
"Istri Bapak baik-baik saja, begitu juga dengan janinnya. Beruntung karena saat terjatuh, tidak terjadi benturan yang bisa menyebabkan trauma pada kandungan istri Bapak. Saya sudah meresepkan beberapa vitamin. Setelah beristirahat, Ibu akan kembali bisa beraktivitas seperti biasa," jawab dokter itu.
"Artinya, sekarang istri saya sudah bisa pulang?"
"Ya, tentu saja."
Setelah menebus resep obat, Dirga pun membawa Haira kembali ke penginapan. Setiba di kamarnya, Dirga kembali menunjukkan sikap manis pada sang istri. Membantunya berbaring di tempat tidur.
"Dir ... kamu nginap di sini ya ...," pinta Haira sambil menyentuh tangan Dirga.
Dirga mengangguk. "Ya, baiklah. Tapi ... saya akan pulang sebentar untuk mengambil pakaian," sahut Dirga.
"Tidak ... jangan ke sana, Dir .... Kumohon. Aku takut bila kamu tak kembali lagi. Dia ... Calya pasti tak akan berhenti melakukan cara untuk memisahkan kita. Sasarannya adalah bayi kita. Aku takut bila kamu tak kembali dan menemaniku di sini, dia akan melakukan hal lain lagi padaku karena merasa telah menang. Tadi saja, dia sengaja memintaku datang ke rumah itu. Dia berbicara dengan lembut seolah-olah tak berniat melakukan apapun padaku."
Dirga terdiam sejenak, memikirkan perkataan Haira.
"Oke ... kalau begitu aku akan membeli pakaian ganti ke toko saja," ucap Dirga.
"Makasih, Sayang ...."
Malam ini, seperti janjinya pada Haira, Dirga menemaninya di penginapan. Sementara itu, dia telah melupakan janji yang dibuat sebelumnya pada Calya. Janji untuk bertahan dan menghadapi ujian ini bersama. Nyatanya, malam ini dia telah meninggalkan wanitanya.
__ADS_1
Berulang kali, Calya berusaha menghubungi nomor telepon Dirga, tapi tak jua ada jawaban.
Calya pun memutuskan untuk pergi ke teras rumah. Menunggu di sana. Masih berharap sang suami akan pulang.
Bagaimana pun, Calya merasa perlu untuk berbicara dengan suaminya itu. Perbuatan Dirga tadi telah merendahkan dirinya. Dirga harus mendapat penjelasan.
Hingga saat suara deru motor yang datang membangkitkan Calya dari duduknya. Melongok ke arah suara itu.
Motor pun berhenti. Seorang pria turun dari tunggangannya. Bukan Dirga, melainkan Praba.
"Bu Dirga? Ngapain malam-malam duduk sendiri di teras?" tanya Praba dari samping motornya.
"Saya nungguin Dirga pulang, Pak," sahut Calya.
"Entahlah," sahut Calya.
Praba melangkah lebih dekat pada Calya.
"Saya pikir dia ada di rumah. Tadi saat di kantor ... dia izin mau pulang. Katanya ada urusan penting."
"Ya, tadi pagi dia memang datang, tapi setelah itu pergi lagi bersama istri keduanya."
__ADS_1
"Maksudnya?"
Pertanyaan Praba justru membuat Calya kembali mengingat kejadian tadi. Hingga tanpa disadari, kaca-kaca di matanya mulai terbentuk. Semakin banyak, sampai akhirnya berlomba untuk mendobraknya. Tertumpah menjadi air mata.
"Bu Dirga? Kenapa menangis?" Praba maju untuk lebih dekat lagi pada Calya.
Calya hanya menggeleng sambil berusaha menyeka air matanya.
"Calya ... katakan, apa yang terjadi?" Raut wajah Praba kini benar-benar menyiratkan kekhawatiran.
Sementara itu, Calya mendongak saat mendengar Praba menyebut namanya. Praba pun seakan tersadar.
"Maaf, maksud saya Bu Dirga."
"Ini masalah rumah tangga saya, Pak. Tak baik bila saya menceritakannya pada Bapak," ujar Calya.
"Bukankah kita juga teman?" timpal Praba.
"Teman?"
"Dengan apa yang terjadi pada kita. Saling membantu dan menguatkan selama ini, apa kamu tak menganggapku sebagai teman?"
__ADS_1
Calya hening sejenak. Menatap lekat jauh ke dalam rongga mata Praba. Sebuah kejujuran dan ketulusan seakan sedang terpancar dari manik coklat lelaki itu. Membuat Calya hanyut dan terbawa masuk ke dalamnya.