali ke ruang keluarga, berkumpul dengan Mami yang masih asyik menonton film Anaconda yang berlatar di Kalimantan itu, sungguh menegangkan, Mami tidak pernah berkutik dari layar kaca tersebut
"Wow, Mami! kenapa si Jack jadi jahat?" Andrew tercengang melihat salah satu kelompok itu mengacungkan pistol pada wanita yang paling cantik di film itu
"Dia sungguh serakah, mengkhianati teman-temannya dan menyuruh Samanta untuk mengambil anggrek itu."
"Malah harus melewati jembatan neraka itu pula! aduh," Mami menepuk jidatnya sembari menatap layar kaca tersebut
"Astaga, benar benar menyebalkan. hanya karena uang?" seru Chika
"Memang seperti itulah persaingan sengit, Sayang, tidak hanya mereka saja. dalam bisnis pun juga tak kalah mengerikan." ujar Andrew
__ADS_1
Chika menggeleng-geleng kepala mendengar penuturan suaminya.
"Sungguh membagongkan."
**
Pagi ini, sang penguasa langit tengah malu-malu untuk menampakkan diri kepada semua makhluk penghuni bumi di bawah junjungannya. menyebabkan suasana alam Ibukota terlihat sedikit kelam dan kelabu, tidak secerah seperti biasanya.
Hawa sejuk pun menguar hingga ke permukaan kulit, rerumputan terlihat basah meninggalkan setitik air yang masih melekat di permukaannya.
Suasana yang begitu mendukung, tidak ada lagi sang pengganggu yang selalu membuat ulah kepada insan yang masih bergelung di dalam selimut tebalnya. kini sang pemilik jiwa merasa bebas, bisa memilih waktu kapan saja ia akan bangkit dari tidurnya.
Seperti halnya sepasang suami istri itu, keduanya masih bergelung di dalam selimut yang hampir menutupi seluruh tubuhnya. Chika dan Andrew terlelap dengan wajah lelah yang terlihat jelas pada wajahnya, setelah pergumulan panas mereka lakukan hingga dinihari tadi.
Hingga, ketukan pintu berkali-kali yang berakhir dengan sangat keras, mulai membangunkan salah satu dari mereka.
Andrew mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, mengerutkan dahi menatap suasana kamar yang masih remang-remang. ia menatap ke jendela, hari sudah terang namun tidak menyengat seperti biasanya.
Tok tok!
"Andrew!!" teriak seseorang dari luar sana
Ceklek
Andrew tertegun melihat sang Mami yang telah berdiri tegap di depan kamarnya.
"Mami?"
"Hoaaam!" ia menguap
"Jam berapa tidur? kenapa masih mengantuk? lihat, jam di kamar mu sudah pukul setengah delapan!" omel Mami, Andrew menuruti apa kata Maminya, sontak saja ia terbelalak menatap jarum jam digital itu
"Oh astaga! bagaimana bisa, Mami?" ia membulatkan mata pada Mami Chaterine
"Tentu saja bisa! bumi ini selalu berputar, tidak seperti otakmu yang hanya diam ditempat." ketus Mami
__ADS_1
"Santailah, Mi. cuacanya mendukung sekali untuk tidur, tidurku nyenyak sambil dengarin derasnya hujan."
"Lekaslah mandi! dan--mana menantuku?" perihal sang menantu, Mami berkata lembut pada putranya
"Dia masih tidur, maklumkan saja, Mi. dia hamil tua, jangan diomelin." lirih Andrew dengan wajah yang memelas
Mami mengangguk paham sembari mengintip dari balik ketiak putranya
"Ya, lagian Mami tidak mungkin memarahi menantu Mami. sekarang kau mandi lah! Assisten Raffa sudah menunggu."
Andrew mengangguk, ia segera menutup pintu dan mulai membersihkan diri.
**
"Kenapa anda lama sekali, Tuan? pantat saya sudah berbisul karena menunggu anda." ketus Assisten Raffa seraya menyetir mobil
Bugh!!
Seketika Andrew menendang bangku yang di tempati Assistennya
"Beraninya kau!"
"Ohya, jangan lupa gaji saya dinaikkan."
Andrew mengernyit heran, "Atas dasar apa?"
"Karena kalian selalu mengerjai kami." selorohnya
"Cih!" Andrew memutar bola matanya, "Itu demi kalian juga, sampai kapan kau harus menjomblo disaat kau sudah tua begini? lagi pula Melani adalah gadis yang baik." cerca Andrew
Assisten Raffa hanya diam saja, tidak tahu harus berkata apa kepada atasannya. lagian benar juga, tahun ini ia akan memasuki usia 32 tahun dan masih melajang disaat teman-temannya sudah pada menikah.
Melani? sejauh ini ia hanya menganggap wanita itu adalah teman, sekaligus teman adu mulut.
💥💥💥
__ADS_1
Adu mulut?? adu mulut bagaimana, bang? otak otor jadi traveling 😂
Is, jangan salahkan bang Raffa, kan otor yang nulis adu mulut 😜