
💥💥💥
"Tuan, minggu depan di Kampus ada acara, dan--aku ingin kolab sama band Fandi. jadi--boleh gak seminggu ini kami latihan malam??" Chika tampak ragu, ia meminta izin pada suaminya yang tengah menikmati makan siang bersama
Andrew menyimak, dan menghentikan sebentar kegiatannya. ia menoleh menatap Chika.
"Tidak!" tegasnya
"Hhh ..." Chika menghembus nafas dengan kasar, ternyata feelingnya benar. namun ia harus berhasil membujuk rayu pria ini
"Plis! boleh yaa? gak setiap hari pun gak apa apa kok," Chika mengatupkan kedua tangannya, bermohon dengan wajah yang memelas
"Makanlah dulu, Chika! gak sopan bicara disaat sedang makan." geram Andrew. dan seketika nyali Chika menciut karna amukan macan.
Mereka kembali menikmati makan siang yang sempat tertunda karena ulah Chika. dalam kegiatannya, Chika memutar otak bagaimana cara mendapatkan izin dari suami sirinya ini.
Walaupun suami siri dan pernikahan hanya karena saling memuaskan, namun Chika masih menghormati pria ini sebagai suaminya dalam hukum agama. ia tetap ingin meminta izin karena ridho Allah adalah ridho suami.
Setelah selesai makan siang, Chika kembali mempertanyakannya pada sang suami.
Andrew memijat batang hidungnya, senbari merebahkan punggung disandaran sofa. melihat itu, Chika langsung bereaksi, mendekatinya dan memijati sepasang pelipis itu.
"Kenapa? pusing? aku pijit yaa,"
"Iya pusing, kamu selalu bertanya hal yang sama." gerutu Andrew
Chika menarik kembali kedua tangannya, mencebikkan bibir menatap pria ini
"Hmm, aku gak nanya lagi. mungkin nanti malam akan ku tagih jawabannya." ucap Chika, ia bergegas memungut kotak bekal yang telah kosong dan kembali memasukinya ke dalam paperbag.
"Aku akan jawab kalau kamu bersedia memuaskanku saat ini." bisik Andrew dengan nada sensual
Chika terpelongo mendengarnya, dan seketika itu ia terhenyak merasakan tubuhnya telah diangkat oleh pria ini dalam gendongannya. membawa Chika ke kamar ruangan tersebut.
Satu jam kemudian, baru saja mereka mengakhiri kegiatan pertempuran di atas ranjang. perempuan ini tampak kelelahan menghadapi kebrutalan lelaki itu. keduanya terdiam dan terhanyut dalam pikiran masing-masing. dada naik turun tengah berusaha untuk mengatur pernafasan yang menggebu-gebu.
Chika menoleh menatap suaminya, mereka saling pandang dalam waktu yang cukup lama. hingga Andrew mendekat dan mengecup bibir itu.
__ADS_1
"Bagaimana?" tanya Chika
"Saya akan setuju asal ada syaratnya." ujar Andrew
Chika menjengit, menyampingkan badannya menghadap Andrew. kepala ia tegakkan dan bertumpu pada telapak tangan,
"Apa itu?" tanyanya
"Tiga kali latihan dan saya harus ikut." tegasnya
"Hmmm, singkat sekali ..." gumam Chika
"Oke baiklah, asalkan kamu tidak mengganggu aku." ucap Chika, menyentuh hidung mancung itu dengan jari telunjuknya. gemas sekali.
"Jarimu itu--nakal yaa!" geram Andrew, pria itu langsung menaiki tubuh Chika. menenggelamkan bibirnya di bibir sang istri, saling melu*at dan menye*ap dengan begitu dalamnya.
Kedua sejoli ini akhirnya kembali terbenam dalam mabuk asmara pecintaan yang tiada akhir. keduanya saling menikmati dan berusaha memberikan yang terbaik untuk pasangannya.
Chika mengerang saat merasakan lehernya tengah dilu*at hingga menimbulkan bekas kepemilikan di kulitnya. Andrew bagaikan macan yang tengah kelaparan, begitu rakusnya menikmati tubuh Chika hingga gadis itu terus melenguh dan mendes*h.
Chika tersenyum-senyum menatap ponselnya, sesekali ia tertawa bagaikan ada yang lucu didalam ponsel itu. Andrew yang memerhatikannya dari kursi kebesaran, tampak mengerutkan dahi. menerka-nerka apa yang membuat sang istri seceria itu pada ponselnya.
Jari jemarinya bergemeletuk diatas meja yang terbuat dari kaca setebal beberapa senti itu, sedangkan jemarinya yang lain memutarkan pulpen, sesekali meggigitnya.
"Apa yang sedang kau tertawakan!" tanya Andrew, Chika mendongak menatap suaminya, masih dengan senyum yang terpatri di bibirnya
"Enggak ada," ia kembali fokus pada ponsel
Andrew menyipitkan sebelah matanya menatap intens wanita ini. ia bangkit berdiri dan berjalan menghampiri nya. Chika masih saja fokus pada ponsel hingga tidak menyadari sang suami telah mendatanginya.
Chika terkesima tatkala ponsel yang ia genggam, telah beralih di genggaman orang lain. gadis itu melongo saat sang suami mulai membaca pesan demi pesan di ponsel miliknya.
"Sayang, kembalikan!!" Chika melompat berusaha meraih ponsel dari tangan sang suami. Andrew yang tinggi, sangat susah untuk dijangkaunya, hingga Chika terpaksa mengambil kursi kebesaran Andrew dan menyeretnya ke pria itu.
Akhirnya aku diizinin sama macan itu, guys
Macan?
__ADS_1
Aku menamainya macan, dia suka menyerangku tiba-tiba dan suka berteriak
Apa?? yang benar saja? wkwkwkwk, ditambah lagi wajahnya yang dingin itu. pas lah..
Ppfffft! kau ini, tapi benar juga. wkwkwkw
Tapi guys, kita cuma bisa latihan tiga kali dan dia pengen ngikut
Apa-apaan itu suamimu, lebay
Taulah kak Fan, suaminya mulai bucin
Wkwkwkwk
Bucin darimananya? dia itu lelaki kesepian, makanya nguntit terus
Astaga! malang sekali suamimu itu
Setelah membaca pesan grup antara Chika, Melani dan Fandi, Andrew menatap tajam sang istri yang mati kutu ditempatnya. Chika hanya bisa gigit jari melihat tatapan sengit itu
"Maaf."
"Hebat kalian yaa, mengghibahi saya, menertawai saya dan menjelekkan saya!" erang Andrew
"Bukan!"
"Akkkh!! mampuslah," gumam Chika
"Lihat saja nanti, Chika, kamu akan dapat balasannya!" ancam pria itu, membuat tubuh Chika meremang, bulu kudunya berdiri bagaikan tengah berada ditempat yang mencekam dan menyeramkan.
Seolah-olah lelaki ini bukan lagi macan, melainkan sudah berubah sosok menjadi *SYAITHON
💥💥💥*
Astaga Chika!! berulah sama Macan yaa jadi lebih menyeramkan 😩
Yuk like, koment, vote, hadiah poinnya yaa 😉🎉
__ADS_1