Selir, Gairah Pria Kesepian

Selir, Gairah Pria Kesepian
Hormon Kehamilan


__ADS_3

💥💥💥


Chika bergegas merapikan pakaian serta tatanan rambutnya, setelah percintaan panas terjadi diantara mereka. pria nakal itu benar-benar menyenangkannya hari ini.


Setelah penampilannya kembali rapi, Chika pun berpamitan kepada sang suami untuk kembali bekerja di Hotel tersebut.


"Aku minggat lagi yaa," pamitnya


"Mau kerja lagi?"


Chika mengangguk, sembari menatap jarum di jam tangannya.


"Udah setengah dua, Sayang."


"Nanggung lho, jam tiga juga udah pulang."


Chika menatap kesal padanya, "Aku nggak mau nilai magangku jelek yaa, aku berangkat dulu."


"Hhh ... baiklah, aku antar yaa," Andrew bangkit berdiri


"Hmm, emang kerjaan kamu bisa ditinggalkan?" tanya Chika


"Bisa aja, kan ada Raffa yang menghandle selama aku pergi."


Chika memutar bola matanya, ia lupa bila pria ini orang yang paling berkuasa di Gedung ini.


"Baiklah, Pak Boss."


Chika dan Andrew berjalan dengan langkah bak putri dan pangeran kerajaaan, melewati beberapa pegawai yang berpapasan dengannya, disapa hormat oleh mereka dengan sebuah senyuman hangat menatap Chika.


Kini Chika bisa bernafas lega, pasalnya beberapa minggu yang lalu, Andrew membuat party di Pantai sekaligus menyatakan bila Chika adalah istri sah dan satu-satunya kepada semua orang yanv turut hadir.


Banyak dari mereka yang tercengang, namun tak urung sebuah senyum bahagia turut terukir di bibir setiap pemiliknya.


Sepertinya para pegawai Yudha Group begitu menyukai Chika, dan turut bahagia telah menjadi istri sah satu-satunya Tuan Andrew. apalagi Andrew juga mengumumkan bila ia dan Celine telah bercerai. sontak banyak dari mereka yang bertepuk tangan karena itu.


Chika memasuki mobil setelah kendaraan itu berhenti tepat di hadapannya.

__ADS_1


"Pasang sabuk pengamanmu, Sayang."


"Iya." sahut Chika, segera memasang seatbelt.


Setelah selesai, Andrew langsung menekan pedal gas mobil hingga melaju dengan kecepatan yang sedang, membelah jalanan Ibukota yang tidak terlalu padat kala itu.


***


"Aduh, Chef ... maaf terlalu lama ninggalin kerjaan." Chika, dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Its okey, Chika. kita juga udah selesai kok," ujar Chef tersebut, ia tengah menyajikan ice cream untuk pengunjung restorant.


Melihat ice cream yang memenuhi cup, membuat Chika menelan air salivanya dengan kasar. berada di ruangan khusus pembuatan hidangan penutup ini benar-benar menggoda imannya.


Ia hanya bisa menahan seleranya selama pembuatan adonan tengah berlangsung.


"Kamu selalu ngiler kalau melihat ice cream ya," Chef yang berusia sekitar 40 tahunan itu telah berhasil menangkap raut wajah wanita muda di sampingnya


"Ah, Chef ... enggak kok."


"Saya tau, Chika, apalagi sedang mengandung pasti hormon kehamilanmu meningkat."


"Ini, makanlah." ia memberikan se-cup ice cream rasa cokelat strawberry kepada wanita itu.


Chika terpelongo melihatnya, memangnya boleh kalau pekerja sedikit mencicipi makanan ini? Chika merasa ragu, yang ada dirinya akan tertangkap basah oleh Supervisor yang bertugas memeriksa kegiatan pegawainya.


"Jangan ragu, enggak apa kok."


"Eh? hehe, baiklah." Chika merebut cup tersebut dari tangan pria parubaya ini.


Chika menduduki tubuhnya di kursi sembari menikmati ice cream yang begitu menggugah seleranya. menghayati sensasinya yang begitu lumer di mulut. Chika mengedarkan pandangannya, sebagian orang ada yang bersantai sejenak, ada pula yang masih fokus untuk bekerja.


Hingga tidak terasa, ice cream yang ia lahap pun telah ludes tanpa tersisa. Chika memberengut, perasaan baru saja ia melahapnya.


Makan ice cream memang selalu begitu, terasa kurang dan ingin menambahkan porsinya. namun mau bagaimana lagi, menikmati makanan diruangan ini bukanlah hak nya.


Chika membuang cup tersebut di tong sampah, membersihkan mulutnya dengan tissu yang terletak diatas meja.

__ADS_1


**


"Ciee ... yang punya laki bucin mintaa dianterin makanan sama bininya," ledek Melani kepada Chika, kedua sahabat itu bersamaa anak magang lainnya tengah bersiap-siap untuk pulang


"Is apaan sih? kok bisa tau,"


"Tau dong, orang aku bekerja sama Chef yang nyiapin makanan buat Tuan Andrew,"


"Ohya?? benar benar gila tuh orang." Chika menggeleng-geleng kepala


"Dia sudah bucin samamu, buruan pulang sana! pasti dia udah ngejemput."


"Hhh ... baiklah, bagaimana Ibumu? udah lama nggak nyinggah ke Mess,"


"Sehat kok, kalau kita libur aja baru kamu kesini."


Chika mengangguk paham,


"Baiklah, sepertinya kita harus berpisah. byeee!!" Chika melambaikan tangan pada Melani. ia bergegas berjalan menuju lobi dan keluar melalui pintu utama.


Setiba di luar, Chika mengernyitkan dahinya karena mendapati seseorang yang datang menghampirinya dengan menyebut namanya.


"Nona Chika?"


"Iya,"


"Saya suruhan Tuan Andrew untuk menjemput anda, beliau sedang ada pertemuaan mendadak sore ini."


"Hmmm, benarkah??" Chika memerhatikan orang ini


"Iya, ayo, Nona."


"Ah, maaf kalau gitu, saya mau ke tempat teman dulu boleh?" Chika meminta izin sembari memainkan ponselnya


Pria itu tengah berpikir, "Boleh, Nona." Chika pun mengulum senyum, ia langsung melangkah ke sisi lain untuk bertemu dengan Melani, namun sayang, langkahnya terhenti tatkala sesuatu mendekap mulutnya.


💥💥💥

__ADS_1


Ayo like, koment, vote dan hadiahnya yaa 💃


__ADS_2