
Pesta resepsi pernikahan Dirga dan Haira telah selesai. Sepasang mempelai itu telah diperkenankan meninggalkan ballroom dan memasuki kamar pengantin mereka di salah satu kamar hotel mewah itu.
Haira sudah melepas gaun pengantinnya dan kini sudah mengenakan gaun tidur berwarna merah muda. Namun Dirga masih berada di bathtub, merendam tubuhnya dengan air hangat.
Saat Haira sedang duduk di meja rias untuk membersihkan riasan wajahnya, pandangannya teralih pada sebuah amplop besar berwarna merah muda yang tergeletak di atas meja rias itu. Rasa penasaran membuatnya meraih amplop itu. Sebuah kartu ucapan terjepit di bagian luar amplop.
'Selamat berbahagia putri kesayangan Papa dan Mama.' Demikianlah isi tulisan di kartu itu.
Haira pun membuka isi amplop. Beberapa lembar kertas ada di dalamnya. Dan betapa terkejutnya Haira setelah melihat bahwa kertas-kertas itu adalah tiket penerbangan ke Bali pergi pulang atas namanya dan Dirga. Selain itu pula ada voucher penginapan di hotel berbintang selama tiga malam.
Haira merasa sangat bahagia. Dia yakin bahwa ini adalah hadiah pernikahan baginya yang diberikan oleh orang tuanya berupa perjalanan bulan madu.
Sembari terus memeluk amplop itu, Haira menunggu Dirga di tempat tidur. Sampai akhirnya Dirga selesai mandi dan kembali berada di kamar itu dengan sudah mengenakan baju kaos dan celana pendek.
"Dir ... lihatlah ini!" seru Haira pada suaminya.
"Apa itu?" tanya Dirga.
"Hadiah pernikahan kita dari mama dan papa. Perjalanan bulan madu ke Bali," sahut Haira.
Dirga terdiam sejenak. Hal inilah yang telah disampaikan oleh Pak Broto padanya tempo hari. Dirga melangkah menuju tempat tidur, membaringkan tubuhnya dan tenggelam dalam selimut. Dia hanya ingin segera tidur. Bukan hanya rasa lelah karena acara tadi, tapi juga karena hatinya begitu lelah dengan semua ini. Juga karena dia begitu merindukan Calya.
Sementara Haira yang memandang suaminya yang tampak kelelahan itu hanya tersenyum. Mungkin malam ini Dirga belum akan menyentuhnya, tapi Haira menyimpan keyakinan bahwa di saat bulan madu nanti, Dirga benar-benar akan menjadikannya seorang istri sepenuhnya.
***
Calya sudah tak berharap banyak dengan telepon genggamnya. Nomor Dirga sudah benar-benar tak bisa dihubunginya.
Calya sedang menatap wajahnya di cermin pagi ini saat suara ketukan pintu terdengar. Calya pun beranjak membuka pintu.
"Pak Praba?" desisnya sembari memperhatikan pria yang datang itu.
__ADS_1
Dua buah kantong plastik menjadi tentengannya.
"Em ... saya baru dari pasar berbelanja. Kalau boleh, saya mau memasak di dapur Bu Dirga. Ya ... sekalian masak buat Bu Dirga juga," gumam Praba.
"Memangnya Pak Praba bisa memasak?" tanya Calya.
"Tentu saja. Tidak percaya?"
Calya berpikir sejenak. "Oke, let's see!" seru Calya kemudian.
Praba pun mengikuti langkah Calya menuju dapur. Setibanya di sana, Praba meletakkan barang bawaannya di meja.
"Memangnya Pak Praba belanja apa saja?" tanya Calya sambil mengambil beberapa wadah dari rak piring.
"Ikan nila, berbagai sayuran, tempe dan tahu," sahut Praba.
Calya pun mendongak untuk melihat barang belanjaan yang sudah dikeluarkan oleh Praba dan sedang ditempatkan ke dalam wadah yang diberikan oleh Calya tadi.
"Terus mau dimasak bagaimana bahan-bahan itu?" tanya Calya lagi.
"Sayur asem, tempe tahu goreng, nila goreng tepung dan sambal terasi," jawab Praba.
Calya tersenyum lalu berkata, "Oke, ayo kita mulai."
Mereka berdua pun mulai menyiangi bahan-bahan masakan itu, mencucinya dan menyiapkan bumbu-bumbu. Karena begitu asyik Praba tak sadar bila tangannya menyentuh alas panci yang berwarna hitam. Saat mengelap peluhnya, warna hitam itu pun berpindah ke wajahnya.
Calya yang melihat wajah Praba tercoreng seperti itu sontak tertawa.
"Apa yang Bu Dirga tertawakan?" tanya Praba.
"Itu," sahut Calya sambil menunjuk wajah Praba.
__ADS_1
"Memangnya wajah saya kenapa?" tanya Praba bingung.
Naasnya, Praba malah mengusap wajahnya lagi yang membuat noda hitam itu semakin bertambah.
"Aduh, jangan dipegang lagi wajahnya, Pak! Coba sini saya bantu," ujar Calya sembari mengambil beberapa lembar tisu dan membasahinya dengan sedikit air.
Sesaat kemudian Calya sudah menyapu tisu itu ke wajah Praba. Praba hanya terdiam mendapat perlakuan itu. Sesaat napasnya seperti tertahan. Sentuhan Calya membuat nuansa berbeda dirasakannya saat ini.
Wajah Calya yang begitu dekat dengannya kini membuat darahnya seketika berdesir. Tatapannya tak berkedip pada wajah Calya yang tampak serius melap noda di wajahnya.
"Nah, sudah," gumam Calya.
Namun Calya seketika tersadar sesuatu saat ada bau menyengat diciumnya. Ternyata ikan yang tadi sedang digorengnya sudah menggosong.
"Aduh, ikannya!" pekik Calya lagi.
Praba pun ikut panik. Bergegas dia mematikan kompor, sedangkan Calya tengah berusaha mengangkat ikan yang sudah berwarna hitam itu.
"Yaahhh! Ikannya gosong deh," gerutu Calya.
"Tidak apa-apa, Bu. Walaupun gosong, kalau dimakan dengan setulus hati pasti tetap enak," celetuk Dirga.
Calya menatap Praba, yang dibalas dengan mengangkat alis oleh Praba. Lalu berakhir dengan decak tawa mereka berdua.
Praba dan Calya kini tengah menikmati makan siang hasil jerih payah mereka. Sayur asem, tahu dan tempe goreng, sambal terasi dan ikan nila goreng gosong.
Duduk berhadapan di meja makan rumah Calya, keduanya tampak menikmatinya dengan lahap.
Praba tertegun sejenak. Ada perasaan tenang di hatinya kini. Setidaknya hari ini dia telah memastikan bahwa Calya mengisi perutnya dengan baik, serta yang terpenting adalah hari ini Calya tertawa.
***
__ADS_1