
💥💥💥
"Tuan, hari ini kita ada kunjungan bertemu dengan Klien dari Perusahaan xxx." ujar Assisten Raffa, yang baru saja memasuki ruangan Presdir.
Tampak Andrew baru saja memeriksa beberapa berkas hingga menanda-tanganinya.
Andrew menghentikan sejenak kegiatannya, mendongak menatap sang Assisten. "Kapan?" tanya Andrew
"Sekarang, Tuan."
Andrew menjengit, dahinya berkerut. "Kenapa baru sekarang kau bilang!"
"Maaf, Tuan. beliau mendadak ingin bertemu."
"Hhh ... udah kau persiapkan semuanya?"
"Sudah, Tuan."
Andrew menatap jam di pergelangan tangannya, masih pukul sepuluh dan ia masih ada kesempatan untuk pergi keluar.
"Baiklah." pria itu beranjak bangkit, mengambil jas miliknya yang ia taruh di kursi kebesaran.
Kini kedua orang tersebut telah tiba di sebuah Restoran, tempat mereka bertemu dengan sang Klien tersebut. dari sudut sana, tepatnya di dekat jendela, sosok cantik dengan pakaian formal menggunakan blouse putih tengah menanti keduanya.
"Permisi, Nona." sapa Assisten Raffa
Wanita itu tersentak, tak luput ia pun mengulum senyum manis kepada dua pria tampan ini.
"Hai, silakan duduk!" dengan senyum ceria ia menyambut Andrew dan Raffa
"Bagaimana kabarnya, Tuan Andrew?" tanya wanita itu seraya merapikan rambut panjangnya yang tergerai indah
"Sangat baik, Nona." jawab Andrew, ia hanya memasang wajah dengan datar
"Anda semakin tampan saja." pujinya
Andrew berdeham, perempuan ini terlalu banyak membuang waktu dengan mengajaknya berbasa basi.
"Ehem! baiklah, Nona Jeslyn, terima kasih atas pujiannya."
"Raffa, pesankan minum!" titah Andrew, pria itu menurut dan memanggil salah satu waitress terdekat dari jarak mereka.
Ia pun memesan dua minuman untuk melegakan tenggorokan yang terasa kering
Kedua belah pihak yang saling bekerja sama antar perusahaannya pun mulai memperbincangkan tentang beberapa properti yang akan dikelola.
Wanita yang bernama Jeslyn ini pun ingin menambahkan sahamnya kepada Yudha Group atas salah satu pembangunan selanjutnya yang masih dalam tahap perencanaan.
__ADS_1
"By the way, congrats ya atas pembangunan Rumah Sakitnya." ujar gadis tersebut seraya mengulum senyum
"Terima kasih." ucap Andrew, ia menanda tangani surat kerja sama antar mereka
"Jadi kapan perencanaan pembangunan itu?" tanya perempuan ini
"Belum tau, mungkin beberapa bulan ke depan. masih banyak yang harus dipersiapkan, bukan?" ujar Andrew, menaikkan salah satu alisnya
Perempuan itu mengangguk seraya tersenyum
"Selesai." Andrew menyodorkan kembali berkas tersebut kepada Kliennya.
Andrew menatap jam di pergelangan tangan, hampir pukul setengah 12 dan ia harus kembali ke kantor, sebelum sang istri tercinta menunggunya terlalu lama.
"Ah iya, kalau begitu saya permisi dulu, Nona Jesslyn." Andrew bangkit berdiri sembari merapikan jasnya
"Kenapa buru-buru sekali? mending sekalian makan siang bersama,"
"Nanti saja, Nona, masih ada pekerjaan di Kantor."
Perempuan itu terkulai lesu, menyunggingkan senyum yang terpaksakan.
"Raffa, kamu temani saja Nona Jesslyn, saya harus ke kantor."
"Saya ikut saja, Tuan." Raffa turut bangkit
Perempuan tersebut hanya bisa menatap pria tampan itu dari kejauhan. tubuh yang tegap, tinggi dan rambut yang berwarna sedikit pirang.
"Hhh .... dia terlalu dingin dan datar." gumamnya
"Tapi--menarik juga." ia mengendikkan bahunya dan bergegas merapikan berkas-berkas yang masih sedikit berantakan diatas meja. tiba-tiba ia tertegun menatap sebuah ponsel yang terselip dibawah kertas, perempuan tersebut mengambilnya dan menyalakan ponsel tersebut
"Wow!" ia terperangah, sejurus itu ia menaikkan kedua alisnya
"Wallpaper Andrew dan seorang wanita? siapa dia? romantis sekali," gumamnya, melihat foto Andrew dan sang istri yang sedang berada di sebuah taman
"Bodo amat! mungkin Tuhan memang menuntun aku untuk menemui pria ini lagi."
Ia tersenyum seringai, kemudian beranjak bangkit dengan membawa map dokument tersebut
**
"Sa--yang---"
Chika tertegun melihat seorang wanita cantik yang duduk dihadapan suaminya, perempuan itu melangkah masuk setelah berhenti sejenak diambang pintu, karena melihat pemandangan didepan matanya
Andrew yang sedari tadi hanya memasang wajah datar, dalam sekejap sudut bibir itu tertarik ke atas hingga membentuk sebuah senyuman yang teramat manis.
__ADS_1
Wanita itu semakin dibuat terpesona akan manisnya pria ini
Andrew bangkit dari duduknya, mengitari meja untuk menyambut sang permaisuri yang baru saja tiba di ruangannya.
"Maaf, aku telat, Yang." ujar Chika, sesekali ia menatap wanita cantik itu
"Tidak masalah, yang penting kamu datang, itu sudah membuatku sangat bahagia." Andrew menuntun sang istri ke sofa, seolah ia tidak mempedulikan tamunya
"Hmmm, sepertinya kamu masih sibuk?" Chika mendudukkan tubuhnya, dengan mata yang masih menatap wanita itu
"Ah tidak, dia Klien-ku, Sayang. ponselku tertinggal di Resto dan dia hanya mengantarkan ini," Andrew menunjuk ponsel miliknya
Chika hanya membulatkan mulutnya
"Nona Jesslyn, kenalkan ini istriku, Chika." Andrew memperkenalkan sang istri pada wanita ini
Wanita itu mengulum senyum terpaksa pada wanita muda bertubuh gendut itu.
"Hai, saya Jesslyn."
"Saya Chika, Nona." balas Chika
"Ah, baiklah, kalau begitu saya pamit permisi dulu, Tuan, Nona." pamitnya
Chika hanya mengangguk tersenyum pada wanita asing ini, memerhatikan bentuk tubuhnya yang langsing bak guitar spanyol. sungguh terlihat menggoda, dan--sesuatu yang buruk telah mengkontaminasi pikirannya.
Chika menggeleng cepat, hal itu tidak mungkin akan terjadi.
"Kenapa, Yang?" Andrew memerhatikan raut wajah istrinya, ia mendudukkan tubuhnya di samping Chika
"Tidak,"
"Jangan berpikir macam-macam, dia hanya Klien. dan kesini hanya mengantarkan ponselku yang tertinggal di Resto."
"Benarkah?" Chika menatap wajah itu
Andrew mengangguk, mengambil kedua tangan sang istri dan mengecup punggung tangan mulus itu
"Tidak ada yang bisa menggantikan kamu."
💥💥💥
__ADS_1
Jangan lupa Like, Koment, Vote dan Hadiahnya ya ...19 poin pun jadi 😁