Selir, Gairah Pria Kesepian

Selir, Gairah Pria Kesepian
Extra Part ~2 (Zoo)


__ADS_3

💥💥💥


"Mama, Angel mau nanya, macan betina itu siapa?" tanya gadis kecil yang baru saja membenamkan tubuhnya diatas kursi, kini posisi sekeluarga itu akan menikmati sarapan pagi.


"Ho'oh, Ma. siapa?" sahut Veer


"Kakak bodoh! itukan Papa." sela Zagita menunjuk sang Papa yang baru saja ingin melahap sandwich di tangannya. mendengar sang putri membawa-bawa namanya dipagi yang ceria ini, mengurungkan niat Andrew untuk menggigit makanan itu.


"Kenapa Papa?"


"Kata Mama, Papa itu macan." ucapnya dengan polos, membuat Chika menepuk jidatnya seketika.


"Astaga, Za ... kenapa kamu berkata seperti itu? emang Mama pernah mengajarkan hal itu, hm?"


"Nggak pernah, cuma Mama suka marah-marah sendiri sambil bilang macan itu selalu menerkamku. haaaaaa!" Zagita yang cerdas langsung memperagakan sosok syaiton yang ingin menakuti manusia, seolah-olah itu adalah Macan bagi gadis 3 tahun itu.


"Oh, ya ampun ... anak siapa ini?" gumam Chika tanpa suara, ia kembali menyuapi baby Leonly dengan menu Mpasi.


"Benar, Yang? kamu mengata-ngataiku didepan anak?" Andrew menginstrupsi


Chika menggeleng cepat. "Bukan, anakmu itu mengada-ngada." elak Chika


"Ih, sudah-sudah! intinya yang kami tanya itu Macan betina, nggak mungkin Papa macan betina, Papa kan laki-laki." lerai Giel


"Hmm, pintar!" Andrew mengacungkan dua jempol kepada putri keduanya


"Oh, berarti Mama dong macan betinanya, dan Papa macan jantannya." seru Zagita


Seketika saja sepasang suami istri itu menepuk jidatnya secara bersamaan. Bibi Sum yang berada diantara keluarga lucu ini, tersenyum tipis mendengar ocehan demi ocehan dari anak majikannya.


"Sudah! sekarang kita sarapan." lerai Chika, mereka semua mengangguk dan mengambil sandwich yang telah dipersiapkan oleh Bibi.


Bibi pamit mengundurkan diri karena tugasnya telah selesai.


"Mama juga makan, aaaak!" Zagita menyodorkan sandwich milik Ibunya, gadis itu memang pengertian sekali, tidak segan-segan menyuapi Mama Chika yang selalu sibuk memberi makan untuk si bungsu.


"Terima kasih sayang." Chika menyambut suapan putrinya, hingga mereka makan bersama-sama tanpa ada yang tertinggal.

__ADS_1


"Habiskan susunya, jangan lupa!" peringat Andrew kepada tiga anaknya


"Iya, Papa macan!" ucap mereka secara serempak, membuat Andrew mendengus kesal sembari menggeleng-gelengkan kepala. tatapanya kemudian menjurus kepada sang istri yang juga meminum susu miliknya.


Awas kamu, Chik, habis nanti! batin Andrew


Setelah sarapan selesai, begitu pula dengan minumannya, sepasang anak kembar itu dengan kompak menuruni kursi. Giel mendekati sang adik, membisikkan sesuatu kepadanya. entah apa yang dikatakan bocah itu, membuat Andrew menyipitkan mata.


"Ayo!" Giel menarik tangan adiknya, yang disambut antusias oleh Za.


Ketiga bocah nakal itu pun berlarian menjauhi meja makan.


"Mau kemana kalian!" teriak Chika, untung saja ketiga anaknya belum menghilang dari pandangan


"Ke rumah Uncle. kata Uncle Raffa, kita semua akan pergi jalan-jalan hari ini!" adu Veer, ia melanjutkan pelariannya.


"Masih pagi, hei!!" lagi-lagi Ibu muda itu berteriak. sungguh merepotkan memiliki empat anak yang berusia jarak dekat itu. apalagi mereka sangat aktif dan selalu membuat kekacauan.


"Tiga saja sungguh merepotkan, besok kamu jangan seperti kakak-kakakmu itu, ya ... jadi anak yang penurut." Chika mengelus kepala putranya, Leonly tertawa, memperlihatkan tiga giginya yang mungil


"Aku ke rumah Raffa dulu, Sayang, menjemput para pengacau." pamit Andrew, Chika mengangguk. ia pun mulai merengkuh tubuh Leon dan menurunkannya di lantai. Ibu muda itu akan menuntun putranya untuk berjalan dengan bantuan satu jarinya. Leon tergelak,.langkahnya semakin cepat seolah ingin berlari saja.


"Hihihihi." bocah itu mendongak, tertawa kepada ibunya


Chika merasa bersyukur sekali dengan keadaannya kini yang memiliki keluarga yang lengkap. kehadiran sang buah hati membuat hari-harinya begitu berarti dan terasa hangat. dari kejauhan ia dapat melihat tiga anaknya yang berada digenggaman sang suami, wajahnya tampak ditekuk, sepertinya Andrew habis memarahi ketiganya.


"Masih pagi sekali tapi kalian sudah mengganggu orang lain." omel Andrew


"Bukan mengganggu, Papa!" sahut Giel


"Apapun itu, ayo kita masuk dan mandi."


"Papa, kata Uncle, kita mau ke Zoo!" girang Zagita bersorak ria, memeluk erat leher sang ayah


"Ohya? seru tuh, makanya sekarang kita mandi, ya ..."


"Siap!" serunya, Zagita memang agak bersahabat dari kakak-kakaknya, gadis itu penurut walau sedikit bandel, tapi tetap mudah untuk dirayu.

__ADS_1


**


Sesuai janji Raffa kepada anak-anak, kini dua keluarga itu tengah berada dalam perjalanan menuju Kebun Binatang yang direkomendasikan oleh putri pertamanya, Shafiya. gadis cantik itu sangat ingin ke tempat wisata sejak jauh-jauh hari. maka dari itu, pria tersebut memberitahukan kepada anak-anak atasannya bila mereka akan pergi ke Kebun Binatang. beruntungnya anak-anak itu bersorak riang, sangat antusias sekali ingin melihat banyaknya jenis binatang yang terdapat disana. Veer sudah membayangkan betapa menyenangkan memberi makanan pada hewan-hewan itu.


Beberapa menit kemudian, mobil yang membawa dua keluarga itu akhirnya tiba di Zoo, tempat para jenis hewan berkumpul dan berinteraksi bersama manusia, yang terpenting itu adalah tempat untuk menjaga hewan langka yang dilindungi. Anak-anak tampak kegirangan, Veergon, Virgiella, Shafiya dan Zagita begitu heboh menatap seekor burung yang sedang diberi makan oleh pengunjung. sedangkan Leonly dan Rafael, anak kedua Raffa dan Melani, berada didekapan orang tuanya.


"Burung! itu burung beo, kan?" tanya Fiya kepada sang Papa


"Yes, Sayang. mau kesana?" anak gadisnya berusia empat tahun itu mengangguk cepat


"Lets go!" ajak pria itu, anak-anak yang begitu heboh langsung berlari menghampiri hewan incarannya.


Burung yang indah dengan bulunya berwarna hijau muda, memiliki ciri khas yang unik yaitu mampu meniru perkataan manusia dengan suaranya yang lantang. Anak-anak sampai terperangah mendengar sapaan burung itu, mengatakan hai kepadanya.


"Waaaah! keren!" seru anak-anak Andrew, kecuali Za dan Fiya


"Baru tau ya, beo bisa bicara. hoooo!" sorak Za


"Is! sudah lama kami tahu ya, Dek, cuma pengen heboh aja. weeeek!" pungkas Giel


"Bohong! bilang aja Kak Giel nggak tau."


"Angel! jangan pernah bilang Giel!" tegasnya, gadis itu benar-benar tidak suka dengan nama panggilannya.


Melihat anak gadisnya yang berantem, membuat Chika dan Andrew menggeleng-gelengkan kepala. anak gadis pertamanya itu benar-benar jaim, sama seperti ayahnya, pikir Chika.


Dari pada mendengar keributan mereka, para emak-emak pun mengambil biji-bijian, yang diketahui adalah makanan burung. Chika dan Melani mengajarkan mereka untuk memberikan makanan kepada beberapa burung beo itu. Mereka sangat euforia dan antusias sekali, tawa renyah terdengar dari mulut mereka. Veer dan Za terlihat geli saat paruh burung itu menyentuh telapak tangan mereka.


Banyak sekali hewan ditempat ini, tidak hanya Burung, namun juga terdapat Jerapah, Rusa, Gajah, Monyet, dan masih banyak lagi tentunya. Liburan hanya dihabiskan untuk menemani anak-anak ini, sekaligus mengajak mereka untuk mengenal nama hewan, makanannya hingga ilmu pengetahuan lainnya yang diajarkan oleh Raffa dan Andrew.


"Hoaaam! Za ngantuk, Pa." anak gadis Andrew yang berusia tiga tahun itu mengeluh kantuk, ia merentangkan kedua tangan seolah ingin digendong. Andrew menyambut putrinya, mendekap tubuh mungil ini dengan penuh kasih sayang. Andrew menatap jam dipergelangan tangan, sedikit kaget melihat waktu yang sudah tengah hari. tidak terasa pula sudah hampir tiga jam mereka disana


"Kita makan siang dulu baru bobok, ya ..."


Zagita mengangguk


Disinilah kedua keluarga itu, menikmati makan siang di sebuah Restoran terdekat. memesan ruang Vip untuk mereka semua agar anak-anak merasa bebas didalam sana tanpa berlarian dikeramaian. pada setiap weekend, keluarga itu tidak memperkerjakan babysitter, pengasuh anak-anaknya diizinkan libur setiap hari sabtu dan minggu. hingga saat itulah anak-anak banyak menghabiskan waktu bersama orang tuanya. walaupun membuatnya kewalahan mengurus empat bocah, namun Andrew dan Chika tetap menikmati perannya sebagai orang tua.

__ADS_1


💥💥💥


__ADS_2