Selir, Gairah Pria Kesepian

Selir, Gairah Pria Kesepian
Kehilangan Berlian


__ADS_3

💥💥💥


Chika tampak sangat kegirangan saat ia membuka laptop dan mendapati email masuk dari sebuah pihak yang menerima lamarannya. gadis itu berucap syukur, rasa bahagia begitu membuncah didalam sanubarinya.


Chika kemudian menghubungi Melani, ia berharap wanita itu belum tidur kala jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.


Tidak perlu menunggu lama, akhirnya sang sahabat pun mengangkat- panggilan darinya.


**


Matahari pun telah terbit dengan sinar terang benderangnya yang mampu memancarkan salah satu belahan bumi. seluruh umat manusia kembali memulai aktivitas dan kegiatan masing-masing diluar sana.


Burung berkicau saling sahut menyahut di udara, beterbangan kesana kemari mengejar burung lainnya. Andrew terbangun karenanya, mengerjap-ngerjapkan mata dan menoleh ke samping tampak hari yang sudah terang.


Andrew bangkit, membiarkan perempuan di sampingnya tertidur lelap tanpa terusik. Andrew bergegas membersihkan diri untuk kembali memulai aktivitas sehari-harinya.


Andrew terkesima melihat suasana Apartement yang terasa sangat lengang tanpa adanya gemersik suara di bawah sana. Andrew mencoba mendengkus, namun aroma masakan tidak lagi tercium wangi.


"Chika." Andrew memanggilnya sembari menuruni tangga


"Chik!"


Namun tetap kosong, tidak ada sahutan dari seseorang yang ia panggil. Andrew mencari kesetiap sudut Apartement, namun perempuan tersebut masih saja tidak ia temukan.


"Kemana dia?" gumamnya, Andrew mulai risau dan gelisah.


Andrew kembali menaiki tangga, berniat untuk memasuki kamar sang istri. sontak tubuhnya membeku, tatapannya mengarah pada meja belajar milik wanitanya yang telah kosong.


"Chika." ia berdesah, Andrew memasuki kamarnya dengan langkah gontai, mengedarkan pandangan melihat kamar itu sudah tidak ada kehidupan lagi.


Andrew melangkah ke lemari, membuka kedua daun pintunya dan terpelongo tidak mendapati pakaian sang istri.


"Chika, kamu kemana lagi!" Andrew berdesah frustasi, menutup pintu lemari dengan sangat keras hingga menimbulkan suara dentuman.

__ADS_1


Andrew menduduki tubuhnya di sofa, menutup wajahnya dengan kedua tangan kemudian mengusapnya dengan kasar.


"Jangan bilang kalau kau kabur lagi, Chika!!" Andrew mengamuk, ia merasa kehilangan atas perempuan itu. menendang meja hingga sorot matanya melihat secarik kertas yang terjatuh dari benda tersebut.


Andrew bergegas mengambilnya, membuka lipatannya hingga tulisan tangan dengan kalimat demi kalimat yang begitu panjang tertera dalam sebuah tinta hitam.


Maaf kalau aku pergi tanpa pamit terlebih dahulu,


terima kasih sudah memperlakukan ku dengan baik, Tuan macan.


Kini aku harus pergi dari mu karena urusan kita telah selesai walaupun tersisa dua hari lagi.


Tolong ucapkanlah talak untukku, bina hidup baru mu bersama Nyonya Celine, wanita yang kamu cintai.


itu blackcard milikmu telah ku berikan, belum ada serupiah pun yang ku kenakan.


Jangan cari saya, Tuan Andrew


~Chika~


Andrew tidak terima dengan keadaan ini, Wanita yang selalu mengisi hari-harinya dengan penuh warna telah lenyap di telan waktu.


Chika menghilang dari pandangannya, serpihan hati pun juga turut pergi bersamanya. Andrew terduduk lemas di lantai, menyandarkan tubuhnya pada body sofa.


Tatapannya menatap kosong ke depan, tepatnya di pintu. dari sanalah wanitanya pergi meninggalkan kediaman ini. hingga rasa perih ini tidak mampu ditahan oleh hatinya, air mata pun turut berhamburan jatuh sebagai wujud bentuk kehilangan yang benar-benar nyata dirasakannya.


"Anda kenapa, Tuan?" tanya Assisten Raffa, kini keduanya dalam perjalanan ke kantor. kedatangan pria itu yang menjemputnya membuat Andrew sadar bila ia harus bangkit dari keterpurukan.


"Enggak ada," Andrew menatap keluar jendela dengan tatapan kosong


"Bertengkar dengan Nyonya Celine?"


"Tidak."

__ADS_1


Assisten Raffa pun memilih diam saja tanpa melanjuti banyak pertanyaan yang ia lontarkan.


Hingga mobil yang membawa mereka pun telah tiba di depan gedung yang menjulang tinggi, hampir menembus cakrawala.


"Turunlah!! dan urus pekerjaan kantor!" titah Andrew dengan tatapan dingin


"Tapi--anda??"


"Turun cepat!!!" Andrew menaikkan nada suaranya hingga membuat pria itu tersentak kaget. Assisten Raffa bergegas turun dari mobil dan ia terkesima melihat kendaraan itu kembali melaju dengan kecepatan yang tinggi.


"Ada apa dengannya?" Assisten Raffa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Andrew semakin mempercepat laju mobil yang ia bawa, bagaikan seorang pembalap yang tidak mau tahu menahu tentang kendaraan lain di sisinya. Andrew sangat ugal-ugalan, bahkan nyawanya sendiri tidak ia pedulikan.


Hingga ia pun terjebak kemacetan, akal tidak lagi menuntunnya untuk melewati jalan pintas. bagaimana tidak, akal pikirannya telah memenuhi sosok gadis yang memberi hidup pada dirinya. sehingga Andrew terus melaju tak tentu arah dengan pandangannya yang kosong.


"Sial!!" Andrew memukul setir mobil


Hingga setelah cukup lama ia terjebak kemacetan kala pagi itu, pria ini pun telah tiba di depan kampus yang Chika duduki.


Andrew melenggang masuk, melangkah cepat dengan langkahnya yang lebar menuju kelas yang Chika duduki.


Andrew terhenyak tatkala kelas itu sangat sepi


💥💥💥


Semoga Chika tidak dapat kamu temui ya, Bang ... 😢


Ayo rutinitas seperti biasa, like koment vote dan hadiah poin 😉


Btw Alhamdulillah, karya baruku masuk peringkat 3, ini semua berkat kalian semua yang mau berkenan membaca karya recehku yang tulisannya sangat amburadul ini 😁


Terima kasih banyak ya semuanya 🙏 jangan minggat dulu sebelum karya ini tamat, oke??

__ADS_1


Jangan harap tulisanku sebagus tulisan para pemes, aku masih sangat jauh dan kecil 😅


Semoga masih bisa naik lagi rankingnya hingga akhir bulan, Aamiin 😊


__ADS_2