
💥💥💥
Chika merasa lega akhirnya magang pertama telah selesai dengan baik dan lancar tanpa hambatan, menjadi seorang Assisten Chef yang memulai kegiatannya saat jam-jam tertentu. apalagi ia yang sebagai anak magang hanya bekerja dari pagi hingga sore hari.
Chika dan Melani beserta anak-anak magang lainnya baru tiba di dalam mes masing-masing. beristirahat setelah kegiatan yang melelahkan mereka lalui.
Chika dan Melani menyalimi tangan Ibu Melani, beliau ikut bersama mereka sebab bila di kediaman lama Ibu akan merasa kesepian dan tiada yang mengurus.
Apalagi Ibunya pengidap tunawicara
"Kami pulang, Ma." ucap Melani, menyalimi tangan Ibunya, diikuti Chika
"Bagaimana pekerjaan kalian hari ini?" Ibu menggunakan bahasa isyarat dengan menggunakan kedua tangannya, dan kedua gadis itu sangat mengerti apa yang dikatakan Ibu
"Alhamdulillah lancar, Ma, dan sangat menyenangkan."
"Alhamdulillah, sekarang kalian mandi sana, Mama akan memasak untuk kita." titah Ibunya Melani
Kedua gadis itu pun mengangguk, Melani menoleh menatap Chika yang hanya menyimak sedari tadi.
"Kamu aja yang duluan mandinya, Chik."
"Oke, lagian juga udah gerah banget. hehehe," Chika beranjak bangkit kemudian ia ke kamar untuk mengambil handuk.
Bersyukurnya pihak Hotel membolehkan Melani untuk membawa orang tuanya ke Mess, dengan beralasan tiada yang mengurusnya dan jarak rumah dengan hotel sangatlah jauh. Melani tidak mungkin untuk berbolak balik setiap hari ke kediaman lamanya karena akan menyita banyak waktu.
Lagi pula dalam hal ini juga ada untungnya buat Chika, tidak adanya Ibu dan Melan di rumah itu pasti membuat orang-orang Andrew akan kesulitan untuk menemui jejak Chika.
**
Disisi lain, di tempat yang sangat berbeda dan jarak yang cukup jauh, dua orang pria tengah duduk di sofa sebuah Bar yang cukup besar di Ibukota.
Andrew, pria itu mengajak Assistennya ke tempat seperti itu untuk sekedar menghilangkan beban pikiran dengan menikmati alunan DJ yang berdentum sangat kuat. ditemani dengan beberapa botol minuman beralkohol yang mampu membuat Andrew melayang dengan fantasinya.
"Oh Chika," pria itu tak henti-henti minum, sudah beberapa botol ia habiskan. namun beruntung bila minuman yang ia pilih memiliki kadar alkohol rendah.
"Tuan, sudah minumnya!" teriak Raffa, merebut botol tersebut dari tangan pria ini
__ADS_1
"Oh, ****!! kembalikan!" Andrew meninju wajah itu hingga membuat Raffa mengerang kesakitan. Andrew kembali merebut minumannya, meneguknya hingga berkali-kali
"Astaga, dia benar-benar terpuruk." gumam Assisten Raffa
Pria itu merogoh ponselnya untuk menghubungi anak buah mereka.
"Datanglah ke Bar xxx, mengurus bos kalian!"
"Baik, Tuan!"
Panggilan pun diputuskan secara sepihak oleh Raffa. Raffa menatap iba pada Tuannya, pria gagah yang terkadang bersikap dingin, kini sudah terpuruk akan kehilangan cinta sejatinya. Pria gagah yang menjadi lemah hanya karena seorang wanita sederhana seperti Chika.
Entah bagaimana reaksi Celine di Apartement, mungkin saja wanita itu sudah mengamuk karena tidak mendapati suaminya, pikir Raffa. mengingat tadi siang wanita itu ke ruangannya dan bercerocos tidak jelas bahkan memaki Raffa yang tidak ada sangkut pautnya. dan ia jengah dengan wanita itu.
Wajar saja jika kini hati dan pikiran Tuan Andrew telah berpaling pada sosok yang lembut, perhatian dan sederhana. yang paling terpenting adalah mampu mengurus suami sirinya.
Dan pria malang disampingnya ini benar-benar kehilangan berlian yang sangat berharga.
Sungguh menyedihkan bagi Raffa
Hingga tidak terasa tiga orang anak buah mereka telah tiba, mereka menghampiri dua pria yang duduk di sofa dengan keadaan yang sangat berantakan.
Andrew mengerang saat dirasa kedua tangannya tengah di pikul. Andrew mengerjap-ngerjapkan matanya yang teramat sayu, menoleh ke kanan dan ke kiri untuk melihat siapa yang berani membawanya.
"Siapa kalian! lepas!!" Andrew memberontak, namun pegangan tidak merenggang sedikit pun
"Anda harus pulang, Tuan!" ucap salah satu dari mereka
"Jangan pisahkan aku sama Chika, dia melihat aku disana bersama anak kami. hiks hiks," dia mulai ngawur
Ketiga anak buah itu saling bertatapan, sangat bingung. entah ada apa dengan Bos mereka yang galak dan dingin ini, tiba-tiba menjadi sad boy atau pria menyedihkan.
"Chika! jangan tinggalkan aku!"
"Lepas!!" ia kembali memberontak, menunjukkan wajah garangnya yang sudah memerah
Mereka tidak mempedulikannya, hingga tiba diluar area Bar seketika saja rasa menyakitkan itu kembali bergejolak. Andrew pun langsung memuntahkan segala isi didalam lambungnya, hanya cairan putih yang memiliki sedikit gas.
__ADS_1
Andrew kembali mual, mereka melepaskannya dan pria itu berjalan ke tong sampah untuk memuntahkan kembali isi perutnya.
Uwek!!
Uwek!!
"Tuan!" Assisten Raffa menepuk-nepuk punggung pria itu seraya menoleh ke anak buahnya
"Cari air mineral, cepat!!" titahnya, mereka menurut
Uwek!!
**
"Raffa, ada apa dengan Tuan Andrew?" Ibu Raffa menyambut anak dan boss anaknya
"Dia mabuk, Ma, biarkan dia nginap disini yaa." pinta Raffa
"Ya ya masuklah, Mama buatkan teh hangat!" Mama Assisten Raffa pun bergegas ke dapur untuk membuat teh hangat
Sedangkan Andrew dibaringkan diatas ranjang milik sang Assisten, Raffa dengan cekatan membuka sepasang pantovel yang melekat di kaki Andrew beserta kaus kakinya.
"Tuan, duduklah, buka bajumu." titah Raffa. Andrew yang masih setengah sadar pun melakukannya. hingga Mama datang membawa segelas teh hangat.
Kini malam pun semakin larut, kedua pria yang tidur seranjang tampak terlihat sangat pulas. namun itu berlangsung sebentar, Andrew terbangun dengan wajahnya yang kusut.
"Raffa!" Andrew menduduki tubuhnya, menepuk pundak sang Assisten
"Raffa!" ulangnya lagi
Raffa mulai terusik,
"Eeemmh ... apa lagi??" suaranya terdengar serak
"Pengen seblak."
💥💥💥
__ADS_1
Mimpi ya bang?? 😂😂
Yuk like koment vote dan hadiah poinnya 😉