
💥💥💥
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali disaat Chika telah terbangun dari tidurnya, perempuan itu langsung bangkit dari brankar tatkala ia teringat akan putranya.
Sang putra yang malang, ia berada di ranjang bayi dengan beberapa alat yang memantau keadaannya. beruntung, Chika lebih leluasa melihatnya yang turut satu kamar dengan sang ibu.
Chika mendekat, tidak mempedulikan suaminya yang masih terlelap.
"Hai, Veer, bagaimana keadaan kamu, Sayang? ini Mama, Mama berdo'a semoga kamu lekas sembuh."
"Badan kamu tidak panas, detak jantung kamu normal, dan pernafasan kamu juga teratur, apa artinya kamu sudah sembuh, Sayang??" Chika tertawa kegirangan
"Oke, baik, Mama panggil dokter untuk memeriksa kamu."
Chika bergegas melangkah menuju pintu, ia ingin sekali bertemu dengan Dokter dan juga Suster untuk memeriksa keadaan putranya.
Setelah Chika keluar dari kamar, tiba-tiba bayi keduanya, Giel, merengek diatas ranjang box. entah kenapa, mungkin saja ia kehausan. hingga tangisan bayi itu membuat Andrew terbangun dari tidurnya, ia tersentak dan bangkit duduk lalu berdiri tanpa mempedulikan jiwanya yang belum terkumpul sepenuhnya.
Oek ... oek ...
"Giel." Andrew merengkuh tubuh mungil itu, menimang-nimang buah cintanya yang menangis kencang.
Oeeek ....
"Cup cup cup! kemana Mama, hm?" Andrew melangkah menuju kamar mandi untuk mencari sang istri, namun hasilnya nihil. Chika tidak berada di dalam sana.
Ia pun menatap pintu masuk yang sedikit terbuka, pria itu bergegas melangkahkan kakinya kesana. namun,hampir saja mencapai pintu, Veer juga turut menangis. mungkin saja ia terganggu dengan tangisan adiknya.
Eeek ....
"Oh ya ampun!" Andrew mengurungkan niatnya, ia menghampiri ranjang bayi tersebut
"Oh, Sayang, anak-anak Papa ... jangan nangis lagi, cup cup!" Andrew menepuk paha bayi tampannya
Hingga suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatian Andrew, ia menghela nafas melihat sang istri telah kembali bersama Dokter yang menangani putra mereka.
__ADS_1
Andrew mundur, memberi ruang untuk Dokter yang akan memeriksa buah hatinya itu. sedangkan Giel, ia berikan kepada sang istri untuk menyusui gadis mungil itu.
"Cup-cup! Giel haus ya? maafkan Mama udah ninggalin Giel, ya ..." ucap Chika sembari mengeluarkan salah satu gunungnya untuk ia berikan pada bayi ini
Andrew dan Chika memerhatikan dengan seksama apa saja yang sedang dilakukan tenaga medis itu. menyentuh alat dan memeriksa apapun termasuk tubuh putranya.
"Bagaimana, Dok? jangan bilang kalau masih belum sembuh!"
"Hei, sabar ... ayo kita duduk dulu." Chika menarik tangan suaminya, membawa pria itu ke sofa untuk menenangkan diri sembari menunggu pemeriksaan itu selesai.
Dan sejurus itu pula, Mami menyelonong masuk bersama dengan Oma tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Mami tertegun melihat Dokter tersebut tengah memeriksa kondisi cucu pertamanya.
"Apa Veer baik-baik saja?" tanya Mami kepada anak dan menantunya
"Sebelum Chika manggil Dokter, Veer udah dalam keadaan normal, Mi. makanya Chika panggil Dokter untuk lebih jelasnya." ujar Chika
"Oh Tuhan, berikanlah yang terbaik untuk cucu ku." Oma menengadahkan tangannya, ia berdoa kepada yang Maha Kuasa
"Aamiin, Ya Allah." sahut semuanya
"Bagaimana anak saya, Dok?" tanya Andrew
Dokter anak itu mengulum senyum termanisnya, "Alhamdulillah, kondisinya sudah sangat baik dan sehat. ia sudah normal seperti bayi yang lainnya."
"Selamat ya, Tuan, Nyonya." Dokter mengulurkan tangannya, Chika menyambut uluran tersebut.
"Terima kasih, Dok. berarti sudah boleh pulang, kan?"
"Sudah, Nyonya. kalau terjadi sesuatu, telpon saja saya yaa."
"Baik."
**
Sepasang suami istri yang baru saja di karuniai dua orang buah hati, kini telah bisa bernafas dengan lega. mereka bersyukur sekali, anak pertama mereka telah berhasil dalam berjuang atas dirinya sendiri.
__ADS_1
Veer yang malang, ia terjangkit fetal distress atau disebut gawat janin yang tergolong ringan. Chika turun dari mobil, mendekap bayi tampannya yang tertidur dengan pulasnya. begitu pula dengan Giel, yang begitu betah di dekapan sang Oma Chaterine.
"Kita sudah pulang ..." seru Mami kepada cucu perempuannya
Chika tersenyum, ia benar-benar bahagia telah memiliki mereka berdua.
Baru saja melangkahkan kaki menuju kediamannya, tiba-tiba suara cempreng anak kecil terdengar menggelegar dari ujung jalan sana.
"Tante!!" ia berteriak sembari berlari
Chika menatap gadis itu, sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman manis terhadap gadis itu.
"Qilla?"
"Tante!" sontak saja ia memeluk Chika dengan manjanya
"Tante baru pulang? mana dedeknya? maaf ya, Qilla nggak bisa jenguk." ucap sendu gadis itu
"Hei, tidak masalah, ayo kita masuk!" ajak Chika, gadis itu menurut dan mensejajari langkahnya dengan perempuan dewasa ini
Kini mereka semua berada di kamar utama milik Tuan rumah, menatap kedua bayi mungil yang masih pulas dalam tidurnya di ranjang box masing-masing.
"Tante, ternyata dedeknya kembar ya?"
Chika mengangguk seraya mengulum senyum, "Ya, apa Qilla suka?" tanya Chika
"Tentu saja, Tante."
Semua orang tersenyum menatap keceriaan gadis berusia tujuh tahun itu.
Hingga perhatian mereka semua teralihkan tatkala ketukan pintu terdengar menggema di ruangan itu.
Tok tok tok!!
💥💥💥
__ADS_1