
💥💥💥
"Ehem! sepertinya ada yang berbahagia nih," sindir Chika dari belakang sana.
Assisten Raffa dan Melani yang merasa disindir, mereka saling bersitatap
"Siapa?" tanya Melani, menoleh sedikit ke belakang
"Pura-pura gobl*k!" gumam Andrew
"Tentu saja kalian." gerutu Chika
"Pppfffft! biasa aja kali, Chik, kami itu berteman, best friend."
"Emangnya ada yang bilang kalian itu berpacaran?" sanggah Andrew, membuat Melani terdiam karena dirinya salah mengartikan maksud kalimat itu
Didepan sana, Assisten Raffa menepuk jidat sembari menggeleng-gelengkan kepala. sedangkan Melani merasa tersipu malu dengan pipinya yang merah merona bak kepiting rebus
"Hah, lucu sekali." ledek Andrew, merangkul pundak sang istri lalu mengecup bibirnya. seolah-olah ia tengah memancing pasangan itu
Assisten Raffa yang melihatnya hanya bisa menelan saliva dengan kasar. Andrew menaikkan salah satu alisnya ke atas sembari menatap Assistennya di balik pantulan spion depan.
"Pamer!" gumam Raffa
Tanpa terasa mobil yang membawa dua bidadari itu pun telah tiba di Chika's Resto, sang pemilik menyalimi punggung tangan sang suami terlebih dahulu sebelum kedua kakinya menginjak tanah yang dilapisi oleh batu.
"Aku masuk dulu, Sayang." pamit Chika
__ADS_1
"Hmmm, rasanya sungguh sulit bila melepaskan dirimu, Hunny." Andrew mengatupkan kedua pipi istrinya, mengecup belahan kenyal kesukaannya sejenak. dua orang di depan yang menatapnya sekilas pun dibuat terpelongo, bisa-bisanya menunjukkan kemesraan di depan mereka
"Nanti siang kamu bisa kesini, Sayang, atau kita pulang melihat si kembar."
"Ya, tentu saja, aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu." Kemudian keduanya saling berciuman, beradu anaconda didalam sana dalam waktu yang singkat
Sedangkan dua orang di depan tidak berani untuk mengintip sedikit pun.
"Ehem! ehem! dilarang mesum di mobil ini!" sindir Assisten Raffa, sebenarnya dirinya juga sangat ingin melakukan hal itu
Mendengar sindiran itu, membuat Andrew dan Chika melepaskan pagutan mereka.
"Huh, kita lanjutkan nanti ya, Sayang, aku harus bekerja. bye!" Chika melambaikan tangan pada suaminya seraya membuka pintu mobil, begitu pula dengan Melani yang ikut menyusul
Disisi lain, di kediaman Andrew, Robert tampak kesepian sekali karena ia baru saja mengetahui bila gadis pujaannya akan bekerja di sebuah Perusahaan, tanpa mengetahui jabatan yang disandangnya. pria itu kini tengah melakukan gym di ruang olahraga, untuk menumbuhkan otot-otot tubuhnya agar terlihat lebih jelas lagi.
"Bi, si kembar mana?" tanya Robert yang berpapasan pada Bibi, pria itu terlihat lebih segar setelah melakukan kegiatan olahraga
"Ada di kamarnya, Tuan, bersama babysitter."
"Terima kasih." ia kembali naik ke atas melewati beberapa anak tangga. setiba di depan kamar, pria itu terlebih dulu mengetuk pintu. hingga tidak perlu menunggu lama, daun pintu tersebut dibuka dari dalam oleh pengasuh keponakannya yang cantik dan tampan
"Tuan."
"Apa mereka sedang tidur?" Robert menerobos masuk ke dalam kamar tersebut
__ADS_1
"Oh, lagi main. kalian bisa pergi," usirnya secara halus. mereka pun mengangguk dan beranjak pergi dari ruangan tersebut.
Robert menatap hangat bayi kembar yang sedang bermain dengan mainan yang digenggamnya, tangan mungil itu menggenggam erat mainan yang menghasilkan bunyi disalah satu alat rebana. Sangat menggemaskan, melihat pemandangan didepannya saja sudah membuat jiwa kebapakan dari seorang Robert mulai menjalar.
Ia mengulum senyum pada dua bayi tiga bulan yang begitu asyik dengan dunianya masing-masing, seolah tidak mengetahui keberadaan Pamannya yang sedang berdiri menatap mereka
"Hai Veer, Giel." sapa Robert, namun mereka tetap tidak mempedulikan suara itu
Ya, maklum saja, saat ini mainan yang digenggam dirasa lebih seru dari pada menanggapi suara bariton itu
"Hah, kalian ini benar-benar menggemaskan." geram Robert. pria itu mendekatinya, duduk dihadapan kedua bayi itu diatas karpet berbulu berwarna biru
"Seseru itu ya, mainannya, hm?" tanya Robert, mengambil mainan yang lain dan melakukan hal yang sama seperti tangan mungil itu. hingga perhatian mereka teralihkan pada genggaman tangan pria dewasa ini.
"Ehe!" Giel tertawa kegirangan, mengayunkan kaki dan tangannya secara bersamaan
"Woohoo! kau mulai merespon, gadis cantik!"
"Boleh uncle cium?"
"Tentu saja, Uncle tampan." jawabnya sendiri menirukan suara bayi perempuan
Cup cup cup cup
Begitu banyaknya kecupan yang ia berikan kepada baby Giel, membuat gadis itu memejamkan mata sembari terkekeh khas bayi.
💥💥💥
__ADS_1