
Malam ini, Dirga mengajak Calya untuk makan di luar. Dia merasa perlu melakukan itu untuk mencairkan hubungan beku di antara mereka.
Di sebuah rumah makan yang terletak di tepi pantai, mereka kini duduk berhadapan. Semilir angin pantai ditambah dinginnya udara malam menambah mengiringi suasana malam.
Dua porsi makanan dan minuman sudah terhidang di hadapan mereka. Setelah menikmatinya beberapa saat, Dirga pun memulai obrolan.
"Sayang ... kamu percaya kan tentang cobaan dalam rumah tangga?"
Calya mengangkat kepala, memandang wajah suaminya.
"Ya."
"Mungkin kita sedang mengalami hal itu," ucap Dirga.
"Mungkin."
"Cal ... usia pernikahan kita baru dua tahun, tapi cobaan yang menimpa rasanya begitu berat. Mungkin karena Allah memang menganggap kita kuat untuk melalui ini."
"Mungkin ...."
Perlahan Dirga menggenggam punggung tangan Calya. Mengusapnya lembut.
"Bertahan lah. Kita pasti mampu melalui ini," ucap lelaki itu kemudian.
"Bertahan bersamanya?" lirih Calya.
__ADS_1
Dirga mengembuskan napas kasar. "Tak ada pilihan lain. Haira memang akan tetap ada dalam hidup kita."
"Haira dan anak kalian?"
"Cal ... kita pun akan memiliki anak kelak."
"Kamu sangat menginginkannya, Ga?"
Dirga tertegun. Bergumul dalam keheningan.
"Cal ... bila kamu tetap di sisiku, semua akan baik-baik saja."
"Saya sudah memberi keterangan di kantormu, menjamin pernikahan keduamu adalah atas izinku. Karirmu akan baik-baik saja, Ga."
"Bukan. Ini bukan hanya tentang karirku, tapi juga hidupku. Kamu adalah salah satu alasan hidupku."
Dirga menarik napas. "Ayah dan ibu juga menjadi bagian dari napasku."
"Ya, saya tahu. Dan saya juga tahu bila kebahagiaan mereka ada dalam diri Haira sekarang."
"Sayang ... ayo kita membicarakan masa depan kita saja," Dirga melenguh.
"Itu tidak mungkin, Ga. Karena hidup dan ragamu sekarang bukan hanya milikku saja." Calya melirih sayu.
Dirga bergeming. Tak mampu berkata lagi. Bagaimanapun yang dikatakan Calya memang benar adanya. Namun, lelaki itu sangat mencintai wanita yang ada di hadapannya. Ia sangat takut bila akan kehilangan.
__ADS_1
Kembali lagi, penyesalan memang selalu hadir di belakang. Bermain-main dengan masa lalu yang disangka hanya untuk menyenangkan hati sementara waktu, ternyata mengapungkan kenangan dan perasaan yang pernah tenggelam.
Haira menaruh harap akan perhatian Dirga padanya lagi. Hingga pernikahan itu tak dapat dihindarkan. Dan kini, bahtera rumah tangga yang sedang berlayar tengah dipertaruhkan dalam badai ini.
***
Di dalam kamar penginapan, Haira tengah berusaha menghubungi Dirga beberapa kali. Namun, kembali lagi, ia tak memperoleh jawaban.
Nelangsa, Haira merasakan sakit yang teramat. Bahkan usahanya datang dan mengadu ke kantor Dirga pun masih belum membuahkan hasil. Calya masih menang atasnya.
"Argh, kenapa perempuan itu kuat sekali? Kenapa dia tidak mundur saja? Harusnya perempuan mandul itu merasa malu!" Haira melempar barang-barang di sekitarnya ke lantai.
Sesaat kemudian Haira berdiri dari tempat tidur dan berjalan menuju cermin. Memandangi wajahnya di situ.
"Tunggu saja, Calya! Besok, aku akan memberikan kejutan untukmu. Ya, memang, kamu tak akan pernah menyerah, tapi aku akan mengatur agar Dirga sendiri yang menghempaskan dirimu. Bersiap-siaplah perempuan mandul!"
***
Pagi yang dinanti oleh Haira pun telah tiba. Kembali, ia menuju rumah dinas Dirga dan Calya. Mengintip dari balik pagar.
Lamat-lamat, ditatapnya adegan mesra yang ditampilkan Calya pada sang suami. Mengantar hingga ke depan pintu. Merapikan pakaian kerja Dirga dan menggiring kepergiannya dengan senyuman.
"Ini adalah senyuman terakhirmu, perempuan sial!" gumam Haira seorang diri.
Kemudian, setelah kepergian Dirga, Haira mulai melangkah masuk ke pekarangan rumah itu. Hasratnya untuk menuntaskan misi yang telah direncanakan sejak semalam seakan sudah berada di ujung tanduk.
__ADS_1
Hingga setelah tiba di depan pintu, ia pun mengetuknya.
***