Sengketa Hati (CALYA)

Sengketa Hati (CALYA)
Sahabat


__ADS_3

Praba dan Bagas sudah menunggu Calya untuk keluar dan menemui mereka di depan cafe itu. Tepat pukul lima sore, yang ditunggu pun muncul.


"Kami antar ke kosan ya, Mbak?" tanya Bagas.


Calya mengangguk. Bagas pun memanggil taksi.


Di dalam taksi, Bagas duduk di depan, sedangkan Calya dan Praba di jok belakang. Sampai beberapa menit kemudian, taksi itu pun membawa mereka ke kamar kos tempat tinggal Calya. Sepanjang perjalanan, Praba terus melirik pada Calya. Ia dapat merasakan bahwa wanita itu terlihat lebih baik sekarang. Ia merasa bersyukur pada takdir yang membawanya pada pertemuan kembali, dalam suasana yang berbeda.


"Silakan duduk, maaf hanya bisa menerima tamu di teras," ujar Calya pada tamunya yang disambut dengan anggukan.


Setelah masuk ke dalam beberapa saat, Calya pun keluar dengan membawa dua gelas teh panas.


"Myesha jam segini masih di tempat kerja, Gas, pulangnya malam," ujar Calya pada Bagas sambil meletakkan gelas-gelas itu di atas meja kecil.


"Iya, Mbak, Bagas tahu," sahut Bagas.


Sesaat kemudian, Calya pun turut duduk di sebuah kursi yang tersisa.


"Bagaimana kabarmu?" Praba memulai obrolan.

__ADS_1


"Baik," sahut Calya.


"Ternyata ... kemarin kamu berangkat ke Yogya ya?"


"Iya, adik saya kuliah di sini. Kamu sendiri ... kenapa bisa berada di sini?" Calya balik bertanya.


"Saya dipindahtugaskan ke sini?"


Mendengar jawaban Praba, Calya terperanjat. Matanya menatap nanar pada lelaki itu. Lelaki yang memiliki status yang sama dengannya, seseorang yang mengalami perpisahan dengan pasangannya. Namun, dalam kasus yang berbeda. Bila Praba dipisahkan oleh maut, Calya harus menerima kenyataan dipisahkan karena adanya orang ketiga. Bukan hanya Haira yang menjadi orang ketiga dalam rumah tangganya, tetapi juga keluarga suaminya.


"Sungguh?" tanya Calya meyakinkan.


"Iya, dua minggu lalu saya menerima surat pemindahan itu. Entahlah, saya juga tak tahu bila kamu akan ke kota ini. Sepertinya ... ini mungkin adalah takdir. Kita bertemu kembali di sini," ujar Praba.


Pertemuan dengan kedua lelaki itu di kota ini seakan menjadi takdir yang yang tak pernah disangka akan terjadi oleh Calya.


"Lalu ... bagaimana kalian bisa saling mengenal?" tanya Calya.


"Saya akan tinggal di rumah keluarga Bagas. Kebetulan, orang tua kami adalah kawan lama," jawab Praba.

__ADS_1


"Kebetulan yang kebetulan ya. Bagas ini juga pacar adik saya, hehe." Calya terkekeh.


"Ya, kebetulan yang luar biasa," sahut Praba yang ikut terkekeh.


Jauh di lubuk hati, pria itu merasa tenang karena telah menemukan kembali wanita itu. Ia merasa perlu untuk kembali mengawasi dan menjaganya. Bagaimanapun, kondisi Calya yang sedang mengandung menyimpan kekhawatiran tersendiri baginya.


Kembali lagi, perasaan yang timbul ini tak dipahami sepenuhnya maknanya oleh lelaki itu. Ia hanya merasa bahwa sosok Calya mengingatkan dirinya pada mendiang sang istri. Lebih dari itu, Praba belum mampu untuk menerjemahkan perasaan yang disimpannya.


"Kapan-kapan, kita bisa jalan-jalan bareng berempat," ujar Praba.


"Ya, kapan-kapan," sahut Calya.


"Double date dong," celetuk Bagas.


Membuat Calya dan Praba saling berpandangan, lalu tertawa.


"Kami adalah sahabat," ujar Calya.


"Sahabat?" tanya Bagas.

__ADS_1


"Ya ... dia adalah sosok sahabat yang baik," sahut Calya sambil menatap nanar pada wajah Praba..


***


__ADS_2