Selir, Gairah Pria Kesepian

Selir, Gairah Pria Kesepian
Extra Part ~3 (Malam Tahun Baru)


__ADS_3

💥💥💥


Tidak terasa sudah menjelang pergantian tahun baru, berhubung anak-anak sudah libur sekolah, Andrew dan keluarga akan bertandang ke kampung halamannya, Madrid, Spanyol. anak-anak begitu antusias, ekspresi gembira mendengar nama Kota itu membuat mereka bersorak riang. Andrew dan Chika juga mengajak tiga baby sitter anak-anaknya, tidak hanya untuk bekerja namun juga sekaligus berliburan, memanjakan mata dengan pemandangan luar biasa Negri tersebut.


"Cus, Fiya dan Fael ikut, nggak?" tanya Giel kepada pengasuhnya sejak lahir, rambut gadis itu tengah ditata dengan model girly yang membuatnya terlihat imut


"Setahu saya, tidak, Nona ... mereka akan pergi ke Malaysia." jawabnya, ia mengetahui info itu dari pengasuh anak Raffa dan Melani


"Kayak tahun dulu ya, Cus?"


"Iya, Non." Pengasuh itu mengangguk


Empat tahun berturut-turut, keluarga itu selalu pergi ke luar negeri untuk merayakan tahun baru yang penuh dengan kepungan kembang api diatas langit. ke Madrid, Maldives bersama keluarga Assistennya, Paris, dan kini ke Madrid lagi, anak-anak begitu rindu dengan keluarganya disana.


Andrew menatap jam dipergelangan tangannya, pukul dua siang mereka harus tiba di Jet pribadi.


"Come on, guys!" teriaknya, pria itu membantu Sopir memasukkan koper kedalam bagasi mobil


"We coming, Dad!" sahut Veer, bocah itu berlarian menuju teras, diikuti oleh Giel dan Za, beserta tiga pengasuh mereka yang salah satunya menggendong Leon. para bocah itu masuk kedalam mobil yang pintunya sudah terbuka sejak tadi.


"Sayang!" teriak Andrew, istrinya terlalu lama sekali


"Maaf, Sayang, sepatu ku disembunyikan mereka." Chika memutar bolanya, sebal kepada tiga bocah nakal tersebut


"Mereka selalu begitu." ledek Andrew, ia terkekeh


Sepasang suami istri itu pun masuk ke dalam mobil, yang didalamnya sudah ada Babysitter Leon dan bayi itu. sedangkan tiga bocah dan dua Suster berada di mobil yang lainnya. kedua mobil itu melesat laju meninggalkan pelataran kediamannya.


Beberapa menit kemudian, mobil yang membawa satu keluarga itu telah tiba di Bandara, Andrew dan rombongannya bergegas turun dari mobil. anak-anak tampak heboh, mereka melompat kegirangan melihat gedung Bandara itu.


"Mana pesawatnya, yaa??" Zagita mendongak ke langit, mencari pesawat yang belum ada di awan


"Nanti, kalau kita udah masuk." ujar Kakaknya, Giel


"Ah iya, ya .. aku lupa." gadis itu menepuk jidatnya


Kini rombongan itu telah berada didalam jet pribadi keluarga Andrew, cukup besar dan luas, anak-anak akan nyaman didalam sana. Pramugari pun mulai melakukan tugasnya, memberi informasi bila pesawat akan take-off dan menuntun mereka semua untuk mengenakan seatbelt pada tubuh. para pengasuh pun memasang alat pengaman tersebut kepada anak asuhnya.


"Jangan nakal, ya ... kita akan terbang." peringat Chika


"Yes, Mama." sahutnya


Pagi hari di Kota Madrid, Spanyol, tepatnya pukul 07.30 waktu setempat, pesawat yang membawa keluarga itu telah mendarat di Bandar Udara Internasional Adolfo Suárez Barajas Madrid. suasana didalam kabin terlihat tenang, anak-anak masih terlelap begitu pula dengan Andrew. sedangkan Chika tengah menyusui Leon dengan ASI-nya.


"Sayang, bangun, sudah sampai." Chika membangunkannya, kembali menutup bajunya tatkala Leon kembali terlelap


"Sus, nggak usah dibangunin, gendong aja, ya ..." ucap Chika, mereka menurut


Mobil yang menjemput keluarga itu pun telah kembali ke perjalanan menuju kediaman keluarga. hanya berselang beberapa menit, mobil yang mengangkut mereka telah tiba didepan gerbang kediaman itu.

__ADS_1


Andrew menyipitkan mata, dari dalam mobil ia dapat melihat seseorang yang mengenakan hoodie, tengah diusir oleh penjaga


"Siapa itu?" tanya Chika


"Enggak tau." Andrew menggelengkan kepalanya


Pria itu keluar dari dalam mobil bersama anak, istri dan pekerjanya, setelah kendaraan itu masuk kedalam pelataran. Andrew yang masih penasaran, membalikkan tubuh menatap seseorang itu. sontak saja ia terbelalak melihat Celine yang enggan pergi dari sana


"Nyonya Celine?" gumam Chika


Ya, Celine, wanita itu diusir oleh penjaga karena ingin bertemu dengan mantan mertuanya, namun tidak diperbolehkan oleh penjaga itu. hingga ia melihat dua mobil akan masuk kedalam pekarangan rumah, ia memperhatikan hingga terpaku melihat mantan suaminya tengah menggendong anak usia satu tahun. dan tatapannya beralih pada Chika, tiga bocah yang sedang berlarian menuju teras istana yang telah disambut Opa dan Omanya.


"Masih ada muka untuk menunjukkan mukamu itu ke orang tuaku?" ketus Andrew yang telah mendekati wanita tersebut, Leon telah berpindah tangan kepada pengasuhnya


"Andrew, kamu kemari?" ia mendekat, menyentuh besi gerbang


"Ya! mau apa kau kemari!" Andrew merangkul pundak istrinya, alih-alih dirinya telah ada yang memiliki


Celine menatap sinis pada mantan madunya. "Kembalilah padaku, aku siap menjadi madunya, seperti statusnya dulu." pintanya, sedikit menyindir. dan itu membuat hati Chika menohok


"Perempuan gila! untuk apa kau jadi simpanan ku kalau kau saja sudah mengkhianati ku lebih dulu."


"Papa! Mama! ayo masuk!!" teriak Giel dan Zagita yang berlarian menghampiri orang tuanya


Tatapan semua orang beralih pada dua bocah cantik itu. "Anak kalian? ada empat?" tanya Celine


"Ck! murahan! pelacur!" hina Celine


"Itu lebih baik karna dalam status halal, tidak seperti dirimu yang bermain bersama banyak pria." balas Chika, ia melepaskan rangkulan suaminya, membawa kedua anaknya untuk menjauh dari wanita itu, ia tidak ingin otak anaknya dikontaminasikan dengan percakapan mereka


"Siapa Tante itu, Ma?" tanya Giel


"Orang jahat, kalau dia datang, jangan dekat-dekat."


Kedua bocah itu mengangguk.


**


Hari-hari waktu dihabiskan untuk berjalan-jalan menikmati suasana Kota dengan mendatangi tempat wisata di Negara ini, kini tibalah malam pergantian tahun baru, Andrew dan keluarga berkumpul di Rooftop yang terletak dipuncak kediaman ini. memang didesign khusus untuk berkumpul dengan keluarga, dihiasi tanaman bunga disekelilingnya, sofa untuk bersantai, hingga meja makan. disudut lainnya pun terdapat pula kolam renang ditepi pembatas.


Semua orang sudah berkumpul, Mami dan Papi, Oma yang masih tampak bugar, Andrew dan keluarga kecilnya, hingga keluarga Robert dan Aisha, tak lupa pula Ibu tiri Chika. sayang sekali, tahun baru kali ini tidak dihadiri oleh orang tua Papi tatkala mereka telah meninggal beberapa bulan yang lalu. sedangkan para pengasuh, Andrew bebaskan untuk menikmati malam kemana pun mereka inginkan, seperti Puerta Del Sol, tempat yang biasanya digunakan untuk merayakan pergantian tahun baru.


Anak-anak tampak gembira sekali, berlarian kesana kemari dengan sepupunya, Arnold, putra pertama dari pasangan Robert dan Aisha. sedangkan Leon, bocah satu tahun itu bermain dengan sepupunya yang berusia delapan bulan, diatas karpet yang disuguhi beberapa mainan.


Asyik berbincang dengan keluarga besar, tiba-tiba mereka dihampiri oleh para bocah itu. "Oma, kapan tahun barunya disini?" tanya Giel yang sudah merasa bosan


"Sebentar lagi, Sayang, kemari lah, duduk dekat Oma." ucap Oma Chaterine, menepuk pahanya, bocah itu menurut


"Lama sekali." rengeknya

__ADS_1


"Ini, makan dulu, biar kamu nggak bosan." Oma memberikan anggur kepada cucunya


"Papa, telepon Kak Fiya, boleh?" sela Zagita yang duduk didekat ayahnya


"Hmmm ... Kak Fiya masih tidur, Sayang."


"Tidur???" bocah itu merasa heran, diangguki oleh Andrew


"Papa bohong! orang malam tahun baru nggak mungkin kakak tidur. mau telpon sekarang!" gerutunya, mencebikkan bibir


"Ah, baiklah-baiklah. Papa harap Kak Fiya udah bangun pagi-pagi gini ya." desis Andrew, ia merogoh ponselnya


"Emangnya disana pagi, Pa?" tanya Veer


"Yes, boy!"


Andrew melakukan panggilan ke nomor sang Assisten. ia yakin pasti pria itu masih terlelap setelah merayakan tahun baru di Malaysia, apalagi menambahkan satu ritual pada malam itu, pasti pria tersebut baru bisa terlelap saat menjelang pagi.


Andrew menghembuskan nafasnya, ia kembali menatap sang putri. "Tidak diangkat Uncle, kan? mereka masih tidur."


"Telpon Cus-nya, Pa ..."


"Papa nggak punya nomornya, Sayang. lebih baik kita main kembang api dulu, masih ada kan?"


"Sudah habis dibuat Arnold!" ia cemberut menatap sepupunya


"Tenang ... Uncle punya simpanannya." Robert mengambil kembang api untuk anak-anak yang ia sembunyikan dibelakang tubuhnya. dia tahu pasti hal ini akan terjadi lagi, putranya memang boros.


"Tadaa!!"


Anak-anak itu berbinar-binar menatap bungkusan kembang api


"Papi, nyimpan?" tanya Arnold


"Tentu saja. masing-masing untuk kalian, satu bungkus. hemat-hematlah, setelah ini tidak ada lagi." Robert memberikannya kepada empat bocah itu, mereka kegirangan sekali dan langsung berlari menuju lilin yang masih menyala


Tepat pukul 00, terdengar bunyi lonceng yang berasal dari salah satu destinasi Kota ini, suaranya terdengar hingga kekediaman keluarga Andrew. dan disaat itu pula kembang api berdentum kuat menghiasi sang Cakrawala.


Anak-anak bersorak ria, inilah yang mereka tunggu sedari tadi.


**


"Anak-anak begitu happy dengan adanya kembang api, kalau aku begitu happy kalau dapat buah apem yang melezatkan." Andrew merebahkan tubuh sang istri diatas ranjang, mengendus ceruk leher sang istri


"Kamu gatal! lebih baik kita tidur, aku mengantuk." lirih Chika


"Tidak untuk kali ini, suasananya sangat mendukung, Sayang. pasti malam ini banyak pasangan yang melakukan penyiraman." Andrew langsung membenamkan bibirnya di belahan ranum yang menggiurkan itu, hingga pergulatan diatas ranjang pun terjadi dengan penuh gairah yang menggebu-gebu, dihiasi suara erotis yang terdengar syahdu oleh sang pemilik indra pendengaran.


💥💥💥

__ADS_1


__ADS_2