Selir, Gairah Pria Kesepian

Selir, Gairah Pria Kesepian
Adik Kembar


__ADS_3

💥💥💥


Chika, Andrew dan kedua orang tuanya baru saja pulang ke Apartement setelah selesai makan siang di Rumah Makan Padang. sesuai keinginan perempuan itu, bila ia ingin sekali melahap masakan Padang saat itu juga. hingga Chika juga merengek ingin membeli lauk pauknya jika saja ia lapar lagi saat di kediamannya.


Chika dan Mami berada di Dapur, untuk menyusun segala barang belanjaannya ke dalam lemari pendingin tersebut. sedangkan Chika, gadis ini tengah mengupas buah dan memotongnya seperti dadu lalu di beri yogurt. entah kenapa akhir-akhir ini ia lebih doyan menikmati salad buah.


"Mami mau salad juga gak?" tanya Chika menawari


"Boleh juga tuh, tapi jangan terlalu banyak ya, Sayang. Mami masih kenyang. hehe,"


"Iya, Mi. Chika buat banyak kok, sekarang Chika lebih doyan makan salad."


"Itu bawaan janinmu, Nak, pilih buah yang baik untuk janinmu,"


Chika mengangguk paham seraya mengulum senyum menatap Mertuanya.


Di ruang kerja, Andrew dan Papi tengah membicarakan tentang pekerjaan, perkembangan perusahaan yang semakin pesat, beberapa bangunan yang tengah di dirikan dan tentang klien baru yang bekerja sama dengannya.


Papi merasa puas dengan hasil kinerja putranya dalam mengembangkan perusahaan ayahnya yang telah berdiri pada masa dahulu. kini semakin pesat dan berjaya berkat sang putra.


Setelah membicarakan hal itu, Papi kembali membahas tentang saham 5% tersebut.


"Papi rasa, saham 5% itu kamu aja yang pegang, Ndrew. dia juga berhak memiliki, bukan?"


"Ya, Pi. nanti ada masanya juga dia butuh kan?"


"Ya, kamu benar. Perempuan itu memang berbeda, Papi aja sempat terpukau." Papi terkekeh


Sedangkan Andrew langsung menatap sang Ayah dengan tatapan tajam,


"Apa Papi bilang??"


"Papi terpukau dengan menantu Papi, yang kayak gitu baru benar! anak baik-baik,"

__ADS_1


"Hmm, awas aja kalau Papi nakal!"


"Jiaah!! cemburu dia, hahahahaha," ledek Papi, sedangkan Andrew menggeleng-gelengkan kepala mendengarnya


"So, kapan kamu bawa istrimu ke istana kalian?"


"Hmm, belum tau, Pi. masih tahap pembangunan."


**


Di sisi lain, Celine mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang sembari mengusap rambutnya yang basah dengan handuk. tangan kanannya mengetik sesuatu di ponsel, raut wajah yang sendu seolah kini hidupnya benar-benar buruk.


Di buang oleh dua lelaki sekaligus.


"Pokoknya aku harus bertemu dengan Victor lagi! apa-apaan dia sudah mutusin aku, bahkan aku rela menduakan Andrew." gumamnya menggerutu


"Hhh ..." Celine membuang ponselnya ke ranjang. ia bergegas ke lemari untuk mengambil pakaian


Kini, perempuan itu telah berada tepat di depan Apartement pria itu. ia harus bersikap tenang, menghirup udara sebanyak-banyaknya, kemudian dibuang dengan pelan.


Tidak berapa lama, pintu pun terbuka dari dalam. dengan tidak sopannya, Celine menerobos masuk ke dalam Apartement tersebut dan menduduki tubuhnya di sofa dengan gaya angkuhnya.


"Celine, ngapain lagi kau kesini!"


"Katakan padaku, apa maksud kau mutusin aku, hah!"


Pria itu menatap sinis, mencondongkan tubuhnya kehadapan Celine lalu meraup kedua pipi wanita ini, "Karna ulahmu yang terlalu bodoh itu, suamimu menarik kembali sahamnya dari perusahaanku!" geramnya


"Kau begitu ceroboh sampai mereka mengetahui tentang kita,"


Celine tertegun mendengarnya, pantasan saja pria ini sungguh kesal padanya. Celine bangkit berdiri menatap pria yang tengah memunggunginya.


"Aku gak nyangka kalau Andrew bakal mematai kita, kamu tau kan? lelaki itu cinta mati padaku,"

__ADS_1


"Kau benar-benar bodoh, Celine! sekarang pergilah," usirnya, menoleh sekilas menatap wanita itu


"Tidak akan!!" Celine menggeleng


"Kita sudah tidak ada hubungan, jadi keluarlah!"


Celine memutar bola matanya, merasa sebal. ia pun melangkah mendekati Victor, lalu memeluk tubuh pria bule itu dari belakang.


"Aku gak akan pergi, Sayang." lirihnya dengan nada sensual, tubuhnya menggeliat di punggung Victor


Membuat pria itu menjengit, namun Celine kembali mengeratkan pelukan mereka.


Tangan kirinya mulai nakal, menelisik setiap jengkal tubuh itu hingga ia menemui barang kesukaannya. Victor berdesah, perempuan ini benar-benar pintar dalam menguasai jiwa lelakinya.


Hingga dirinya sudah tidak tahan, membalikkan tubuhnya menatap Celine dan mulai menghajar wanita itu.


***


"Ohya, Chika, orang tua kamu tinggal dimana? kita belum sempat kan buat berkunjung," tanya Mami, ke empat orang ini tengah menikmati cuaca di sore hari diatas balkon


Chika menoleh menatap suaminya, sungguh ia malas sekali bila membicarakan keluarga tirinya. apalagi Mami mau bertemu, Chika tidak tahu bagaimana keadaan rumah di seberang sana


"Chika punya keluarga tiri, Mi, kira-kira berjarak dua kilo meter dari sini." ujar Chika


"Ohya? orang tua kandung kamu?"


"Hmmm, sudah meninggal, Mi." jawab Chika dengan raut wajah yang sendu, tersenyum kecut menatap mertuanya


Mendengar hal itu membuat Mami merasa bersalah telah bertanya akan hal itu, membuat sang menantu menjadi sedih teringat akan kedua orang tua kandungnya.


"Maafkan Mami, Mami merasa tidak enak." Mami mendekap tubuh Chika


"Tidak masalah, Mi. Mami wajib tau kan? Chika juga punya adik kembar saat dulu, tapi mereka sama-sama memiliki masalah jantung saat baru lahir, usianya hanya bertahan dua hari." Chika mulai terisak saat membayangkan kejadian 14 tahun yang lalu, disaat usianya baru menginjak umur enam tahun dan kehilangan adik kembar yang baru saja lahir ke Dunia.

__ADS_1


💥💥💥


Sabar ya, Chika ... Otor udah ngasih anak kembar untuk kamu sebagai penggantinya kok 😢


__ADS_2