Sengketa Hati (CALYA)

Sengketa Hati (CALYA)
Diterima Bekerja


__ADS_3

Misi telah usai, Myesha dan Bagas pun kembali berjalan untuk pulang ke kamar kos


"Tadi siapa, Sha? Kok kamu bisa kenal sama pemilik cafe itu?" tanya Bagas.


"Kamu dengar sendiri kan obrolan saya sama dia tadi?" sahut Myesha.


"He em ... mantan pacar Mbak Calya ya ...."


"Begitu lah," sahut Myesha lagi.


"Ganteng plus sukses," ujar Bagas.


"Namanya juga orang mau berusaha, tapi dia nya yang salah, ngapain juga pergi tanpa bilang-bilang ke Mbak Calya. Padahal kalau waktu itu diomongin baik-baik, Mbak Calya juga pasti mau nunggu kok. Mereka pacaran sejak sama-sama masih kuliah, Mbak Calya itu sayang banget sama Mas Raindra," jelas Myesha.


"Kalau kamu ... sayang ndak sama saya?" tanya Bagas dengan lirikan mata menggoda.


"Idih apaan sih." Myesha menggerutu.


"Ya saya kan tanya. Kalau nanti saya minta waktu untuk kamu menunggu juga, mau ndak?" cecar Bagas lagi.


"Kuliah saja belum kelar, sudah mau aneh-aneh. Sudah ah, ayo cepetan," ucap Myesha.


Bagas pun tak bertanya lagi, hanya mengikuti langkah Myesha untuk berjalan lebih cepat.


Setiba di kamar kos, pasangan muda itu hanya mengobrol biasa. Myesha sudah memberi kode pada Bagas untuk tak memberi tahu Calya tentang pertemuan mereka dengan Raindra.

__ADS_1


***


Pagi ini, Calya kembali memutuskan untuk mencari pekerjaan. Sebuah surat kabar sedang dipegangnya. Sebuah cafe tampak memasang iklan lowongan kerja untuk posisi pramusaji.


Saat Myesha sudah berangkat ke kampus, Calya pun memutuskan untuk segera menuju cafe yang ada dalam iklan itu. Jaraknya sedikit lebih jauh sehingga Calya menggunakan angkutan umum untuk menuju ke sana.


Rainela Cafe. Tepat di depan bangunan bertuliskan plang nama itu, Calya turun. Setelahnya, ia bergegas masuk ke dalamnya.


"Permisi, Mas. Saya mau memasukkan lamaran kerja," ujar Calya pada pria yang berjaga di sana.


"Oh iya, silakan Mbak, langsung saja ke dalam," ujar pria itu sambil mengarahkan tangannya ke arah sebuah ruangan.


Calya pun mengangguk lalu bergegas menuju ruangan yang berada di belakang meja bar itu.


Setelah mengetuk pintu dan mendengar perintah untuk masuk, Calya menuju ke dalam ruangan itu. Tampak seorang wanita duduk di balik mejanya.


"Oh iya, mari silakan duduk," sambut wanita itu.


Calya pun duduk, kemudian menyerahkan map yang dibawanya.


"Saya Calya Janalin," ucap Calya sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman.


"Saya Siska, Manajer Operasional di sini. Saya lihat dulu CV-nya ya," sahut wanita itu lagi.


Sejenak, Siska membuka-buka berkas yang diberikan oleh Calya.

__ADS_1


"Em ... Sarjana Ekonomi?" tanya Siska sambil mengernyitkan dahinya.


"Iya, Bu," sahut Calya sambil mengangguk.


"Kenapa melamar jadi pramusaji?" selidik Siska.


"Saya butuh pekerjaan, Bu."


"Sebelumnya bekerja apa?"


"Saya pernah bekerja di sebuah bank, tapi mengundurkan diri karena menikah."


"Lalu?"


"Sekarang saya berstatus single. Saya sudah bercerai, dan saya butuh pekerjaan untuk melanjutkan hidup," sahut Calya.


"Oh ... maaf," gumam Siska. "Kamu punya anak?" tanyanya lagi.


"Saya sedang mengandung," ujar Calya.


"Hah? Bagaimana bisa ...."


"Anak mantan suami saya. Kami bercerai tanpa mengetahui kehamilan ini."


Calya memang merasa perlu untuk berkata jujur, agar tak menimbulkan masalah ke depannya. Dan ternyata, kejujuran Calya kali ini membawanya pada hasil yang baik.

__ADS_1


"Baiklah, kamu diterima kerja di sini. Mulai besok kamu sudah bisa masuk," ucap Siska.


Calya terkesiap, merasa sangat senang atas hal yang baru didengarnya. Setelah berpamitan, ia pun pergi dengan perasaan lega.


__ADS_2